Tampilkan postingan dengan label Kalimantan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan. Tampilkan semua postingan

2013/06/25

Bamboo Rafting di Sungai Amandit, Loksado

Hari terakhir di Loksado, kami melakukan berakit dengan bambu (bamboo rafting) sekitar 2-3 jam menyusuri sungai Amandit. Awalnya rakit bambu digunakan sebagai angkutan hasil kebun masyarakat dayak sekitar sungai. Namun kini, dijadikan wisata menyusuri sungai sambil menikmati keindahan alam pegunungan Meratus.

Rakit bambu terdiri atas 16-20 batang bambu dengan panjang lebih dari 6 meter. Batang-batang bambu disatukan berjajar dan diikat dengan tali. Di tengah rakit tersedia tempat duduk penumpang. Rakit kami dinaiki 4-5 orang termasuk pemandu rakit (joki). Joki berdiri di depan rakit, mengendalikan rakit dengan memegang galah sepanjang 3 meter agar dapat melintasi jeram dan arus sungai dengan selamat. Kadang joki harus melompat ke sungai untuk mengarahkan ujung rakit, agar dapat melewati sela-sela bebatuan.
Terkadang joki harus memperbaiki ikatan bambu dan menjaga agar bambu tidak tercerai-berai.

Uniknya, rakit bambu yang digunakan untuk menyusuri sungai hingga ke hilir, tidak dibawa lagi ke hulu. Bambunya dijual ke warga yang ada di hilir. Kunjungan wisata di kawasan ini ramai pada bulan Agustus hingga akhir tahun.

Bamboo rafting

Bamboo rafting

Istirahat sambil berenang dulu

Bamboo rafting


Selesai rafting, kami melanjutkan perjalanan menuju Banjarmasin sebelum pulang ke Jakarta, dan singgah di Martapura untuk melihat-lihat kerajinan batu-batu alam, permata, hasil kerajinan bambu, kain-kain celup Kalimantan atau disebut juga sasirangan.

Lunch


 

Menjelajah Pegunungan Meratus

Dari Banjarmasin kami melanjutkan perjalanan menuju Loksado. Loksado terletak sekitar 40 km sebelah timur kota Kandangan di pegunungan Meratus. Pegunungan Meratus membelah Kalimantan Selatan menjadi dua, merupakan kawasan berhutan yang bisa dikelompokkan sebagai hutan pegunungan rendah.

Di Loksado kami menginap di salah satu rumah penduduk, persisnya di ruang tamunya ;p
Hari pertama kami mengunjungi perkampungan Dayak di desa Malaris, yang terletak tidak jauh dari Loksado, melewati hutan bambu.

Kami sempat masuk ke Rumah Panjang, yang merupakan rumah adat suku dayak. Di rumah ini beberapa keluarga tinggal bersama. Rumahnya sudah agak rusak, menurut penduduk setempat sedang akan diperbaiki.



Kalimantan Map
Rumah Panjang Suku Dayak


Anak Dayak
3 babi kecil
 
Mencuci di sungai
Di belakang rumah tempat kami tinggal, mengalir sungai yang airnya jernih. Sore-sore kami sempat main di sungai dan mencuci baju setelah perjalanan beberapa hari.

Esok harinya kami menjelajah melintasi hutan dan sungai pegunungan Meratus, sampai ke air terjun Haratai.

 
Jembatan gantung di Meratus

Menyeberang sungai
 
Yoga di air terjun Haratai
 
Kalimantan juga terkenal dengan anggrek hitam (Coelogyne pandurata). Dinamakan anggrek hitam karena memiliki lidah berwarna hitam dengan sedikit garis-garis berwarna hijau dan berbulu. Bunganya cukup harum semerbak dan biasa mekar pada bulan Maret hingga Juni. Sayang pada waktu kami datang, bukan musim berbunga, jadi hanya melihat daunnya saja. Supaya bisa membayangkan rupanya, saya ambil gambar dari internet.

Anggrek hitam





2013/06/24

Pasar Terapung di Banjarmasin

Usai dari Tanjung Puting, kami kembali ke Palangkaraya dan mampir di Banjarmasin sebelum melanjutkan perjalanan ke Loksado. Saat di Banjarmasin, kami sempatkan melihat pasar terapung yang menjadi salah satu andalan wisata kota Banjarmasin.

Pasar terapung di Banjarmasin adalah pasar tradisional dimana para pedagang maupun pembeli menggunakan perahu atau jukung di sungai. Dagangan berupa aneka barang, sayur-mayur, buah-buahan dan makanan. Pasar dimulai dari subuh sampai matahari terbit sekitar pukul 7 pagi. Wisatawan dapat menikmati sarapan di perahu karena ada beberapa warung terapung, menjual makanan dan minuman.

Pasar terapung Muara Kuin yang berada di muara sungai Kuin, sungai Barito, sudah ada sejak tahun 1526, kala Sultan Suriansyah mendirikan kerajaan di tepi sungai Barito. Kerajaan tersebut menjadi cikal bakal kota Banjarmasin. Masih terjadi barter antara pedagang pasar terapung.

Pasar terapung lainnya adalah Lok Baintan di sungai Martapura yang berada di tengah kota Banjarmasin, di sisi jalan Piere Tendean. Dengan menggunakan transportasi sungai dari dermaga pemberangkatan yang terletak di depan mesjid bersejarah Sultan Suriansyah, pasar terapung Lok Baintan dapat di tempuh sekitar 30 menit.

Kami mengunjungi pasar terapung Lok Baintan dengan menggunakan perahu bermotor (klotok), saat lewat di bawah jembatan, ternyata perahu tidak dapat lewat, bapak tukang perahu meminta kami berpindah dari depan ke belakang perahu sehingga perahu jadi lebih rendah hingga akhirnya bisa melewati jembatan ;p


Pasar terapung

warung terapung

Warung tatamba lapar

Warung goyang terapung

Pasar terapung

Jembatan Barito



2013/06/21

Mengunjungi Orangutan di Tanjung Puting (3)

Hari ini kami mengunjugi Pondok Tanggui, salah satu pusat rehabilitasi orangutan di Taman Nasional tanjung Puting. Siang hari kami kembali ke Kumai, lanjut ke Pangkalan Bun dan Palangkaraya. Trip Tanjung Puting selesai. Dari Palangkaraya kami ke Banjarmasin untuk melihat pasar terapung.

Pondok Tanggui
 
Gelantungan

Nangkring di pohon

Mengunjungi Orangutan di Tanjung Puting (2)

Setelah sarapan, klotok menyusuri sungai Sekonyer menuju camp Leaky. Acara hari ini melakukan jungle trekking di sekitar Camp dan mengunjugi Camp Leaky serta tentunya melihat orangutan.

Camp Leakey didirikan pada tahun 1971 oleh Dr Birute Galdikas dan Rod Brindamour. Dinamakan menurut tokoh legendaris paleo-antropologi, Louis Leakey, yang merupakan mentor bagi Dr Galdikas, Dr Jane Goodall dan Dian Fossey.
Camp Leakey telah mendukung upaya penelitian puluhan ilmuwan dan mahasiswa, beberapa pesohor juga pernah mendatangi Camp Leaky, salah satunya Julia Robert pada tahun 1999. Proyek berkisar penelitian tentang orangutan, bekantan, siamang dan perilaku monyet  pemakan daun dan ekologi. Sebagai fasilitas penelitian aktif, Camp Leakey menyambut pengunjung hari dengan pemandu lokal. Pengunjung hanya boleh mengamati orangutan dari jarak yang aman, dan tidak mengganggu para ilmuwan melakukan penelitian.

Oh ya di trip ini saya dapat beberapa teman baru yang sampai sekarang masih berteman baik, meskipun karena kesibukan masing-masing tidak bisa sering bertemu. Setelah trip ini, masih ada beberapa trip yang kami lakukan bersama atau kadang hanya ketemuan ngobrol saja.

Camp Leakey

Please Don't
 
5 sekawan @Tanjung Puting National Park

 


Play with orangutan
Di halaman depan Camp kami bisa bermain-main dengan beberapa orangutan yang sudah terbiasa berinteraksi dengan manusia.

Orangutan di Camp Leaky dibuatka silsilah menurut garis induknya dan diberi nama sesuai dengan huruf pertama ibunya. Misalnya ibunya bernama Princess, anak-anaknya diberi nama dengan awalan P. Prince, Peta, Percy, dan seterusnya.

Orangutan family tree

wild boar

Siamang
Human Vs Orangutan

Jungle trekking
How tall is the tree!

Mengunjungi Orangutan di Tanjung Puting (1)

Tanjung Puting merupakan salah satu lokasi rehabilitasi orangutan (pongo pygmaeus) di Kalimantan, selain Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah dan Samboja Lestari di Kalimantan Timur. Saya berkesempatan untuk ke Tanjung Puting yang merupakan taman nasional,  bergabung dengan trip yang diadakan oleh komunitas backpacker pada Desember 2007.

Tanjung Puting dapat dicapai melalui Pangkalan Bun dengan pesawat dari Jakarta, Semarang dan Surabaya. Kami bersembilan berangkat dari Jakarta dengan pesawat ke Palangkaraya, kemudian dilanjutkan dengan mobil ke Pangkalan Bun, sekitar 9 jam.
Dari Pangkalan Bun menuju Kumai dengan angkutan umum sekitar 20 menit.

Di Kumai kami mulai naik perahu kayu yang disebut klotok, menyusuri sungai Sekonyer menuju hutan Taman Nasional Tanjung Puting. Sungai Sekonyer airnya jernih, namun berwarna merah karena tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar sungai. Selama trip ini, kami tinggal di klotok, bersandar di tepi hutan.

Our boat (klotok)

Tanjung Puting Map
Kami singgah di Camp Tanjung Harapan saat pemberian makan kepada orangutan dan jalan-jalan sekitar desar Tanjung Harapan.

Feeding time

Tanjung Harapan village
Selesai melihat orangutan, klotok melanjutkan perjalanan untuk bersandar dan menyiapkan makan malam oleh awak kapal, masakannya enak sekali ;p apalagi makan sambil menikmati aroma hutan dan suara-suara burung dan sekali-sekali terdengar orang monyet, bekantan, orang utan yang berpindah-pindah dahan. Pengalaman yang tak terlupakan.....

Dibagian belakan klotok dilengkapi dengan bilik untuk mandi dan toilet, lumayan meskipun bagian atasnya tidak ditutup. Namun yang lain memberi privasi jika ada yang menggunakan bilik itu.

Tidur diatas kapal di tepi hutan merupakan pengalaman tersendiri, beberapa tidak bisa tidur, malah berbagi cerita-cerita seram....tapi kelelahan membuat akhirnya bisa juga terlelap.