Tampilkan postingan dengan label Flores. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flores. Tampilkan semua postingan

2013/06/19

Flores Overland Trip - Day 5

Pagi-pagi bangun jam 5 siap ke bandara. Diberi kopi asin ;( mungkin karena gelap salah ambil gula jadi garam. Sesampai di banda sepertinya tidak mungkin dapat tiket karena banyak juga yang go show, waiting list sudah mencapai 11 orang.

Kami putuskan untuk sarapan dulu baru cari tiket di agen perjalanan. Transnusa baru buka jam 9 tapi ternyata tidak ada penerbangan, jadi kami ke Merpati. Tiga dari kami memutuskan untuk terbang ke Kupang dulu baru ke Jakarta. Pesawat jam 4 sore, jadi harus menginap dulu di Kupang baru keesokan harinya lanjut ke Jakarta atau Denpasar.

Kami bertiga memutuskan untuk numpang mobil kembali ke Labuan Bajo. Sebenarnya sewa mobil hanya sampai Maumere saja, namun mobil memang harus kembali ke Labuan Bajo. Kami berhenti hanya untuk makan siang di Ende dan makan malam di perjalanan. Di perjalanan sempat istirahat sebentar untuk meluruskan kaki, kami melihat ibu-ibu di jalan sedang mengambil air.
Mengambil air

Pak Japi, supir kami tidak mau menginap di hotel, jadilah kami istirahat di warung kopi di borong. Pemiliknya orang Bogor tapi istrinya orang Flores, dengan 1 anak laki-laki. Ternyata ini warung sekaligus rumah mereka. Kami diijinkan untuk numpang tidur di situ, lumayanlah untuk meluruskan punggung dan kaki.

Pagi jam 5 bangun untuk melanjutkan perjalanan setelah ngopi dulu. Di perjalanan sempat lewat danau, saya tidak tau namanya. Sempat berhenti di pom bensin yang baru dibuka, numpang mandi, rasanya segar sekali.

Danau apa ya?

Kami dapat tiket Transnusa Labuan Bajo - Denpasar untuk jam 15.30, harga tiket rp.771 ribu, tidak ada pilihan lain kalau mau naik pesawat. Pesawatnya kecil hanya berkapasitas 24 orang dengan durasi 1,5 jam perjalanan. Bandara Komodo di Labuan Bajo, waktu itu sedang direnovasi, bandaranya kecil dimana-mana banyak bambu penyangga bangunan.

Bandara Komodo, Labuan Bajo
Sesampai di Denpasar kami ketemu lagi dengan 2 teman yang terbang lewat Kupang, mereka sedang menunggu penerbangan ke Jakarta. 1 orang lagi ternyata lanjut ke Ubud.
Saya berdua teman memutuskan untuk ke Ubud 2 hari, sedang yang 1 lagi pulang ke Jakarta. Di Ubud ternyata sedang ada upacara ngaben.

Flores Overland Trip - Day 4

Bangun agak bermalas-malasan karena hari ini tidak ada acara khusus, hanya main-main sekitar pantai Wodong yang terletak persis di depan penginapan. Hanya rombongan kami yang menginap di situ, jadi serasa pantai pribadi.

Makan pagi dengan ikan bakar yang baru ditangkap, sambalnya enak sekali. Disajikan juga kopi Flores, rasanya mantap.....

Selesai makan, cuci baju dulu di sumur. Selesai jemur baju, kami tidur-tiduran di bale-bale di pinggir pantai depan penginapan. Nikmatnya liburan....hehehehe.

Agak siang, kami snorkling tidak jauh dari pantai ada terumbu karang, lumayan bagus.
Setelah mandi kami makan siang dengan ikan bakar jenis yang berbeda dari tadi pagi dan sup ikan. Minum air kelapa muda dari kebun setempat.

Kami ngobrol-ngobrol, jalan-jalan di pantai, tidur-tiduran sampai sore, pokoknya hari ini acaranya santaiiiii.

Makan malam kali ini istimewa, dengan nasi yang dibungkus daun kelapa seperti lepet.
Urap sayur daun pepaya, ayam bakar. Enak sekali, mungkin karena mereka membakar ikan dan ayam dengan menggunakan batok kelapa. Ini malam terakhir sebelum kami pulang. Mungkin suatu saat kembali lagi ke sini, siapa tau?

 
Our cottage

Wodong beach
 
Our Dinner

Flores Overland Trip - Day 3

Bangun jam 4 pagi untuk siap-siap berangkat ke Kelimutu, kami naik mobil sampai di tempat parkir. Dilanjutkan mendaki gunung Kelimutu sekitar 40 menit. Kami beruntung karena cuaca hari ini cerah, padahal beberapa hari sebelumnya berkabut dan hujan sehingga tidak dapat melihat pemandangan dengan baik.

Di puncak  gunung terdapat danau kawah dengan 3 warna dan ukuran yang berlainan.
Menurut kepercayaan setempat, arwah orang yang meninggal akan tinggal di Kelimutu. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau, para arwah menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau tergantung dari usia dan perbuatannya. Danau Tiwu Nuamuri Koofai adalah danau untuk arwah orang muda, berwarna biru dengan kedalaman 127 meter. Danau Tiwu Ata Mbupu, untuk arwah orang tua, berwarna coklat dengan kedalaman 67 meter. Danau Ata Polo, untuk arwah orang jahat atau dikutuk, berwarna hitam dengan kedalaman 64 meter.

Warna air danau dapat berubah-ubah, disebabkan oleh minerah yang terkandung di dalamnya. Terdapat tabel perubahan warna danau selama beberapa tahun.
Masyarakat setempat percaya bahwa tempat ini sakral dan keramat. Untuk itu pengunjung harus menghormati dengan tidak merusak dan mengotorinya.

Sunrise @Kelimutu

Danau Kawah Kelimutu

Danau Kawah Kelimutu
 
Di puncak gunung dibuat tempat untuk menikmati pemandangan berupa tangga-tangga. Di sini kita bisa duduk-duduk sambil menikmati kopi, teh yang dijual oleh bapak-bapak. Puas menikmati sunrise dan pemandangan Kelimutu, jam 7.30 kami turun.
 
Di tempat parkir kami sarapan dulu sambil melihat-lihat kain Flores yang dijual. Selesai sarapan kami turun jalan kaki ke penginapan sambil menikmati suasana, masih banyak bunyi burung-burung berkicau. Kami melewati air terjun dan berhenti untuk istirahat. Tidak jauh dari situ ada seorang ibu sedang memandikan kuda. Perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam tidak termasuk istirahat.
 
Tenun Flores
  

Memandikan kuda

Kami langsung makan siang di restoran dekat penginapan, lalu kembali ke penginapan untuk packing menuju Maumere, destinasi terakhir trip ini.
 
Sampai di Maumere sudah sore sekitar jam 4. Kami cari tiket pulang di agen perjalanan ternyata mahal sekali, lalu ke Merpati katanya sudah penuh. Akhirnya diputuskan untuk go show aja lusa nanti, karena kami masih akan menginap di Maumere 2 malam. Pilihan lain naik kapal ke Denpasar atau Surabaya, namun tidak memungkinkan karena kapal sudah berangkat dan baru ada 3 hari lagi. Dengan kapal perlu 48 jam untuk sampai ke Surabaya.
 
Kami makan malam di restoran Bunaken di pelabuhan, ternyata salah satu teman kami ulang tahun, jadi dia yang traktir. lumayannnn.....;D.
 
Selesai makan, kami menuju pantai Wodong, kami menginap di salah satu pondok (cottage) dari bambu tanpa listrik, kalau tidak salah namanya wei Terang. Penerangan menggunakan lampu minyak tanah. Pondok bambu ini berbentuk rumah panggung tapi kecil, di dalamnya hanya berisi tempat tidur untuk 2 orang dengan kelambu. Kamar mandi ada di bagian belakang pondok, jadi harus ke luar dahulu. 
 
Penginapan ini dahulu milik orang Belgia dan merupakan cottage pertama di pantai Wodong, tapi kemudian diserahkan ke keluarga istrinya yang merupakan penduduk lokal. Ada sekitar 10 cottage lainya di sekitar pantai Wodong.

Flores Overland Trip - Day 2

Selesai sarapan banana pancake dan kopi, perjalanan hari ini ke desa adat suku Bena. Sepanjang jalan kami lihat di depan rumah, ada kuburan. Rupanya orang Flores mengubur anggota keluarga di depan rumah.

Ada dua kampung suku Bena, kami ke kampung Loba lebih dahulu di sini hanya tinggal beberapa rumah, sedang di desa Ngada lebih besar. Di tengah kampung ada beberapa kuburan, salah satunya bertahun 1614. Suku Bena hidup dari membuat tenun ikat, bertanam vanili dan kopi.
Kampung Loba

Desa Ngada

Vanili
Anak-anak suku Bena
Menurut adat suku Bena, orang yang meninggal tidak wajar misalnya jatuh dari pohon, digigit ular, dibunuh, tidak bolah di kubur di dalam kampung tapi harus di luar dan harus diupacarakan dengan menyembelih kerbau, sapi atau kuda. Untuk pernikahan, jika disetujui maka seserahan 1 kuda dan 1 sapi. Kalau tidak disetujui harus menyerahkan 9 kuda dan 9 sapi. Suku ini menganut sistem matriakal, laki-laki harus tinggal di rumah istri.

Sempat mampir di pantai batu biru, dimana pantainya banyak batu-batu berwarna biru. Beberapa ibu-ibu mengumpulkan batu di pantai untuk di jual, kebanyakan diekspor ke Eropa. Batu dipisahkan menurut ukurannya.

Pantai Batu Biru

Kami makan siang di RM Handayani yang menjual ayam bakar dan bakso, masakannya enak, yang punya orang Solo.

Kami melewati kota Ende, mampir di tempat bung Karno dulu diasingkan tahun 1933, sayang kami tidak bisa masuk ke rumahnya, tidak ada yang jaga. Hanya sempat memotret patung bung Karno saja.

Patung Bung Karno - Ende

Di Ende kami sempatkan mampir melihat-lihat tenun Flores. Sampai di Moni sekitar 7 malam, kami menginap di Saori Wisata. Moni adalah desa di kaki gunung Kelimutu. Untuk mengejar sunrise di puncak gunung Kelimutu harus berangkat pagi-pagi.


2013/06/18

Flores Overland Trip - Day 1

Trip dimulai dari Labuan Bajo, kami berenam ditambah sopir pak Japi naik Kijang kapsul. Hawa Flores ternyata cukup sejuk, meskipun jika mendekati daerah pantai tetap panas. Jalan darat Flores berkelok-kelok dan naik turun, perlu keahlian untuk menyetir sebab di kiri jurang di kanan tebing atau sebaliknya, jalanan tidak terlalu besar, jika dua mobil berpapasan harus jalan perlahan-lahan.
Sepanjang jalan jarang ada rumah, rumah makan yang ada kebanyakan warung padang dan bakso solo. Rupanya orang Flores tidak terbiasa untuk membuka warung, kebanyakan pendatang. Karena itu makanan lokal susah ditemukan. Harga barang di Flores lebih mahal dibanding di Jawa.


 
Flores overland route

Pemberhentian pertama desa Cancar, tidak jauh dari Ruteng. Di sini kita dapat melihat sawah dengan bentuk sarang laba-laba (spider web). Sawah ini merupakan sawah adat atau disebut juga Lingko oleh penduduk setempat. Sawah ini dimiliki bersama dan dipergunakan secara bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama pula. Pembagian tanah dilakukan dengan titik pusat tanah adat, ditanam kayu khusus, kemudian ditarik garis lurus sampai batas terluar secara berkeliling sehingga membentuk seperti sarang laba-laba. Besar kecilnya tanah ditentukan oleh kedudukan seseorang dalam kampungnya dan jumlah keluarganya. Semakin tinggi kedudukan semakin besar tanah yang didapat.

Spider web rice field
Flores terkenal juga dengan ditemukannya homo floresiensis (manusia flores purba) atau hobbit yang mempunyai tinggi badan sekitar 100 cm dan berat hanya 25 kg. Ditemukan di gua Liang Bua, kecamatan Ruteng. Kami tidak mampir ke sana.

Setelah makan siang di warung padang, lanjut ke Danau Rana Mese, sayangnya kabut tebal hingga tidak bisa lihat apa-apa selain kabut. Seharusnya kita bisa melihat banyak belibis di danau ini.

Dalam perjalanan menuju Bajawa, kami mampir di kampung Aimere, tempat penyulingan arak tradisional dari air buah nira yang disuling menggunakan bambu. Tingkat alkohol sekitar 40-60 %, kami yang tidak biasa minum, cuma mencicipi sedikit saja.

Penyulingan arak tradisional
Hari pertama kami menginap di hotel Korina, Bajawa.


2013/06/17

Lombok - Komodo Sailing Trip - Day 1

Dari Bali melalui Padang Bai, naik feri ke Lombok pukul 23.30 sampai di pelabuhan Lembar, Lombok pukul 4.30 keesokan harinya. Mobil jemputan datang jam 7 pagi, makan pagi di rumah makan ayam Taliwang, khas lombok. Di Mataram bergabung lagi 5 orang sehingga total peserta 13 orang. Jam 11 kami dijemput lagi untuk menuju Bangsal tempat kapal yang akan kita naiki bersandar. Diperjalanan mampir mengambil ransum selama di kapal, ada nanas lombok yang sebesar kepalan laki-laki dewasa, kecil tapi manis, dibawa juga ayam hidul 6 ekor, sayur-sayuran dan lai-lain.

Kapali kita kapal kayu dengan 2 mesin 24 HP, panjang 18 meter lebar 4 meter dengan 1 kapten dan 4 anak buah kapal (ABK). Tempat untuk tidur ada di dek atas dan di bagian depan kapal.

Kapal berlayar sekitar pukul 15.00 menuju gili bola. Makan siang dengan nasi kotak. Makan malam dimasak oleh ABK. Hari pertama menginap di sekitar gili bola.
Saya tidur di dek atas, dekat ayam digantung jadi agak-agak berisik juga. Kasian si ayam mabok laut ;p.

Our Boat

Dinner time
 

2013/06/13

Itinerary Saling Trip Lombok - Komodo

Traveling murah bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, bisa pergi sendiri dengan merencanakan perjalanan sendiri atau bergabung dengan milis komunitas trus kirim email cari teman seperjalanan, biasanya ada saja yang merespon.
Cara lain kalau tidak mau pusing, dapat bergabung dengan trip yang diadakan oleh komunitas backpacker yang ada EO-nya, jadi tinggal bayar,datang dan ikutin acaranya. Tapi jadi gak tau detail perincian biaya dan penyelenggaraannya, seperti misalnya kontak untuk transport dan akomodasi.

Sailing trip Lombok - Komodo merupakan trip pertama saya dengan bergabung dengan komunitas (Agustus 2007). Tidak ada satupun yang saya kenal sebelumnya. Tentunya selama trip pasti kenal dengan lainnya. Trip ini berlangsung 4 hari 3 malam dengan meeting point di Mataram, Lombok. Dengan peserta trip yang berangkat dari Jakarta, kami bertemu di bandara Sukarno Hata (SHIA). Ada yang bergabung di Bali dan Mataram, Lombok.

Itinerary-nya begini:
  1. Dari Jakarta naik pesawat ke Denpasar, Bali
  2. Denpasar menuju Padang Bay untuk naik feri ke pelabuhan Lembar, Lombok. Sampai di Lembar sekitar jam 4.30 subuh.
  3. D-1 Lembar menuju Mataram untuk ketemu peserta lain. Dari Mataram naik angkutan umum yang disewa menuju labuhan lombok, dimana kapal berlabuh dan sailing trip dimulai. Labuhan Lombok berlayar menuju Gili Bola dan menginap di kapal selama trip.
  4. D2 - Gili Bola - Pulau Moyo - Satonda
  5. D3 - Satonda - Gili Laba - Pink Beach - Pulau Komodo - Pulau Kalong
  6. D4 - Pulau Kalong - Pulau Rinca - Pulau Kelor - Labuan Bajo, Flores.
Trip route

Our boat