2019/11/14

Trip Korea Oktober 2019 – Seoul Day 2 (Garden of Morning Calm, Petite France dan Nami Island)

Hari ini destinasi kami adalah Garden of Morning Calm, Petite France dan Nami Island, letak ketiganya berdekatan. Sebenarnya kami dapat jatah sarapan dari hostel, tapi sarapan baru tersedia jam 8. Kami berangkat jam 7.30, setelah ngopi yang kami bawa dari Jakarta, tentunya lebih enak dibanding yg kemarin kami beli di stasiun dan makan kue mochi kami beli kemarin. Dalam perjalanan menuju stasiun Jongno3-ga, mampir di CU mini market. Saya membeli onigiri (₩ 900), teman saya membeli pisang untuk dibawa.

Dari stasiun Jongno3-ga kami naik line 1 menuju Stasiun Gapyeong, transit di Cheongnyangni (6 stop) lalu transit ke line Gyuongchun (G), tapi kami salah naik kereta Gyeongul Jungang Line (GJ), keduanya sama-sama warna hijau hanya beda G warna hijaunya lebih tua. Saya baru sadar kalau kami salah kereta setelah jauh sekali, sekitar 45 menit perjalanan. Kami turun dan kembali ke stasiun transit Mangu, lalu ganti kereta ke Gapyeong. Hadeuh.....1,5 jam waktu terbuang. 

Ketiga destinasi tujuan kami dapat dicapai dengan naik bus Gapyeong city tour dengan harga tiket untuk 1 hari ₩ 6.000. kita bisa membayar tunai langsung ke sopir bus atau pakai T-Money. Keluar dari stasiun Gapyeong, kami langsung naik ke bus warna merah di depan stasiun yang siap berangkat (10.50). Saya memilih rute terjauh dahulu baru dari Garden of Morning Calm (GMC), Petite France lalu Nami Island. Saya mengambil brosur yang memuat jadwal bus, untuk mengatur berapa lama kami berada di masing-masing destinasi, agar tidak tertinggal bus terkahir kembali ke stasiun Gapyeong (jam 19.15 dari Nami Island).

Gapyeon City Bus

Perjalanan menuju GMC memakan waktu 1 jam 15 menit. Sebagian besar penumpang turun di Nami Island yang hanya 5 menit telah sampai. Sepanjang perjalanan menuju GMC, jalan berkelok-kelok, naik turun dan sempit hanya muat 2 mobil untuk 2 arah. Sudah jam 12 siang saat kami sampai di GMC. Perut lapar, kami mampir membeli Tteokbokki (kue beras dengan kuah pedas), harganya ₩ 3.000 untuk 1 cup, isinya cukup membuat kenyang, teman saya juga membeli sate cumi bakar. Kami makan sambil keliling GMC, tiketnya seharga ₩ 9.500.

Garden of Morning Calm
Garden of Morning Calm adalah kebun milik pribadi, mulai dibuka 11 Mei 1996. jam operasional 8.30 sampai sunset. Namanya diambil dari judul puisi sastrawan India, Rabindranath Tagore, The Land of Morning Calm. Taman dibagi menjadi beberapa area tematik seperti bonsai garden, rock garden, korean garden, pond garden, road to heaven, wild flower garden, herb garden dan lain-lain. Inginnya kami melihat daun-daun sudah berubah warna merag, orange, kuning, tapi rupanya masih belum banyak yang berubah warna. Beruntung kami ketemu 1 pohon cantik yang sudah berubah merah kuning daunnya. Kami menikmati jalan-jalan kami sambil makan dan sesekali berhenti mengambil foto. Tentunya GMC juga menjadi lokasi shooting beberapa drakor, seperti love in the moonlight, a love to kill, dll. Belakangan saya baru tahu untuk menuju ke GMC lebih dekat jika naik busnya dari stasiun Cheingpyeong, 2 stasiun sebelum Gapyeong jika dari arah Seoul.


Beberapa menit sebelum pukul 14.00 kami sudah siap di tempat parkir bus, untuk menuju Petite France, perjalanan sekitar 50 menit. Petite France adalah taman dengan tema Perancis utamanya little prince (tahu kan judul buku anak-anak terkenal). Bangunan-bangunan, pernak-pernik perancis ada di sini. Banyak spot foto cantik ada di sini, seperti traditional french house, european doll house, maison de Marie & Jean, saint exupery memorial hall, mini Eiffel dan lainnya. Tamannya tidak terlalu besar, kecuali jika punya waktu cukup lama ada jalur dengan nama Bonjour Walkway untuk dijelajahi. Beberapa drakor juga mengambil lokasi shooting di sini, my love from the star, secret garden, dll. Jam operasional Petite France mulai jam 9 sampai 18.00 dengan tiket ₩ 10.000. Kami hanya 1 jam disini untuk mengejar bus jam 15.50 menuju Nami Island. 



Perjalanan ke Nami Island memakan waktu 25 menit. Dari halte bus menuju loket cukup jauh, ikuti saja jalur untuk pejalan kaki. Tiket seharga ₩ 13.000, termasuk tiket ferry. Jadwal ferry mulai 7.30 – 9.00 setiap 30 menit, jam 9.00 – 18.00 setiap 10-20 menit, sedangkan jam 18.00 – 21.40 tiap 30 menit. Pilihan selain naik ferry, jika punya nyali dan uang lebih adalah naik zip-wire dengan harga ₩ 44.000. Seperti diketahui Nami Island adalah lokasi shooting drakor Winter Sonata yang fenomenal. Nama Nami berasal dari nama Jendral Nami yang meninggal dalam usia 26 tahun. Berada di 63 km dari Seoul, di tengah sungai Han, di danau Cheongpyeong. Nami Island mendapat predikat taman ramah anak dari UNICEF. 

Menjelajahi Nami Island, ikuti saja poros tengah pulau, maka tidak akan terlewatkan spot-spot yang bisa kita nikmati. Jangan lewatkan Ginkgo tree lane, metasequoia lane dan patung winter sonata, juga kantor pos nami. 




Jam 18.30 kami sudah berada di dermaga, takut tertinggal bus terakhir. Tak lama kemudian ferry datang. Dalam dingin kami menunggu bus terakhir di halte sekitar 30 menit. Kami kembali naik kereta, rupanya kereta Gapyeong bukan dalam jalur subway, jadi di stasiun Mangu kita harus pindah ke jalur subway untuk kembali ke Seoul. Karena hari sudah malam dan jalur ini merupakan jalur luar kota Seoul, waktu tunggu kereta cukup lama. Kami menunggu dalam kondisi kedinginan dan lelah. Kami baru dapat kereta sekitar jam 20.00 dan sampai di penginapan jam 22.00, transit di Mangu dan Cheongnyangni.
Demikian hari kedua di Seoul berakhir. 2 lokasi cantik lainnya yang bisa dikunjungi di area ini adalah Edelweiss Swiss Theme Park dan Jade Garden. Tentunya tidak bisa dikunjungi semua sekaligus dalam hari yang sama. 

2019/11/08

Trip Korea Oktober 2019 – Seoul Day 1

Saya berangkat ke Bandara Sukarno Hatta menggunakan KA Bandara yg kebetulan sekali sedang ada promo dengan peresmian Stasiun Manggarai sebagai salah satu stasiun KA Bandara, harga promo Rp.40 ribu saja. Saya berangkat dari Stasiun Sudirman Baru, dg harga promo Rp.40 ribu juga. KA sepi untuk keberangkatan siang itu.


Kami naik Air Asia transit di KL dan sampai di Incheon, Seoul esok harinya hampir pukul 9 pagi setempat. Antrian imigrasi cukup panjang. Kita diambil foto wajah & sidik 2 jari kiri kanan, yang nantinya menjadi verifikasi saat kita keluar dari Korsel.

Keluar dari imigrasi, tak menunggu lama bagasi teman saya sudah bisa diambil. Seperti biasa saya tidak membeli bagasi, hanya koper kabin saja

Di convenience store loby bandara, kami membeli T-Money yaitu kartu prepaid untuk transportasi selama trip kami di Korsel. Kartu dijual seharga ₩ 4.000, lalu kami top-up ₩20.000. Top-up dapat dilakukan di semua convenience store atau mesin di stasiun subway. Ternyata sebelum gate KA bandara tersedia beberapa mesin penjual kartu T-Money dengan harga yang sama.

Dari Incheon Airport ada 2 jenis KA, express & yg berhenti di tiap stasiun, tentunya dengan harga & kecepatan yg berbeda. Kami memilih naik Airport All Stop Train di Incheon untuk menuju ke penginapan. KA bandara berakhir di Seoul Station, dari situ kami transit Subway line 1 menuju stasiun Jongno3-ga (3 stop), stasiun terdekat ke penginapan kami, Hostel Chloe Jongno, hanya 10 menit jalan kaki. Penginapan ada di lantai 3 & 4 dengan lift barang saja. 

Check in ke kamar baru bisa jam 15.00, tapi kami boleh nitip koper dahulu. Setelah menyelesaikan pembayaran, numpang ke toilet dan mengisi air minum, kami pamit jalan-jalan dulu.

Tujuan kami hari ini: Ihwa Village – Naksan Trail – Dongdaemun Area – Cheonggyecheon Stream. Kami naik subway dari stasiun Jongno3-ga, line 1 transit di Dongdaemun (2 stop), ganti line 4 turun 1 stop di stasiun Hyehwa keluar exit 2. Sebelum keluar stasiun kami membeli kopi ₩ 1.500, gak enak sama sekali. 

Ternyata ada Car Free Day (CFD) juga di Seoul, sepanjang jalan banyak orang dan anak-anak berolah raga, bermain, bahkan ada yg menggelar meja tenis. Kami jalan & melihat banyak orang berkerumun di taman (Marrronnier Park). Ada yang menjual buah, sayur, produk buatan sendiri dari selai, madu, salad dressing, roti handmade, kopi dan lain-lain. Ada juga area panggung musik, saat itu lagu jazz yg sedang dinyanyikan. Orang-orang duduk sambil mengudap, menikmati sajian musik. Di sisi lain ada area bermain anak-anak dengan orang tua yg mengawasi dari pinggir. Minggu yang santai, sangat menyenangkan.

Marronnier Park, Seoul
Kamipun tertarik dengan stand yang menyajikan sandwitch isi sayuran, jamur yang dimasak dengan keju mozarella, setelah sebelumnya memastikan tidak diisi dengan daging. Beruntung orang di depan kami yg sedang antri bisa menerjemahkan pertanyaan kami. Rotinya sepertinya buatan sendiri, lembut sekali dan mengandung kacang merah, tidak biasa. Sayuran juga terasa segar, seperti baru dipetik. Kami membeli 1 saja, dibagi 2 karena cukup besar. Harga ₩ 9.000. 

Mushroom & cheese sandwitch
Sambil makan kami jalan kaki menuju ke Ihwa Village, setelah menghidupkan sim card roaming yg kami beli dari Jakarta, ternyata berfungsi dengan baik. Ihwa Village adalah area penuh mural pada dinding bangunan sepanjang jalan, dan menjadi destinasi wisata serta spot foto. Selain mural, lukisan, ada juga patung atau instalasi dari besi. Kami berpapasan dengan beberapa rombongan tur, dengan jalan naik turun yang cukup menguras tenaga. 

Ihwa village - Naksan trail
Selesai keliling dan foto2 di Ihwa Village, tujuan berikutnya ke Heunginjimun Gate, salah satu pintu gerbang pada Seoul Wall yaitu gerbang timur (Dongdaemun) yang dibangun pada tahun ke-6 masa pemerintahan Kaisar Gojong 1869). Seoul memang dikelilingi dengan tembok pertahanan pada jaman dahulu, saat ini masih ada yang berdiri dari hasil restorasi. Dalam perjalanan menuju gerbang, kami melewati Sung Kyun Kwan University (SKKU), universitas sejak jaman Joseon (1398), kalau pernah nonton drama Korea (drakor) pasti paham. Sayangnya bangunan sudah berubah modern, tahun 1950 terjadi kebakaran dan setelah itu beberapa pembangunan dilakukan. Berikutnya kami lewat City Wall Museum (museum.seoul.kr). kami hanya berfoto di depannya saja. Seoul City Wall dibangun pada 1396, dan telah melindungi Seoul selama 600 tahun. Melanjutkan perjalanan, akhirnya kami akhirnya sampai ke gerbang Heunginjimun. Agak susah mengambil foto depan gerbang, karena pas di pinggir jalan raya, area yang lapang malah di belakang gerbang yang tertutup dengan tembok.

SKKU - Seoul City Wall - Heunginjimun gate
Kami menyeberang lewat jalan bawah tanah menuju gedung Migliore, sebelah Doota Mall dan bersebrangan dengan Dongdaemun Design Plaza (DDP). Kami memutuskan mampir ke food court-nya untuk makan dulu. Keliling food court, kami melihat porsi makanannya sangat besar untuk ukuran kami. Akhirnya memutuskan membeli paket ikan bakar, 1 porsi untuk berdua ₩ 9.500. 


Selesai makan, kami keluar masuk shoping mall di Dongdaemun, selain melihat2 yang dijual di sepanjang jalan. Kami menemukan toko suvenir yang ternyata penjualnya orang Indonesia juga.

DDP merupakan bangunan dengan design unik bulat, karena lebar maka agak susah untuk difoto dari dekat. Kalaupun difoto dari seberang jalan, akan terganggu banyaknya mobil bersliweran. Jadi dinikmati saja karya arsitektur Zaha Hadid. 


Hari sudah sore dan mulai dingin, lelah berjalan, sebelum pulang kami menelusuri Cheonggyecheon stream, icon kota Seoul sebelum balik ke penginapan. Panjangnya 10,84 km dari Gwanghwamun gate sampai Dongdaemun. Kami turun ke pinggir sungai, mulai ramai orang duduk-duduk di pinggir sungai. Dari yang saya baca, beberapa bagian Cheonggyecheon stream yang menarik antara lain wall of hope (dinding yang disediakan untuk warga menuliskan harapannya), wall of proposal (layar yang disediakan untuk melamar), Seoul latern festival digelar di sini selama 2 minggu pada bulan November. Sayang kami tidak tinggal sampai malam, untuk melihat lampu-lampu cantik.


Sampai di penginapan koper-koper kami sudah ada di kamar lantai 4. Kamarnya kecil tapi cukup lengkap fasilitasnya dan bersih. Ada dapur lengkap dengan peralatannya di lantai kami, yang bisa kita pakai. Berakhirlah hari pertama kami di Seoul. Istirahat dulu ya...... 



2019/10/28

Persiapan & Itinerary Trip Korea Oktober 2019

Setelah mendapat visa, saya baru melakukan persiapan trip lebih lanjut:
  • Menentukan rute kota dari Jakarta – Seoul – Busan – Jeju – Jakarta.
  • Booking penginapan seperti biasa melalui booking.com. Trip kali ini saya berdua dengan teman SMA, yang belum pernah backpacking, jadi kami memutuskan booking kamar untuk berdua bukan dormitory.
  • Booking transportasi antar kota, dari Seoul ke Busan ada 3 alternatif yaitu dengan KTX (kereta cepat) yang harganya 53.00 won sekali jalan, bus dengan durasi perjalanan sekitar 3 – 4 jam harga sekitar 34.000 won atau naik pesawat dengan durasi 1 jam saja. Kebetulan saat saya bandingkan antara bus dan pesawat hanya beda sedikit sehingga saya putuskan untuk naik pesawat saja. Dari Busan ke Jeju kami juga naik Jeju Air. Pembelian tiket Jeju Air di website Jeju Air tidak menerima kartu kredit/debit di luar Korea, akhirnya saya membeli dari Tiket.com.
  • Biasanya trip luar negeri saya hanya mengandalkan wifi penginapan saja, tapi dengan begitu saya perlu membuat itinerary yang sangat detail sebelum berangkat. Kali ini saya tidak punya waktu banyak untuk browsing, jadi saya putuskan untuk membeli paket data internet yang bisa digunakan di Korea tanpa menggunakan data roaming nomor Indonesia. Saya membeli sim card untuk Korea di salah satu aplikasi shopping online. Untuk paket data unlimited 10 hari di Korea seharga Rp.140 ribu. 
 
Sim Card
  • Sehubungan dengan google map tidak bisa digunakan di Korea, maka saya install aplikasi Naver Map yang nantinya akan sangat membantu perjalanan kami dengan naik transportasi umum maupun jalan kaki.
  • Membeli tiket KA Bandara Soetta yang sedang promo sehubungan pembukaan stasiun Manggarai untuk KA Bandara Rp.40.000,-


Berikut itinerary trip Korea kami yang mengalami perubahan dari rencana karena faktor cuaca ataupun kondisi kami.
Day 1 – Jakarta – Kuala Lumpur dengan Air Asia.
Day 2 – Kuala Lumpur – Seoul Incheon dengan Air Asia.
            Menuju penginapan Hostel Chloe Jongno, kami menginap 3 malam selama di                      Seoul.
            Marrronnier Park – Ihwa Village – Naksan Park – Dongdaemun Area –    
            Cheonggyecheon Stream.
Day 3 – Garden of Morning Calm – Petite France – Nami Island
Day 4 – Gwanghwamun Square
            National Palace Museum of Korea
            National Folk Museum of Korea
            The Presidency House (Cheongwadae)
            Gyeongbokgung Palace yg ternyata tutup hari selasa
            National Museum of Korea Contemporary History
            Changdeokgung Palace
            Changgyeonggung Palace
  Bukchon Hanok Village
Day 5 –  Masjid Central Seoul di Itaewon
            Namsan Park
            Namsan Seoul Tower
  Myeongdong street
            Namdaemun market        
            Seoul Gimpo Airport – Busan dengan Jeju Air
            Menginap di Kimchee Haeundae Guesthouse Busan selama 3 malam
Day 6 - Gamcheon Culture Village
            Huinnyoul Munhwa Maul (White Ford Cultural Village)
            Jagalchi Fish Market
            Busan International Film Festival Square
Day 7 - Yonggung-sa (kuil Budha di tebing atas laut dengan lambang swastika)
            Hujan seharian membatalkan rencana ke Taejongdae park.
Day 8 - Yongdusan Park – Busan Tower
            Busan Gimhae Airport – Jeju dengan Jeju Air
            Menginap di Orasung Motel selama 2 malam
Day 9 -  Jeongbang Falls
            Cheonjiyeon Falls
            Dongmun Market
Day 10 – Halla Arboretum
             Jeju – Kuala Lumpur – Jakarta

Silahkan ikut catatan perjalanan per hari pada tulisan berikutnya.

2019/10/02

Apply Visa Korea Selatan September 2019

Tahun ini saya ingin merasakan autumn di Korea, kebetulan Air Asia baru membuka penerbangan KL-Jeju dan ada promo. Saya beli tiket di bulan April’19. Kali ini saya pergi berdua saja.

Seperti diketahui pemegang paspor Indonesia masih harus mengajukan Visa untuk mengunjungi negeri ginseng. Apply Visa Korea sejak 2 Mei 2019 sudah dipindahkan ke Korea Visa Application Center (KVAC).

KVAC berada di Lotte Shopping Avenue Ciputra World 1 Unit 5F-05A Lantai 5, Jalan Prof.DR.Satrio No.3-5, Jakarta Selatan. TEL. 021-3950-4000 | 
E-mail : info@visaforkorea-in.com
Jam Operasional KVAC Senin – Jumat untuk pengajuan aplikasi visa 09:00 ~15:00 sedangkan pengambilan paspor jam 11:00 – 17:00 selama jam makan siang tetap buka.

Biaya Pembuatan Visa:
  • ·  Single Visa (Visa kunjungan dibawah 90 hari): Rp.576.000,-
  • Single Visa (Visa kunjungan diatas 90 hari): Rp.864.000,-
  • Double Visa (2 kali masuk dan Berlaku untuk 6 bulan): Rp.1.008.000,-
  • Multiple Visa (Berlaku untuk 5 tahun): Rp.1.296.000,-
Mesin Antrian KVAC & Harga Visa Stamp

Harga di atas belum termasuk biaya Adm KVAC 196.000.-
Biaya visa tidak dapat dikembalikan apabila dibatalkan proses pengajuannya atau visa ditolak oleh pihak Kedubes Korea.

Belakangan saya baca dari website https://visitkorea.or.id/ bahwa warga negara 10 negara ASEAN termasuk Indonesia, dibebaskan biaya visa selama 3 bulan per tanggal 1 Okt sampai akhir tahun 2019. Wah saya terlambat tahunya....;( lumayan kan....

Dari yg saya baca kita bisa apply e-Form (Visa) online disini.

Dokumen pengajuan visa turis kurang dari 90 hari.

  1. Formulir Aplikasi Visa yang telah diisi dan ditanda tangani dengan foto ukuran 3.5x4.5 cm yang telah ditempel.
  2. Paspor asli dan foto copy setiap lembar stempel imigrasi dan visa terutama dari negara OECD. Saya melampirkan paspor lama karena paspor baru masih kosong.
  3. Surat keterangan kerja/sekolah untuk karyawan/pelajar/mahasiswa dalam bahasa Inggris. Surat harus di atas kop surat perusahaan/sekolah, berisi tgl masuk kerja, masa kerja, jabatan, no telpon penanggung jawab yg bisa dihubungi. Tanda tangan & stempel harus asli. Untuk wiraswasta: foto copy NPWP.
  4. Untuk single entry visa wajib memberkan 2 jenis dokumen keuangan, sedangkan multi entry tidak diperlukan. Jenis dokumen antara lain: rekening koran (tidak boleh copy buku tabungan, melainkan cetak statement mutasi 3 bulan, slip gaji, bukti potong laporan pembayaran pajak (SPT), surat berharga misalnya BPKB, Deposito, sertifikat rumah dll. Untuk pelajar/mahasiswa wajib melampirkan rekening orang orang tua. Ibu rumah tangga yang tidak bekerja dan tidak memiliki rekening koran pribadi, wajib melampirkan RK suami.
  5. Foto copy kartu keluarga & KTP.
  6. Surat undangan (jika diundang), foto copy SIUP perusahaan pengundang, surat jaminan, foto copy identitas pengundang. Surat sponsor bisa juga dari orang tua, suami/istri bila biaya perjalanan ditanggung mereka.

Info lainnya dapat dibaca disiniTiket pesawat dan reservasi tempat menginap bukan persyaratan wajib tapi kalau dilampirkan tidak masalah. Saya melampirkan keduanya. Booking penginapan di Seoul sebagai destinasi pertama saya perlukan untuk mengisi alamat di Korea yang ada di aplikasi Visa.

KVAC memiliki banyak lolet. Loket 1-3 untuk pengambilan, 4-16 untuk pengajuan visa sedangkan 17-21 merupakan loket pembayaran. Prosesnya cepat, antrian dibagi menjadi single entry atau multi entry sedang pengambilan dibagi individu dan travel agen.

Pengajuan aplikasi visa dapat diwakilkan kepada:
  1. Travel agen yang sudah terdaftar di Keduataan Besar Korea.
  2. Keluarga, dengan menunjukkan identitas diri (KTP/KITAS/KITAP), dokumen bukti hubungan keluarga (KK/family register/akta pernikahan).
  3. Rekan kerja, dengan menunjukkan surat tugas dengan kop surat perusahaan), surat keterangan kerja, ID karyawan.
  4. Rekan seperjalanan, melakukan pengajuan bersamaan (1 grup), wajib menyertakan surat kuasa, dokumen yang membuktika bahwa akan melakukan perjalanan bersama.


KVAC Jakarta
Kami datang jam 9 pagi, mall belum buka jadi lewat pintu karyawan, lalu naik ke lantai 5. Mengambil 1 nomor antrian untuk berdua dan menunggu, gak lama kami dipanggil. Si mbak memeriksa dokumen kami, lalu bilang kami masih kurang 1 dokumen keuangan lagi. Memang di website tidak menyebutkan keharusan 2 dokumen keuangan untuk single entry visa. Kami ditawarkan untuk ambil multi entry, kami menolak karena beda biayanya cukup lumayan. Jadi kami memutuskan untuk melengkapi dulu dan kembali esok harinya.


Besoknya kami datang jam makan siang, antri, dipanggil lalu diberi tanda terima dan struk pembayaran. Ambil antrian loket pembayaran, membayar tunai dan diberikan perangko bukti bayar. Kembali lagi ke loket semula tanpa antri lagi lalu menyerahkan perangko untuk ditempel di aplikasi kita. Pada tanda terima sudah tertulis tanggal pengambilan paspor 6 hari kerja berikutnya. Kami ditawarkan tanda terima dan SMS pemberitahuan mau sendiri-sendiri atau salah satu dari kami. Kami memilih sendiri-sendiri untuk menjaga pengambilan secara terpisah disesuaikan dengan waktu kami.

Kami menerima SMS pemberitahuan dari K-Visa Info sebanyak 3 kali:
  1. Pada hari penyerahan dokumen, isi SMS bahwa dokumen telah diterima dan sedang diproses. 
  2. Esok paginya, isi SMS bahwa dokumen sedang dalam proses pengecekan oleh Kedubes Korea Selatan.
  3. Pagi hari pada tgl pengambilan paspor, isi SMS bahwa paspor sudah dapat diambil di KVAC dengan membawa tanda terima asli.
Sehari sebelum tanggal pengambilan visa saya melakukan pengecekan status aplikasi visa di siniPilih Diplomatic Office, Passport No. diisi nomor paspor, isi nama dengan format nama belakang baru nama depan dan tanggal lahir, lalu klik search maka akan muncul informasi status: Under Review (masih diproses), Reject (ditolak), Approved (disetujui) dan Passport Return (paspor sudah dikirim ke KVAC). Pagi hari status paspor saya Approved, sore harinya sudah berubah Passport Return tapi kami baru menerima SMS pada pagi hari tgl pengambilan. Saya mengambil pada jam istirahat makan siang.

Ketentuan pengambilan paspor:
  1. Oleh pemohon: membawa tanda terima asli, jika hilang/tertinggal maka wajib memberikan foto copy KTP dan surat pernyataan.
  2. Pengambilan diwakilkan: tanda terima asli, foto copy ID pemohon & perwakilan. Jika belum memiliki KTP wajib melampirkan dokumen ikatan kekerabatan

Ternyata tidak susah untuk mendapatkan visa Korea terutama yg sudah pernah ke negara OECD kemungkinan besar visa disetujui. Tapi tetap saja deg-degan kalau ditolak, sayang uang tiketnya hahaha.....

Demikian pengalaman saya, semoga membantu ya.....Nantikan catatan perjalanan selama di Korea Selatan. Stay tuned!


2018/12/12

Perpanjang Paspor di Mal Pelayanan Publik Jakarta 2018

Bulan Desember 2018 ini, paspor saya akan habis masa berlakunya. Kali ini saya ingin mencoba memperpanjang di Mal Pelayanan Publik (MPP) yang lokasinya di Rasuna Said, kawasan Epicentrum di belakang hotel JS Luwansa, samping Gedung Nyi Ageng Serang.

Layanan di Mal Pelayanan Publik Jakarta


Langkah-langkah yang harus dilakukan:

1. ANTRIAN PASPOR
Pertama-tama saya harus dapat nomor antrian dulu. Nomor dapat diperoleh dengan menginstal aplikasi Antrian Paspor di Play Store (android) atau bisa juga melalui website https://antrian.imigrasi.go.id/.  Kuota antrian dibuka per minggu, ada yang bilang dibuka tiap jum'at, lainnya bilang tiap hari minggu. Yang jelas saya akhirnya mendapat nomor antrian pada hari Minggu Sore untuk hari Senin seminggu berikutnya. Ada 2 slot waktu yang bisa dipilih. Pagi jam 08.00 - 12.00 dan Siang 14.00 - 15.00. Saya memilih siang. Butuh perjuangan untuk mendapatkan kuota antrian, tapi anda jangan putus asa, coba lagi dan lagi.

Website Antrian Paspor
Aplikasi Antrian Paspor


  • Saya memilih instal aplikasi di HP. Kita harus membuat akun dahulu, dengan mengisi data User Name, Password, NIK (nomor e-KTP), Nomor telepon, email dan alamat sesuai KTP. 
  • Jika sudah terdaftar pada sistem, masuk ke halaman login.
  • Pilih kantor imigrasi tempat perpanjangan paspor. Saya memilih Mal Pelayanan Publik Jakarta.
  • Sistem akan memberitahu jika kuota habis atau menampilkan pilihan tanggal jika masih tersedia. Pilih tanggal yg sudah dibuka kuotanya, lalu pilih waktunya pagi atau siang. Jika sudah berhasil maka akan mendapatkan notifikasi email, tapi saya tidak mendapat email. Saya cek pada Tab Jadwal, ada file PDF bukti pendaftaran yang harus kita cetak untuk dibawa saat pembuatan paspor. 
  • Untuk perpanjangan paspor tanpa ada perubahan data, siapkan foto copy e-KTP dan halaman paspor lama yang berisi data kita di kertas ukuran A4 utuh (tidak dipotong).
Jadwal & Bukti pendaftaran


2. PEMBUATAN PASPOR
Datang sesuai jadwal yang di pilih ke MPP. Ini kali pertama saya masuk MPP. Bagus sekali tempatnya, benar seperti mal, boleh dibilang mewah. Saya sampai jam 13.20. Mungkin melihat saya kebingungan, mas yg jaga di Information, mendekati saya menanyakan keperluan saya. Saya bilang mau perpanjang paspor, lalu saya diantar mengambil nomor antrian Imigrasi yg letak mesinnya di samping kanan pintu masuk. Lalu saya diminta naik lift ke lantai 3, di mana counter layanan paspor berada. Di lantai 3 ini terdapat berbagai instansi sekaligus, ada kepolisian, BPJS, Dukcapil dan sebagainya, one stop service-lah. Kantor bersih, dingin, di atas meja tersedia monitor segedhe TV. Tempat duduk warna abu-abu & orange tersebar untuk menunggu giliran. Saya lihat ada 2 orang yang sedang menunggu. 

Mal Pelayanan Publik Jakarta

Walau belum jam 14.00 ternyata nomor saya langsung dipanggil. Petugas meminta bukti pendaftaran, KTP asli & foto copy, paspor lama dan copynya. Lalu dicocokan sebentar, saya diminta menunggu panggilan untuk foto & pengambilan sidik jari. Ternyata 2 orang tadi sedang menunggu giliran foto. Tidak lama kemudian saya dipanggil untuk foto. Sebelum difoto ditanya mau kemana. 

Selesai foto dan pengambilan sidik jari, saya diberi bukti pembayaran, di baliknya ada petunjuk pembayarannya. Kita bisa membayar melalui teller Bank DKI yang ada di Lantai 2 atau melalui ATM BCA, BNI, BRI, Mandiri. Pilih menu pembayaran - MPN/Pajak - Penerimaan Negara lalu masukkan kode bukti pembayaran dari imigrasi yang tertera di lembar yg diberikan petugas imigrasi. Keseluruhan proses mulai datang sampai selesai termasuk waktu tunggu giliran foto, HANYA memakan waktu 20 menit saja.....keren yah..... Saya diminta untuk membayar hari itu juga dan datang mengambil paspor 5 hari kerja berikutnya jam 9.00 -15.00.



3. PENGAMBILAN PASPOR
Kamis malam (H+3), saya iseng cek status paspor saya melalui Whatsapps. Saya WA melalui website jadi tidak perlu menyimpan nomor telponnya (6281381710123). Begini caranya ketik di browser https://api.whatapp.com/send?phone=6281381710123. Lalu kirim nomor Permohonan imigrasi 1041000000xxxxx, maka akan langsung mendapatkan balasan statusnya. Ternyata paspor saya sudah jadi. Saya putuskan besoknya hari jumat untuk mengambil paspor saat jam makan siang. 

Saya sampai di MPP jam 11.40 ternyata counter sudah tutup istirahat sholat jumat dan baru buka lagi jam 13.00. Saya tinggal makan siang dulu dan kembali beberapa menit sebelum jam 13.00. Tepat jam 13.00 counter baru dibuka. Ternyata pengambilan paspor tidak memerlukan nomor antrian, langsung saja ke loket (ruangan kaca di samping counter). Saya menyerahkan bukti pembayaran, tak lama kemudian paspor baru & lama diberikan. Kita diminta untuk menulis nama, nomor paspor baru & lama serta tanda-tangan di buku sebagai tanda terima. Proses tidak sampai 5 menit. Nomor antrian yang sudah saya ambil, saya berikan ke orang yang sedang menunggu giliran. Saya balik ke kantor. 

Selesailah seluruh proses perpanjangan paspor. Sangat cepat dan mudah, semuanya transparan. Angkat jempol untuk Imigrasi. Bravo!



2018/01/29

Sabtu Seru Jelajah Tangerang Heritage

Trip kali ini gak jauh-jauh dari Jakarta, Tangerang di kota sebelah tapi sudah beda Provinsi. Saya bergabung dengan trip yang diadakan seorang teman, kali ini jadi peserta, tinggal bayar dan ngikut. Peserta trip kali ini 30an orang, cukup banyak, beberapa sudah saya kenal dari day trip sebelumnya (belum sempat ditulis ;p), jadi nambah teman-teman baru.

Meeting point di stasiun KA Tangerang jam 8 pagi. Grup WA dibuat, memudahkan komunikasi sehingga peserta walau ada yg belum kenal, bisa janjian jalan bareng. Jadilah beberapa kelompok grup stasiun Tebet, stasiun Kemayoran, Depok atau langsung. Saya gabung dengan grup stasiun Tebet.

Dari Stasiun Tebet, naik KA jurusan Bogor - Jatinegara turun di Stasiun Duri, lalu ganti kereta Duri - Tangerang, ongkosnya hanya rp.4 ribu saja.

Dengan menggunakan angkot, rombongan kami menuju ke Warung Encim Sukaria yang menyajikan pilihan sarapan nasi uduk, nasi ulam dan lontong sayur. Warung ini buka tiap hari kecuali hari Senin dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang saja.

Selesai sarapan, dengan angkot yang sama kami menuju Kampung Berkelir Tangerang. Berlokasi tak jauh dari Sungai Cisadane, RW 01, Kelurahan Babakan dengan pintu masuk dari jalan Perintis Kemerdekaan, Tangerang. Bertransformasi dari kampung berstatus kumuh sedang berubah menjadi kampung wisata warna-warni pernuh dengan mural. 

Sebelum keliling ke Kampung Berkeling, kami foto-foto dulu di ikon Kampung Berkelir yang di bawahnya ada lukisan 3 dimensi di tepi sungai Cisadane.

Ikon Kampung Berkelir
Mural 3D

Mural 3D

Mural atau grafiti Kampung Berkelir bertemakan kearifan lokal yang merupakan bagian dari budaya masyarakat di Kota Tangerang, seperti misalnya lenggang Cisadane bahkan ada naga dan barongsay. Selain mural, juga terpasang 10 pesan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sebagai pengingat untuk masyarakat setempat. Pohon dan bunga ditanam menghiasi sepanjang jalan kampung, baik di pot maupun di gantung. Mengunjungi kampung ini tidak dipungut biaya.

Memasuki Kampung Berkelir
Lenggang Cisadane

Wajah-wajah di Kampung Berkelir

Barongsay & Naga

Stasiun KA & Bandarapun eksis
10 pesan PHBS
Dari Kampung Berkelir, lanjut dengan angkot menuju Museum Benteng Heritage, hanya sekitar 1 KM saja. Kami turun di tepi sungai Cisadane di depan gang kecil, melewati Roeboer Tangga Ronggeng yang nantinya akan kami kunjungi juga, lanjut berjalan kaki karena lokasi Museum berada di tengah Pasar Lama Tangerang.

Museum Benteng Heritage
Museum Benteng Heritage adalah museum peranakan Tionghoa pertama dan satu-satunya di Indonesia, diresmikan pada tgl. 11-11-2011 pkl. 20:11. Museum terletak di Jalan Cilame No.20, Pasar Lama, Tangerang yang juga adalah Zero Point nya Kota Tangerang karena disinilah cikal bakal pusat Kota Tangerang, yang dulunya disebut kota Benteng.

Bangunan museum dibangun sekitar abad ke 17, dimiliki komunitas kaum Tionghoa. Di abad ke-19 bangunan ini dibeli keluarga marga Lua dan dibagi 3 untuk diwariskan kepada 3 anaknya kala itu. Bp Udaya Halim yang merupakan pendiri Museum Benteng Heritage melakukan restorasi untuk melestarikan bangunan yang kaya akan sejarah ini dengan membeli 2 rumah dari 3 rumah tersebut karena 1 rumah lagi tidak dijual oleh pemiliknya.

Koleksi di Museum Benteng Heritage berasal dari koleksi pribadi, sumbangan dari warga sekitar Tangerang, kolektor benda kuno dan pemerhati budaya Tionghoa peranakan di Indonesia. Berbagai artefak yang menjadi saksi bisu kehidupan masa lalu, mulai dari kedatangan armada Cheng Ho dengan rombongan yang terdiri dari sekitar 300 kapal kayu besar dan kecil yang membawa hampir 30.000 pengikutnya. Sebagian dari rombongan tersebut dipimpin oleh Chen Ci Lung, diyakini sebagai nenek moyang penduduk Tionghoa Tangerang (Cina Benteng) yang mendarat di Teluk Naga pada tahun 1407.

Jam operasional Museum dari hari Selasa - Minggu mulai jam 10.00 - 17.00 dengan  dipandu oleh guide yang berlangsung sekitar 45 menit dengan jumlah setiap rombongan dibatasi s/d 20 peserta. Rombongan kami mengambil paket termasuk makan siang. Kami beruntung hari itu dipandu oleh Bp Udaya sendiri. Sejarah Peranakan Tionghoa Tangerang (Cina Benteng) dan Museum diceritakannya sebelum makan siang disajikan. Setelah makan siang baru diantar keliling Museum yang ada di lantai 2. Ada 2 tangga menuju ke lantai 2, yang curam  dengan kemiringan 45 derajat & satu lagi landai, kita harus melepas alas kaki, meninggalkan tas di lantai bawah dan tidak boleh memotret.

Tata Tertib Pengunjung


Ruang Tunggu Museum

Loket 
Sungai Cisadane dahulu berperan besar dalam transportasi air dan perdagangan di Tangerang. Hal ini tergambar pada salah satu lukisan yang ada di Museum.

Transportasi Sungai Cisadane Tempo Dulu

Bendungan Pintu Air Sepuluh Tempo Dulu
Ruang Makan Museum

Ornamen Ruang Makan

Ornamen Ruang Makan

Menu Makan Siang

Selesai makan siang, kami dipersilahkan naik ke lantai 2. Antara lantai 1 dan tantai 2 tidak sepenuhnya tertutup, kita bisa menemukan relief ukiran dihiasi pecahan keramik yang mengisahkan tentang Jenderal Kwang Kong bagian dari cerita legenda Sam Kok.

Relief legenda Sam Kok (sumber BBC Indonesia)
Tur di lantai 2 dimulai dengan pemutaran video sejarah pembuatan kecap Benteng yang masih tradisional dan terkenal di Tangerang sampai sekarang. Kecap ini juga dijual di toko Museum. Contoh botol-botol kecap dapat kita lihat di salah satu sudut lantai 2.

Koleksi Botol Kecap Benteng

Terdapat koleksi sempoa/sipoa, alat kuno untuk berhitung yang dibuat dari rangka kayu dengan sederetan poros berisi manik-manik yang bisa digeser-geserkan dengan fungsi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan akar kuadrat dari ukuran kecil sampai panjang.

Koleksi pedupaan dan perlengkapannya, patung-patung dewa, telepon, timbangan, mesin tik dan surat, buku-buku cerita, prangko-prangko pertama yang digunakan di Indonesia.
Di salah satu meja dipajang berbagai timbangan candu dan alat hisapnya dari berbagai negara.

Timbangan Candu (sumber BBC Indonesia)
Kami diberi tantangan untuk membuka pintu kayu menuju balkon, pintu anti pencuri walau tanpa kunci seperti jaman sekarang. Cara menutupnya hanya dengan menggeser kayu-kayu yang melintang, sangat mudah. Tapi membukanya tidak semudah itu, jika tidak mengetahui rahasia teknik pengunciannya yang hanya diketahui oleh anggota keluarga saja. Untuk membukanya harus dari dalam, sehingga rumah tidak boleh ditinggal kosong.

Setelah beberapa orang mencoba tanpa hasil, lalu dijelaskan cara membukanya oleh pak Udaya. Terdapat tombol rahasia yang terselip dekat palang pintu bagian bawah. Dengan menekan tombol tersebut maka akan membuka kuncian yang ada di dalam kayu penahan, lakukan sambil mendorong palang kayu, maka penghalang pintu dapat dibuka.

Pintu juga diberi pembatas setinggi kira-kira 20 cm dari lantai. Fungsi pembatas ini selain untuk membantu menjaga keseimbangan jalan perempuan yang biasanya memakai gaun panjang agar tidak jatuh tersandung sehingga mereka akan mengangkat sedikit bagian bawah baju juga untuk memberi hormat ke patung dewa dan meja pedupaan yang ada di depan pintu masuk. Sedangkan pada saat ke luar, dimaksudkan agar orang bersikap awas terhadap sekelilingnya sebelum ke luar.

Berfoto dengan pak Udaya di Lantai 2

Berpindah ke ruangan sebelahnya, kita bisa melihat koleksi sepatu perempuan dari anak-anak sampai dewasa, terkait dengan budaya ikat kaki. Jaman dahulu makin kecil kaki seorang perempuan dianggap makin cantik, tapi budaya ini dihapuskan karena dianggap sebagai salah satu bentuk penyiksaan.

Koleksi Sepatu Tradisional (sumber BBC Indonesia)
Dapat dilihat juga contoh corak-corak batik pesisir yang juga dipengaruhi budaya Tionghoa. Di Lasem dikenal dengan corak batik 3 negri, yaitu Eropa diwakili warna biru, China diwakili warna merah dan Coklat (sogan) warna khas batik jawa Solo dan Jogja.
Koleksi lainnya berupa koin, cangkul, topi tani, pakaian adat, ranjang, bantal, kloset, koper, meja mahyong yang jika ditarik sudut-sudutnya tersedia tempat menaruh makanan dan minuman sehingga mereka tidak perlu meninggalkan permainan ;p

Kami juga diputarkan video prosesi adat pernikahan Tionghoa Peranakan yang berlangsung selama 3 hari yang kebetulan diselenggarakan di Museum.

Selanjutnya kami diajak ke galeri koleksi kamera dan gramafon tua, serta piringan hitam langka. Menurut penjelasan pak Udaya, kerasnya suara yang dihasilkan gramofon tergantung dari besarnya jarum pemutar. Kami diperdengarkan lagu anak-anak Naik Delman karya pak Kasur. Dari ruang ini, kami menuruni tangga menuju toko Museum. Tersedia dari mulai kaos, kecap Benteng, teh, dodol, pembatas buku dan lainnya.

Setelah menyelesaikan pembayaran pembelian dari toko, kami dipinjami topi anyam dari bambu/pandan khas Tangerang yang dahulu sangat hits dan mendunia. Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Pos Jalan Daendels mencatat tentang produk topi Tangerang ini sangat digemari di Eropa untuk semua kalangan. Bahkan menjadi tren mode di Paris, Perancis! Jutaan topi Tangerang diekspor ke Eropa setiap tahun pada masa jayanya! Pada tahun 1887 saja, Tangerang telah mengekspor topi 145 juta, terutama ke Perancis.  

Catatan serupa juga ditulis oleh wartawan Tionghoa Peranakan Oey Hok Tjay yang asli Tangerang. Menurutnya, topi buatan Tangerang ini dikerjakan para wanita yang sangat digemari di Asia Tenggara hingga Eropa. Sayangnya topi ini sudah tergusur dan sulit diperoleh, sehingga Museum terpaksa memesannya dari Jogja.

Pengrajin Topi Tangerang (Sumber Kompas)

Dengan memakai topi Tangerang itu, kami mengikuti Heritage Walk, dimulai dari Kelenteng Boen Tek Bio di Pasar Lama, merupakan kelenteng tertua di Tangerang yang diperkirakan sudah berumur 300 tahun. 

Di halaman Kelenteng Boen Tek Bio

Kelenteng Boen Tek Bio

Kelenteng Boen Tek Bio
Dari klenteng perjalanan berlanjut, kami melewati bekas rumah wartawan. Pada 2 pilar penyangga masih bisa terlihat ornamen cantiknya walau sudah pudar.

Bekas Rumah Jurnalis 
 
Rumah warna hijau milik Oey Kim Tiang (OKT), penerjemah/penulis cerita silat yang paling produktif di Indonesia, berada berseberangan dengan Roemboer Tangga Ronggeng. OKT lahir  1903 dalam keluarga peranakan Tionghoa yang telah 6 generasi tinggal di Tangerang dan meninggal tahun 1995. Selama hidupnya, almarhum telah menterjemahkan lebih dari 100 karya terjemahan dari dialek Hokkian ke dalam bahasa Melayoe Pasar atau Melayoe Rendah. Salah satu karyanya adalah Memanah Burung Rajawali yang juga dibuat film seri TV maupun versi bioskopnya.

Rumah OKT
Roemah Boeroeng Tangga Ronggeng
Menurut pemandu kami, rumah ini bekas milik penjahit kebaya encim, pernah juga menjadi sarang burung walet sehingga disebut Rumah Burung. Kenapa Tangga Ronggeng? Jaman dahulu di sungai Cisadane terdapat tangga turun tempat mandi para penari ronggeng yang bisa dilihat dari lantai 3 bangunan yang saat ini difungsikan sebagai restoran tapi harus dengan pemesanan sebelumnya.

Pintu Roemboer Tangga Ronggeng
Pada lantai 1, terdapat perabot tua dan foto-foto hitam putih Peranakan Tangerang Tempo Doeloe.
Roemboer Lantai 1
Lantai 2 Roemboer berisi koleksi yang berhubungan dengan film, televisi dan beberapa lukisan yang menggambarkan kehidupan masyarakat Tangerang tempo dulu.

Koleksi Roemboer Lantai 2
Menaiki lantai 3, kita memasuki area restoran, dengan balkon dan jendela yang mengarah ke sungai Cisadane.

Roemboer lantai 3

Dari Roemboer, kami dibawa menyusuri sungai Cisadane menuju dermaga tempat bermulanya Festival Perahu Naga atau Festival Peh Cun (berarti mendayung perahu). Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah berumur lebih 2300 tahun dihitung dari masa Dinasti Zhou. Makan bakcang adalah salah satu bentuk kegiatan dalam perayaan tersebut.

Dermaga ini dahulunya terkenal dengan sebutan Tangga Jamban, tempat di mana masyarakat Tangerang buang hajat di kali. Lalu berubah menjadi dermaga, dilengkapi dengan Toa pe kong Dewa Air.

Dermaga Tangga Jamban

Di seberang Dermaga terdapat Masjid Jami Kalipasir dari tahun 1700an. Menara masjid ini berbentuk Pagoda, bukti adanya pengaruh budaya China di masa lalu.


Menara Masjid Kalipasir
Melalui gang kecil di samping masjid, kami kembali menuju Museum. Sebelum pulang menyempatkan belanja otak-otak, asinan buah, dodol di Pasar Lama dan ngopi di Rumah Kopi Gouw yang menyediakan berbagai kopi dari Aceh sampai Papua.

Dari Museum Benteng Heritage kami berjalan kaki menuju Stasiun KA Tangerang, ternyata tidak jauh hanya sekitar 10-15 menit jalan kaki saja, tinggal lurus lalu belok kanan.... sampai deh....