Hari ini tujuan kami ke Himeji dan Kobe menggunakan JR Pass. Semalam kami sudah memesan tempat duduk untuk Shinkansen Hikari menuju Himeji pukul 8:23, ditempuh dalam waktu 54 menit. Himeji sepertinya sedang berbenah diri. Di depan stasiun JR sedang ada perbaikan di jalan. Dari stasiun, cukup berjalan kaki lurus saja untuk menuju Himeji castle. Sepanjang jalan banyak patung-patung telanjang, kalau di Indo sudah kena sensor tuh....
Himeji castle masih dalam masa perbaikan sampai 2014, namun sebagian masih dapat kita kunjungi. http://www.japan-guide.com/e/e3501.html. Tiket masuk 400 yen, dan 200 yen untuk ke observation platform. Tiket bisa dibeli di mesin, yang tersedia di pintu masuk.
Dari kastil bisa di liat kota Himeji di ketinggian. Himeji punya maskot berbentuk telur yang memakai topi serupa dengan bentuk kastil, lucu ya....
Ini beberapa foto di kastil Himeji.
Makan siang kami beli di stasiun untuk dibawa, kami melanjutkan perjalanan menuju Kobe, destinasi berikutnya. Kami naik JR special rapid menuju Kobe, waktu perjalanan 36 menit. di stasiun Kobe kami mencari informasi, bagaimana caranya menuju Shin Kobe Herb Garden & Ropeway. Kami bertanya ke petugas JR, tapi sepertinya tidak meyakinkan. Jadi kami car tourist information, ternyata ada di harborland, tidak ada di area stasiun kereta seperti biasanya. Info yang kami dapat, kami harus naik JR menuju stasiun Sannomiya lalu ganti subway (200 yen) ke Shin Kobe. Sebelum berangkat, kami konfirmasikan lagi ke petugas JR yang lain, sekalian bertanya bagaimana kami kembali ke Kyoto sesudahnya. Sesampai di Shin Kobe, sempat bertanya dan tersesat sampai akhirnya ketemu lokasi ropeway. Memang agak rumit cara menuju kesana. Kami haru menyeberang memasuki gedung di depan stasiun, kemudian turun 2 lantai, keluar lagi sampai ketemu gerbang masuk, lalu menyusuri jembatan dan naik lift.....
http://www.japan-guide.com/e/e3563.html
Kami membeli tiket ropeway return beserta Nunobiki herb garden, 1.400 yen. Bisa juga membeli sekali jalan, pergi atau kembalinya jalan kaki. Pemandangan dari ropeway spektakuler, di bawah terlihat hutan lebat, dan terlihat juga pemandangan kota Kobe. Turun dari ropeway, kami makan siang dulu sebelum menjelajah, udara sejuk, gerimis kecil. Jelajah dimulai dengan Rose garden, fragrant garden, herb museum, kitchen garden, glass house, four season garden, oriental garden, fruit garden, sampai taman bunga matahari, dimana kita bisa melihat pemandangan kota Kobe. Jalanan menurun sampai ke stasiun ropeway tengah. Gerimis, kami kembali ke Shin Kobe dengan ropeway.
Dari Shin Kobe kami kembali ke Kyoto naik shinkansen Hikari dengan JR Pass. Hari masih sore jadi kami lanjut ke Fushimi Inari dengan naik JR Nara line. Fushimi Inari terletak persis di depan stasiun JR Inari, tidak perlu membayar untuk masuk. Gerimis dan gelap, kami memutuskan kembali besok pagi-pagi, untuk mengambil foto yang lebih baik. Fushimi Inari terkenal sebagai spot foto dengan deretan torii gate orange-nya, kalau dilihat dari peta yang ada, torii itu sangat panjang dan naik turun gunung. Fushimi Inari menutup perjalanan kami hari ini.
2013/08/19
2013/08/16
Japan Trip - Day 6 - Kyoto (23.884 steps)
Pagi-pagi setelah sarapan, kami keluar dari hotel menuju stasiun JR Namba, sempat tersesat, tapi akhirnya ketemu juga. Mulai hari ini, kami menghitung jumlah langkah kami berjalan sepanjang hari, dari mulai keluar hotel sampai masuk ke hotel lagi. Sisca membawa ipod yang ada aplikasi penghitung langkah, jadi ukuran langkah sesuai ukuran dia, 42. Ukuran sepatu saya 37 jadi seharusnya langkah lebih banyak hahaha....
Kami sudah tidak punya subway pass, jadi kami memanfaatkan JR pass kami, karena itu harus melalui stasiun JR Namba - Imamiya - Osaka loop line sampai stasiun Osaka. Dengan menggunakan JR special rapid menuju Kyoto, ditempuh dalam waktu 29 menit, sekitar jam 9 pagi. Untuk transportasi di Kyoto, paling mudah menggunakan bus, jadi kami membeli Kyoto city bus 1 day pass, seharga 500 yen. Ongkos bus di Kyoto untuk sekali naik sebesar 220 yen,jadi lebih menguntungkan membeli 1 day pass.
Kami akan menginap di Piece Hostel Kyoto selama 3 malam, dengan kamar dorm untuk 8 orang. 2.600 yen per orang per malam. Waktu chek in jam 15:00, jadi kami belum bisa masuk ke kamar, titip koper di reseptionis lalu keluar lagi. Kami diberi onigiri dan barley tea oleh pegawai hostel, mungkin sisa sarapan. Hostel ini menyediakan sarapan, namun selama 3 hari kami tidak pernah dapat sarapan karena baru jam 8 disediakan, biasanya kami sudah keluar hotel jam 7.30.
Seperti biasa hostel tidak mudah dicari karena petunjuknya tidak jelas, kami dibantu oleh 2 orang jepang yang kebetulan lewat. Sebenarnya tidak sulit dan tidak jauh letaknya dari stasiun Kyoto, dekat sekali. Hanya berjalan kaki 10 menit saja.
Terminal bus berada di depan stasiun kereta Kyoto. Petunjuk arah transportasi sangat mudah dimengerti. Kami naik bus 110 menuju Kinkakuji - Golden temple, tiket masuk 400 yen. Tidak diperbolehkan memotret dengan tripod, karena ramai. Kami sempat berfoto dengan gadis Jepang yg memakai Yukata. Hari sangat terik, tapi seputar kuil banyak pohon-pohonan jadi lumayan nyaman untuk jalan-jalan. Oh ya, kami sempat membeli green tea ice cream di toko depan halte bus tempat kami turun. Enak sekali, apalagi cuaca panas....hmmmm....yam...yam... rekomen deh...
Tujuan selanjutnya Ryoanji - rock temple, beraliran zen. Dari Kinkakuji naik bus no.59. Kami sempat salah kuil hahaha....tiket masuk 500 yen.
Selesai menikmati kuil, tujuan selanjutnya adalah Kyoto Manga Museum. Kami jalan balik ke halte di dekat Kinkakuji untuk naik bus no.12, turun di halte Nijojo. Dari situ menuju Manga museum tidak ada bus, hanya subway saja, maka kami jalan kaki sambil lihat-lihat kota Kyoto, mampir ke toko yang sedang sale hehehe....ternyata masih mahal juga untuk kantong kami. Kyoto sangat nyaman bagi pejalan kaki, tersedia pedestrian yang lebar, pejalan kaki berbagi dengan pengendara sepeda. Kotanya lebih bersih dan nyaman dibandingkan Osaka. Di Osaka sepertinya semua orang sibuk dan banyak berada di bawah tanah, kami menjuluki orang-orang Osaka, manusia tikus hehehe....memang di Osaka lebih nyaman dan mudah menggunakan transportasi subway atau kereta.
Setelah jalan beberapa blok, akhirnya ketemu juga Manga museum, dari jalan raya harus berbelok sedikit, tapi spanduknya sudah terlihat dari jauh. Tiket masuk Manga museum 800 yen, tutup setiap hari rabu. Tidak boleh memotret di area museum. Museum terdiri dari beberapa lantai dan ruang-ruang, asalnya memang bangunan sekolah yang diubah menjadi museum. Saat masuk ada beberapa animator yg sedang menggambar, ada area untuk anak-anak membuat kerajinan tangan. Ada lorong yang memamerkan berbagai karya animator tentang wanita Jepang berkimono, semuanya diberi nama, dan ada selembar kertas survey untuk pengunjung, wanita mana yang merupakan favorit, ada-ada aja....tapi cukup kreatif.
Koleksi manga sangat lengkap, semuanya bebas untuk dibaca baik di dekat rak ataupun dibawa ke halaman. Karena itu banyak sekali anak-anak, remaja maupun orang dewasa yang sedang membaca sambil duduk atau bahkan tidur-tiduran, nyaman bukan....
Di salah satu ruang, dipamerkan komik dari berbagai negara, ada juga dari Indonesia, komik si buta dari gua hantu....padahal banyak juga yg lebih bagus gambarnya...tapi lumayanlah ada di situ.
Manga menjadi salah satu budaya Jepang, digunakan untuk berbagai tujuan seperti pendidikan, penyampaian peraturan, hiburan tentunya. Karena itu di kereta sangat biasa orang membaca manga, bahkan orang dewasa dan terkadang bukunya setebal buku telpon hihihi.......
Banyak juga orang yang datang di museum dengan menggunakan cosplay, mereka memotret dan dipotret. Kami sempat berfoto dengan mereka. Ini sebagian fotonya.
Hari sudah sore, kami ada janji ketemu dengan teman Sisca yang tinggal di Kyoto bersama suami dan anaknya. Kami berjalan beberapa blok menuju City Hall. Kebetulan anjing mereka semua serupa, mungkin satu induk ya....memang nyaman bersosiali sasi di taman.
Setelah ngobrol kangen-kangenan, kami diajak jalan-jalan ke Teramachi yang letaknya tidak jauh dari City Hall. Teramachi adalah kawasan pertokoan, mirip dengan Namba di Osaka. Kami ditraktir makan malam udon yang enak dan murah. Namanya tidak tahu tapi cabangnya ada dimana-mana, jadi kami ingat-ingat gambarnya saja. Di kemudian hari kami beberapa kali makan udon ini lagi, bahkan di Tokyo juga.
Selesai makan malam, kami diantar ke daerah Gion, berharap bisa melihat geisha. Gion berupa lorong panjang yang remang-remang, akhir lorong berada di tepi sungai. Kami duduk-duduk sebentar untuk istirahat, banyak orang yang bersantai di pinggir sungai.
Hari sudah malam waktu kami mencari halte bus yang benar untuk kembali ke stasiun Kyoto, sempat bingung, namun akhirnya ketemu juga. Di halte kami berkenalan dengan nenek bernama Misako, usianya 66 tahun. Dia belajar bahasa Ingris secara otodidak, penggemar the Beatles. Nenek Misako ternyata, nenek gaul. Dia tidak takut berbicara dengan orang asing dengan bahas Inggris, kenalannya cukup banyak dan berbagai negara. Dia minta orang-orang sing yang ditemuinya untuk menulis di bukunya. Kami ikut menulis juga, ternyata koleksinya sudah banyak. Katanya dia bertemu mereka di stasiun kereta dan mengajak kenalan, hebat bukan..... Kami masing-masing diberi origami berbentuk burung. Kami naik bus yang sama sampai stasiun Kyoto, sepanjang jalan nenek mengajak kami bernanyi lagu-lagu yang dikenalnya, sambil ketawa-ketawa, tidak peduli dengan penumpang lainnya hahahaha.....Hari sudah jam 11 malam lewat sewaktu kami sampai di stasiun. Kami masih harus mencuci baju kotor kami di hotel. Baru selesai lewat jam 1 pagi....uhhh....capeknya....
Kami sudah tidak punya subway pass, jadi kami memanfaatkan JR pass kami, karena itu harus melalui stasiun JR Namba - Imamiya - Osaka loop line sampai stasiun Osaka. Dengan menggunakan JR special rapid menuju Kyoto, ditempuh dalam waktu 29 menit, sekitar jam 9 pagi. Untuk transportasi di Kyoto, paling mudah menggunakan bus, jadi kami membeli Kyoto city bus 1 day pass, seharga 500 yen. Ongkos bus di Kyoto untuk sekali naik sebesar 220 yen,jadi lebih menguntungkan membeli 1 day pass.
Kami akan menginap di Piece Hostel Kyoto selama 3 malam, dengan kamar dorm untuk 8 orang. 2.600 yen per orang per malam. Waktu chek in jam 15:00, jadi kami belum bisa masuk ke kamar, titip koper di reseptionis lalu keluar lagi. Kami diberi onigiri dan barley tea oleh pegawai hostel, mungkin sisa sarapan. Hostel ini menyediakan sarapan, namun selama 3 hari kami tidak pernah dapat sarapan karena baru jam 8 disediakan, biasanya kami sudah keluar hotel jam 7.30.
Seperti biasa hostel tidak mudah dicari karena petunjuknya tidak jelas, kami dibantu oleh 2 orang jepang yang kebetulan lewat. Sebenarnya tidak sulit dan tidak jauh letaknya dari stasiun Kyoto, dekat sekali. Hanya berjalan kaki 10 menit saja.
Terminal bus berada di depan stasiun kereta Kyoto. Petunjuk arah transportasi sangat mudah dimengerti. Kami naik bus 110 menuju Kinkakuji - Golden temple, tiket masuk 400 yen. Tidak diperbolehkan memotret dengan tripod, karena ramai. Kami sempat berfoto dengan gadis Jepang yg memakai Yukata. Hari sangat terik, tapi seputar kuil banyak pohon-pohonan jadi lumayan nyaman untuk jalan-jalan. Oh ya, kami sempat membeli green tea ice cream di toko depan halte bus tempat kami turun. Enak sekali, apalagi cuaca panas....hmmmm....yam...yam... rekomen deh...
Tujuan selanjutnya Ryoanji - rock temple, beraliran zen. Dari Kinkakuji naik bus no.59. Kami sempat salah kuil hahaha....tiket masuk 500 yen.
Selesai menikmati kuil, tujuan selanjutnya adalah Kyoto Manga Museum. Kami jalan balik ke halte di dekat Kinkakuji untuk naik bus no.12, turun di halte Nijojo. Dari situ menuju Manga museum tidak ada bus, hanya subway saja, maka kami jalan kaki sambil lihat-lihat kota Kyoto, mampir ke toko yang sedang sale hehehe....ternyata masih mahal juga untuk kantong kami. Kyoto sangat nyaman bagi pejalan kaki, tersedia pedestrian yang lebar, pejalan kaki berbagi dengan pengendara sepeda. Kotanya lebih bersih dan nyaman dibandingkan Osaka. Di Osaka sepertinya semua orang sibuk dan banyak berada di bawah tanah, kami menjuluki orang-orang Osaka, manusia tikus hehehe....memang di Osaka lebih nyaman dan mudah menggunakan transportasi subway atau kereta.
Setelah jalan beberapa blok, akhirnya ketemu juga Manga museum, dari jalan raya harus berbelok sedikit, tapi spanduknya sudah terlihat dari jauh. Tiket masuk Manga museum 800 yen, tutup setiap hari rabu. Tidak boleh memotret di area museum. Museum terdiri dari beberapa lantai dan ruang-ruang, asalnya memang bangunan sekolah yang diubah menjadi museum. Saat masuk ada beberapa animator yg sedang menggambar, ada area untuk anak-anak membuat kerajinan tangan. Ada lorong yang memamerkan berbagai karya animator tentang wanita Jepang berkimono, semuanya diberi nama, dan ada selembar kertas survey untuk pengunjung, wanita mana yang merupakan favorit, ada-ada aja....tapi cukup kreatif.
Koleksi manga sangat lengkap, semuanya bebas untuk dibaca baik di dekat rak ataupun dibawa ke halaman. Karena itu banyak sekali anak-anak, remaja maupun orang dewasa yang sedang membaca sambil duduk atau bahkan tidur-tiduran, nyaman bukan....
Di salah satu ruang, dipamerkan komik dari berbagai negara, ada juga dari Indonesia, komik si buta dari gua hantu....padahal banyak juga yg lebih bagus gambarnya...tapi lumayanlah ada di situ.
Manga menjadi salah satu budaya Jepang, digunakan untuk berbagai tujuan seperti pendidikan, penyampaian peraturan, hiburan tentunya. Karena itu di kereta sangat biasa orang membaca manga, bahkan orang dewasa dan terkadang bukunya setebal buku telpon hihihi.......
Banyak juga orang yang datang di museum dengan menggunakan cosplay, mereka memotret dan dipotret. Kami sempat berfoto dengan mereka. Ini sebagian fotonya.
Hari sudah sore, kami ada janji ketemu dengan teman Sisca yang tinggal di Kyoto bersama suami dan anaknya. Kami berjalan beberapa blok menuju City Hall. Kebetulan anjing mereka semua serupa, mungkin satu induk ya....memang nyaman bersosiali sasi di taman.
Setelah ngobrol kangen-kangenan, kami diajak jalan-jalan ke Teramachi yang letaknya tidak jauh dari City Hall. Teramachi adalah kawasan pertokoan, mirip dengan Namba di Osaka. Kami ditraktir makan malam udon yang enak dan murah. Namanya tidak tahu tapi cabangnya ada dimana-mana, jadi kami ingat-ingat gambarnya saja. Di kemudian hari kami beberapa kali makan udon ini lagi, bahkan di Tokyo juga.
Selesai makan malam, kami diantar ke daerah Gion, berharap bisa melihat geisha. Gion berupa lorong panjang yang remang-remang, akhir lorong berada di tepi sungai. Kami duduk-duduk sebentar untuk istirahat, banyak orang yang bersantai di pinggir sungai.
Hari sudah malam waktu kami mencari halte bus yang benar untuk kembali ke stasiun Kyoto, sempat bingung, namun akhirnya ketemu juga. Di halte kami berkenalan dengan nenek bernama Misako, usianya 66 tahun. Dia belajar bahasa Ingris secara otodidak, penggemar the Beatles. Nenek Misako ternyata, nenek gaul. Dia tidak takut berbicara dengan orang asing dengan bahas Inggris, kenalannya cukup banyak dan berbagai negara. Dia minta orang-orang sing yang ditemuinya untuk menulis di bukunya. Kami ikut menulis juga, ternyata koleksinya sudah banyak. Katanya dia bertemu mereka di stasiun kereta dan mengajak kenalan, hebat bukan..... Kami masing-masing diberi origami berbentuk burung. Kami naik bus yang sama sampai stasiun Kyoto, sepanjang jalan nenek mengajak kami bernanyi lagu-lagu yang dikenalnya, sambil ketawa-ketawa, tidak peduli dengan penumpang lainnya hahahaha.....Hari sudah jam 11 malam lewat sewaktu kami sampai di stasiun. Kami masih harus mencuci baju kotor kami di hotel. Baru selesai lewat jam 1 pagi....uhhh....capeknya....
2013/08/15
Japan Trip - Day 5 - Hiroshima - Miyajima - Osaka
Hari ini kami akan mengunjungi Hiroshima dan Miyajima. Selesai sarapan kami menuju stasiun JR Namba. Osaka Pass kami sudah habis, jadi kami harus memanfaatkan JR Pass kami. Stasiun JR Namba letaknya lebih jauh daripada subway Namba. Setelah bertanya beberapa orang, akhirnya ketemu juga. Kami harus ganti kereta dua kali sebelum sampai di Shin Osaka, baru naik Shinkansen Sakura ke Hiroshima. Reserved seat sudah habis, jadi kami naik ke gerbong tanpa kursi pesan. Tersedia 3 gerbong, tanpa reserved. Perjalanan ditempuh dalam waktu 90 menit. Sampai Hiroshima pukul 10:50. Kami membeli makan siang dulu untuk dibawa. Kami memutuskan untuk ke Miyajima lebih dahulu, nanti kalau masih ada waktu baru eksplor Hiroshima.
Dari stasiun JR Hiroshima naik JR Sanyo line menuju stasiun Miyajimaguchi (25 menit). lalu jalan kaki melalui bawah tanah untuk menyebrang menuju dermaga. Ferry menuju Miyajima dilayani oleh JR dan Matsudai, kami menggunakan ferry JR, jadi tidak perlu membayar lagi. Dari jauh sudah terlihat Torii Gate orange yang terkenal. Torii ini berada di tengah-tengah laut.
Miyajima merupakan pulau kecil yang nyaman untuk berjalan kaki atau naik sepeda, sepertinya memang disiapkan untuk menyambut kedatangan turis. Ada penyewaan sepeda di pelabuhan. Kami memutuskan untuk jalan kaki saja. Rusa-rusa jinak berkeliaran di jalanan. Cuaca sangat terik. Kami melihat ada jasa naik perahu kecil mengelilingi Torii gate, sehingga bisa melihat dari dekat.
Setelah foto-foto sebentar dengan latar torii gate, kami menuju Itsukushima Shrine, kuil Shinto yang didominasi warna orange. Kami beli tiket kuil beserta treasure hall-nya, 500 yen. Selesai keliling dan foto-foto, makan siang ditemani rusa-rusa jinak.
Hokoku Shrine berada dipuncak bukit, tidak jauh dari Itsukushima, pagodanya terlihat dari Itsukushima. Memasuki aula besar dari kayu, nyaman sekali, sangat sejuk setelah berada di luar yang sangat terik. Kami santai-santai sebentar di sini. Tiket masuk 100 yen, harus melepas sepatu untuk masuk. Aula ini dibangun atas perintah Toyotomi Hideyoshi, untuk melatunkan sutra Budha bagi prajurit yang gugur. Beberapa lukisan masih cukup bagus tergantung di langit-langit aula.
Dalam perjalanan ke dermaga untuk kembali ke Hiroshima, kami melewati toko-toko. membeli beberapa suvenir dan Momiji cake, khas Miyajima.
Entah karena sudah terlalu capai, dari Miyajima kami salah naik kereta, ke arah kebalikan dari seharusnya, dan baru sadar setelah sampai ke stasiun terakhir. Kami harus ikut kereta lagi ke arah yang benar. Seharusnya kami turun di Hiroshima, tapi ternyata salah lagi, turun di stasiun Nishi Hiroshima yang letaknya 2 stasiun sebelum Hiroshima, gara2 kakek yg berniat membantu kami bilang harus turun di sini hahahaha......untung kami bisa menerima dengan tertawa, nikmati sajalah.....
Akibat salah kereta tadi, sampai di Hiroshima sudah jam 5.40, sedangkan obyek yang akan kami tuju semuanya tutup jam 6. Jadi kami putuskan untuk kembali ke Osaka, naik shinkansen Sakura lagi.
Ini malam terakhir di Osaka, jadi kami putuskan untuk melihat Floating Garden yang berada di Umeda Sky Building, tingginya 173 meter dan 40 lantai. Seharusnya obyek ini termasuk dalam Osaka Pass, namun kami belum sempat ke sini. Tiket masuk 70 yen, buka sampai jam 10.30 malam.
Kami kesulitan mencari lokasi gedungnya, info dari beberapa orang kurang jelas. Akhirnya di jalan, Sisca bertanya ke orang yang membawa kamera, dia pikir pasti tahu karena floating garden merupakan tempat bagus mengambil foto kota Osaka di ketinggian.
Benar saja, kami diberitahu arah yang benar. Setelah melewati terowongan bawah tanah yang cukup panjang, sampailah kami di Umeda sky building. Mencari lift menuju ke atas perlu usaha tersendiri. Akhirnya sampai juga di lokasi.
Panorama Osaka malam hari dari atap terbuka floating garden cukup mengesankan. Di salah satu sudut, tersedia pagar untuk mengantung gembok cinta. Gembok-gembok ini di ukir nama pasangan dan tanggalnya. Gembok dijual di lantai bawahnya, selain itu juga ada pojok cinta, di mana dengan 100 yen, anda bisa mengambil omikuji, kertas berisi ramalan sesuai nomor yang kita kocok. Tersedia pula tempat untuk mengikat omikuji tadi.
Kami makan di luar gedung Umeda Sky, ada tempat duduk-duduk yang nyaman. Lalu kembali ke hostel naik JR. Mandi dan beres-beres koper, karena besok pagi-pagi kami pindah ke Kyoto.
Dari stasiun JR Hiroshima naik JR Sanyo line menuju stasiun Miyajimaguchi (25 menit). lalu jalan kaki melalui bawah tanah untuk menyebrang menuju dermaga. Ferry menuju Miyajima dilayani oleh JR dan Matsudai, kami menggunakan ferry JR, jadi tidak perlu membayar lagi. Dari jauh sudah terlihat Torii Gate orange yang terkenal. Torii ini berada di tengah-tengah laut.
Miyajima merupakan pulau kecil yang nyaman untuk berjalan kaki atau naik sepeda, sepertinya memang disiapkan untuk menyambut kedatangan turis. Ada penyewaan sepeda di pelabuhan. Kami memutuskan untuk jalan kaki saja. Rusa-rusa jinak berkeliaran di jalanan. Cuaca sangat terik. Kami melihat ada jasa naik perahu kecil mengelilingi Torii gate, sehingga bisa melihat dari dekat.
Setelah foto-foto sebentar dengan latar torii gate, kami menuju Itsukushima Shrine, kuil Shinto yang didominasi warna orange. Kami beli tiket kuil beserta treasure hall-nya, 500 yen. Selesai keliling dan foto-foto, makan siang ditemani rusa-rusa jinak.
Hokoku Shrine berada dipuncak bukit, tidak jauh dari Itsukushima, pagodanya terlihat dari Itsukushima. Memasuki aula besar dari kayu, nyaman sekali, sangat sejuk setelah berada di luar yang sangat terik. Kami santai-santai sebentar di sini. Tiket masuk 100 yen, harus melepas sepatu untuk masuk. Aula ini dibangun atas perintah Toyotomi Hideyoshi, untuk melatunkan sutra Budha bagi prajurit yang gugur. Beberapa lukisan masih cukup bagus tergantung di langit-langit aula.
Dalam perjalanan ke dermaga untuk kembali ke Hiroshima, kami melewati toko-toko. membeli beberapa suvenir dan Momiji cake, khas Miyajima.
Entah karena sudah terlalu capai, dari Miyajima kami salah naik kereta, ke arah kebalikan dari seharusnya, dan baru sadar setelah sampai ke stasiun terakhir. Kami harus ikut kereta lagi ke arah yang benar. Seharusnya kami turun di Hiroshima, tapi ternyata salah lagi, turun di stasiun Nishi Hiroshima yang letaknya 2 stasiun sebelum Hiroshima, gara2 kakek yg berniat membantu kami bilang harus turun di sini hahahaha......untung kami bisa menerima dengan tertawa, nikmati sajalah.....
Akibat salah kereta tadi, sampai di Hiroshima sudah jam 5.40, sedangkan obyek yang akan kami tuju semuanya tutup jam 6. Jadi kami putuskan untuk kembali ke Osaka, naik shinkansen Sakura lagi.
Ini malam terakhir di Osaka, jadi kami putuskan untuk melihat Floating Garden yang berada di Umeda Sky Building, tingginya 173 meter dan 40 lantai. Seharusnya obyek ini termasuk dalam Osaka Pass, namun kami belum sempat ke sini. Tiket masuk 70 yen, buka sampai jam 10.30 malam.
Kami kesulitan mencari lokasi gedungnya, info dari beberapa orang kurang jelas. Akhirnya di jalan, Sisca bertanya ke orang yang membawa kamera, dia pikir pasti tahu karena floating garden merupakan tempat bagus mengambil foto kota Osaka di ketinggian.
Benar saja, kami diberitahu arah yang benar. Setelah melewati terowongan bawah tanah yang cukup panjang, sampailah kami di Umeda sky building. Mencari lift menuju ke atas perlu usaha tersendiri. Akhirnya sampai juga di lokasi.
Panorama Osaka malam hari dari atap terbuka floating garden cukup mengesankan. Di salah satu sudut, tersedia pagar untuk mengantung gembok cinta. Gembok-gembok ini di ukir nama pasangan dan tanggalnya. Gembok dijual di lantai bawahnya, selain itu juga ada pojok cinta, di mana dengan 100 yen, anda bisa mengambil omikuji, kertas berisi ramalan sesuai nomor yang kita kocok. Tersedia pula tempat untuk mengikat omikuji tadi.
Kami makan di luar gedung Umeda Sky, ada tempat duduk-duduk yang nyaman. Lalu kembali ke hostel naik JR. Mandi dan beres-beres koper, karena besok pagi-pagi kami pindah ke Kyoto.
Japan Trip - Day 4 - Osaka
Target kami hari ini adalah Osaka Museum of History, Osaka Castle dan Tenjin Matsuri. Selesai sarapan, dengan menggunakan Osaka pass, kami naik kereta subway, turun di stasiun Tanimachi. Osaka Museum of History berada dalam 1 gedung dengan studio NHK. Saat itu juga sedang ada pameran tentang Evangelion,bagi pengemar Anime dan Manga tentunya tahu mengenai Evangelion. http://www.japan-guide.com/e/e4014.html.
Tiket museum 600 yen, termasuk dalam Osaka pass kami, jadi tidak perlu bayar lagi. Kami diminta naik ke lantai paling atas untuk memulai penjelajahan kami di museum. Museum ini menceritakan tentang kehidupan kota Osaka dari jaman dulu sampai jaman modern. Dengan visualisasi berupa film dokumenter, patung-patung seukuran asli, lukisan, gambar berbentuk 3 D, mini replika yang sangat mirip dengan aslinya. Dan museum ini sangat menyenangkan untuk dikunjungi, saya berharap museum di Indonesia juga bisa dibuat seperti ini, pasti akan menarik baik anak-anak maupun orang dewasa.
Pada setiap lantai juga disediakan stempel untuk dicap pada kertas brosur yang telah disediakan, sejak saat itu kami selalu hunting stempel kemanapun kami pergi, dan ternyata Jepang memang penggila stempel, dimana-mana ada, di obyek wisata sampai di stasiun kereta.
Ada 1 lantai bernama Naniwa Archaeological Resource Centre, di sini pengunjung bisa menyusun puzzle yang telah disediakan berupa gambar sejarah Osaka dan juga pecahan guci yang bisa disusun. Banyak anak-anak maupun orang dewasa yang tekun menyusun puzzle, sangat menyenangkan. Di salah satu sudut, disediakan papan komentar untuk pengunjung. Ternyata komentar-komentar itu kemudian disusun per bulan, sehingga terlihat berapa banyak pengunjung yang menulis komentar. Sangat keren bukan....
Museum is fun, begitu kami sepakati setelah melihat museum ini. Kami mendapat hadiah notes kecil dari museum, tanda misi kami telah selesai ;D setelah brosur stempel sudah lengkap.
Jepang juga memberdayakan orang tua untuk bekerja di museum. Di salah satu lantai kami melihat seorang kakek menjelaskan kepada seorang anak dan ibunya dengan cara bermain semacam ular tangga. Setelah melempar dadu dan menjalankan pion, si kakek akan menjelaskan tempat atau peristiwa dimana pion itu berada. Menyenangkan bukan....
Untuk melihat pameran Evangelion harus membeli tiket lagi, 800 yen, jadi kami hanya melihat-lihat toko suvenirnya saja dan foto-foto dengan figur yang ada di depan lokasi pameran.
Dari lantai atas museum dapat dilihat Osaka Castle di seberang jalan, yang merupakan tujuan kami selanjutnya. Hari terik sekali, jadi kami membeli green tea ice cream dan makan siang dulu sebelum menuju Osaka Castle (600 yen, sudah termasuk dalam Osaka Pass) http://www.japan-guide.com/e/e4000.html.
Osaka Castle merupakan museum tentang sejarah kastil itu sendiri dan kehidupan Toyotomi Hideyoshi. Kami harus naik lift ke lantai paling atas, lalu turun tangga setelah mengitari setiap lantai. Selain memamerkan dengan barang-barang, lukisan ada juga film 3D mengenai kehidupan Toyotomi Hideyoshi, yang bisa diikuti secara berurutan di layar kecil.
Sebelum sampai ke lantai bawah, ada penyewaan kontum prajurit jaman dulu. Lany menyewa kostum untuk kami bertiga lengkap dengan topi perang dan pedang panjangnya. Heboh foto-foto, penyewaan yang sebelumnya sepi jadi menarik orang untuk ikutan. Bahkan ada salah satu penyewa yang minta foto bersama kami, selain itu kami juga jadi obyek foto pengunjung lain hehehe..... Saya sempat memotret beberapa anak kecil yang menyewa kostum perang dan yukata.
Tidak terasa sudah sore, lewat jam 3, padahal prosesi Tenjin Matsuri dimulai 3.30 dari Tenmangu Shrine. http://www.japan-guide.com/e/e4023.html. Kami tidak tahu dimana letaknya, dan sepertinya prosesi sudah mulai berjalan. Akhirnya Lany berinisiatif untuk bertanya pada pasangan yang kebetulan mau mengikuti festival, kami diajak pergi bersama, untunglah.....
Kami bertemu seorang nenek yang baik hati, dia pemain musik shamisen, alat petik tradional Jepang dengan 3 senar. Nenek ini membantu pasangan penolong kami untuk memperbaiki yukata (kimono musim panas) mereka, ternyata cukup ribet memasang obi atau ikat pinggangnya. Jadi kami menunggu si nenek selesai sambil ketawa-ketawa.
Kami langsung dibawa menuju sungai Okawa, tempat berlangsungnya festival kembang api. banyak orang menuju ke sana, banyak juga yang sudah memilih tempat duduk di sepanjang sungai. Pada festival ini banyak pedagang makan dan minuman sepanjang jalan di pinggir sungai, kami sempat mencoba sate dari tepung yang di atasnya diberi telur ceplok. Selesai makan, kami keliling mencari spot untuk melihat kembang api. Akhirnya kami berdiri di tengah jembatan, sehingga bisa melihat kembang api dan kapal-kapal yang lewat. Makin malam, makin ramai. Selain warga lokal, banyak juga turis yg datang. Ini sebagian foto-fotonya, sebagian jepretan teman saya Sisca.
Jam 9 malam kami putuskan untuk kembali ke hostel setelah sebelumnya makan malam di stasiun Osaka. Beberapa harga makanan sudah didiskon karena sudah mau tutup. Untuk menjaga stamina karena perjalanan panjang, kami tiap hari minum jus jeruk, 148 yen untuk 1 liter. Kami beli roti untuk sarapan besok, karena hostel hanya menyediakan minuman saja. Hari yang cukup melelahkan tapi menyenangkan..... Selesai mandi, main internet dulu sebelum tidur.....
Tiket museum 600 yen, termasuk dalam Osaka pass kami, jadi tidak perlu bayar lagi. Kami diminta naik ke lantai paling atas untuk memulai penjelajahan kami di museum. Museum ini menceritakan tentang kehidupan kota Osaka dari jaman dulu sampai jaman modern. Dengan visualisasi berupa film dokumenter, patung-patung seukuran asli, lukisan, gambar berbentuk 3 D, mini replika yang sangat mirip dengan aslinya. Dan museum ini sangat menyenangkan untuk dikunjungi, saya berharap museum di Indonesia juga bisa dibuat seperti ini, pasti akan menarik baik anak-anak maupun orang dewasa.
Pada setiap lantai juga disediakan stempel untuk dicap pada kertas brosur yang telah disediakan, sejak saat itu kami selalu hunting stempel kemanapun kami pergi, dan ternyata Jepang memang penggila stempel, dimana-mana ada, di obyek wisata sampai di stasiun kereta.
Ada 1 lantai bernama Naniwa Archaeological Resource Centre, di sini pengunjung bisa menyusun puzzle yang telah disediakan berupa gambar sejarah Osaka dan juga pecahan guci yang bisa disusun. Banyak anak-anak maupun orang dewasa yang tekun menyusun puzzle, sangat menyenangkan. Di salah satu sudut, disediakan papan komentar untuk pengunjung. Ternyata komentar-komentar itu kemudian disusun per bulan, sehingga terlihat berapa banyak pengunjung yang menulis komentar. Sangat keren bukan....
Museum is fun, begitu kami sepakati setelah melihat museum ini. Kami mendapat hadiah notes kecil dari museum, tanda misi kami telah selesai ;D setelah brosur stempel sudah lengkap.
Jepang juga memberdayakan orang tua untuk bekerja di museum. Di salah satu lantai kami melihat seorang kakek menjelaskan kepada seorang anak dan ibunya dengan cara bermain semacam ular tangga. Setelah melempar dadu dan menjalankan pion, si kakek akan menjelaskan tempat atau peristiwa dimana pion itu berada. Menyenangkan bukan....
Untuk melihat pameran Evangelion harus membeli tiket lagi, 800 yen, jadi kami hanya melihat-lihat toko suvenirnya saja dan foto-foto dengan figur yang ada di depan lokasi pameran.
Dari lantai atas museum dapat dilihat Osaka Castle di seberang jalan, yang merupakan tujuan kami selanjutnya. Hari terik sekali, jadi kami membeli green tea ice cream dan makan siang dulu sebelum menuju Osaka Castle (600 yen, sudah termasuk dalam Osaka Pass) http://www.japan-guide.com/e/e4000.html.
Osaka Castle merupakan museum tentang sejarah kastil itu sendiri dan kehidupan Toyotomi Hideyoshi. Kami harus naik lift ke lantai paling atas, lalu turun tangga setelah mengitari setiap lantai. Selain memamerkan dengan barang-barang, lukisan ada juga film 3D mengenai kehidupan Toyotomi Hideyoshi, yang bisa diikuti secara berurutan di layar kecil.
Sebelum sampai ke lantai bawah, ada penyewaan kontum prajurit jaman dulu. Lany menyewa kostum untuk kami bertiga lengkap dengan topi perang dan pedang panjangnya. Heboh foto-foto, penyewaan yang sebelumnya sepi jadi menarik orang untuk ikutan. Bahkan ada salah satu penyewa yang minta foto bersama kami, selain itu kami juga jadi obyek foto pengunjung lain hehehe..... Saya sempat memotret beberapa anak kecil yang menyewa kostum perang dan yukata.
Tidak terasa sudah sore, lewat jam 3, padahal prosesi Tenjin Matsuri dimulai 3.30 dari Tenmangu Shrine. http://www.japan-guide.com/e/e4023.html. Kami tidak tahu dimana letaknya, dan sepertinya prosesi sudah mulai berjalan. Akhirnya Lany berinisiatif untuk bertanya pada pasangan yang kebetulan mau mengikuti festival, kami diajak pergi bersama, untunglah.....
Kami bertemu seorang nenek yang baik hati, dia pemain musik shamisen, alat petik tradional Jepang dengan 3 senar. Nenek ini membantu pasangan penolong kami untuk memperbaiki yukata (kimono musim panas) mereka, ternyata cukup ribet memasang obi atau ikat pinggangnya. Jadi kami menunggu si nenek selesai sambil ketawa-ketawa.
Kami langsung dibawa menuju sungai Okawa, tempat berlangsungnya festival kembang api. banyak orang menuju ke sana, banyak juga yang sudah memilih tempat duduk di sepanjang sungai. Pada festival ini banyak pedagang makan dan minuman sepanjang jalan di pinggir sungai, kami sempat mencoba sate dari tepung yang di atasnya diberi telur ceplok. Selesai makan, kami keliling mencari spot untuk melihat kembang api. Akhirnya kami berdiri di tengah jembatan, sehingga bisa melihat kembang api dan kapal-kapal yang lewat. Makin malam, makin ramai. Selain warga lokal, banyak juga turis yg datang. Ini sebagian foto-fotonya, sebagian jepretan teman saya Sisca.
Jam 9 malam kami putuskan untuk kembali ke hostel setelah sebelumnya makan malam di stasiun Osaka. Beberapa harga makanan sudah didiskon karena sudah mau tutup. Untuk menjaga stamina karena perjalanan panjang, kami tiap hari minum jus jeruk, 148 yen untuk 1 liter. Kami beli roti untuk sarapan besok, karena hostel hanya menyediakan minuman saja. Hari yang cukup melelahkan tapi menyenangkan..... Selesai mandi, main internet dulu sebelum tidur.....
2013/08/14
Japan Trip - Day 3 - Osaka
Pagi-pagi setelah mandi, kami sarapan di ruang makan. Self service, berbagai macam roti sepertinya buatan sendiri karena baunya sampai ke lorong-lorong hotel. Minuman bebas ambil sendiri, ada kopi, teh, jus. Kami harus sampai di stasiun Odawara sebelum jam 10, sedangkan perjalanan dari hakone cukup jauh. Paling lambat 7.30 kami harus sudah keluar dari hotel. Shuttle bus masih belum ada, jadi kami harus jalan kaki menuju Yunessun untuk naik bus. Sebenarnya bisa naik kereta api ke Odawara, tapi stasiun kereta letaknya lebih jauh dan 2 kali ganti kereta, sedangkan kami harus membawa koper. Kalau naik bus hanya sekali saja. Pagi masih berkabut dan dingin sewaktu kami jalan menuju halte bus.
Dari Yenessun ke Odawara dengan bus perlu sekitar 45 menit, ongkos bus tergantung dari jarak tempuh yang bisa dilihat dari papan yang ada di atas supir, harga selalu terupdate setelah bus meninggalkan halte.
Hari ini pertama kali kami menggunakan JR Pass kami. Kami naik Hikari dari Osawara ke Shin Osaka, kemudian ganti kereta ke Osaka. Stasiun Osaka sangat besar dan terintegrasi antara stasiun JR, subway dan mall.
Di setiap stasiun besar selalu ada food court dan toko-toko di bawah tanah. Hari sudah siang, jadi kami cari makan dulu di bawah stasiun. Kami menemukan banyak hal-hal menarik di stasiun Osaka, ada toilet yang bersih dengan pintu kayu bundar dimana di tempat cuci tangan tersedia sabun dan lotion dari body shop.....waaaa......, kami makan shusi dan onigiri, lalu di lantai atas sedang ada boyband yang launcing album, kami sempatkan menonton sebentar sambil duduk-duduk.
Lalu kami ke Tourist Information, untuk mencari tahu transportasi selama di Osaka. Kami berencana eksplor Osaka selama 2 hari, bersamaan dengan Tenjin Matsuri (http://www.japan-guide.com/e/e4023.html), festifal musim panas di Osaka. Setiap kota besar punya festival masing-masing, Tokyo dengan Sumida river, Kyoto dengan Gion matsuri. Info tentang Osaka bisa dilihat di http://www.japan-guide.com/e/e2157.html.
Akhirnya kami memutuskan untuk membeli Osaka 2 day pass, dimana bebas naik subway, bus dan tiket masuk 28 tempat berupa kupon, kita hanya perlu memperlihatkan pass beserta sobekan kupon terkait untuk ditukar dengan pass masuk.
Kami naik subway menuju ke penginapan kami untuk 3 hari yaitu Hostel Base Point Osaka di daerah Namba, kami pesan female dorm seharga 2.534 yen per orang. Ternyata kami beruntung karena kami bertiga mendapat 1 kamar sendiri dan bisa langsung check in.
Namba adalah area pertokoan dan belanja, daerah ini cukup ramai. Kami sempat mutar-mutar mencari lokasi hostel, karena petunjuk arahnya yang kurang jelas, akhirnya di bantu oleh seorang bapak yang sedang berdiri memasarkan produk atau apalah, dia membantu kami dengan menelpon serta mengantar kami ke hostel. Ternyata hostel berada di gang kecil. Hostelnya memang kecil dan sempit, tetapi internetnya dong.....kencang banget.....
Hari sudah agak sore, acara Tenjin Matsuri untuk hari ini sudah selesai. Kami memutuskan untuk ke Osaka aquarium, kami ingin berlama-lama di sana, paling tidak 3 jam, biar tidak rugi bayar mahal hahaha..... Harga tiket tidak termasuk dalam Osaka pass, jadi kami harus membayar terpisah 2.300 yen. Ternyata ada pass masuk untuk setahun, hanya 5.000 yen....waaaa....seandainya kami tinggal di sana ya....
Osaka aquarium ditata per zona, misalnya zona antartika, zona rain forrest, dan lain-lain. Kita tinggal mengikuti arah panah menyusuri aqurium. Atraksi utamanya adalah Pasific ocean tank, dengan panjang 34 meter, kedalaman 9 meter dan menampung 5.400 ton air. Ketebalan kaca akrilik mencapai 30 cm.
Ini sebagian foto-foto koleksi Osaka aquarium, termasuk koleksi ubur-ubur yang sayangnya tidak ada ubur-ubur dari Kakaban Indonesia yang unik.
Hari sudah malam, namun kami masih sempat naik Temposan giant ferris wheel harga tiket 700 yen, tapi kami menggunakan kupon Osaka Pass, yang berlokasi di depan aquarium. Menikmati kota Osaka dari ketinggian, cukup menyenangkan.
Sebenarnya kami masih mau naik Cruise Ship Santa Maria dan Captain Line, yang berada di dermaga belakang aquarium, termasuk dalam Osaka pass, namum ternyata sudah tutup, sudah lewat jam 8 malam.
Kami menutup hari dengan makan malam nasi kari dan miso sup seharga 370 yen dekat stasiun Osakako dan menikmati pertunjukan jalanan di area Namba, jalan menuju penginapan. Beberapa orang pemusik alat tiup dengan lagu R&B, seorang penonton bergabung menari. What a great night.....
Dari Yenessun ke Odawara dengan bus perlu sekitar 45 menit, ongkos bus tergantung dari jarak tempuh yang bisa dilihat dari papan yang ada di atas supir, harga selalu terupdate setelah bus meninggalkan halte.
Hari ini pertama kali kami menggunakan JR Pass kami. Kami naik Hikari dari Osawara ke Shin Osaka, kemudian ganti kereta ke Osaka. Stasiun Osaka sangat besar dan terintegrasi antara stasiun JR, subway dan mall.
Di setiap stasiun besar selalu ada food court dan toko-toko di bawah tanah. Hari sudah siang, jadi kami cari makan dulu di bawah stasiun. Kami menemukan banyak hal-hal menarik di stasiun Osaka, ada toilet yang bersih dengan pintu kayu bundar dimana di tempat cuci tangan tersedia sabun dan lotion dari body shop.....waaaa......, kami makan shusi dan onigiri, lalu di lantai atas sedang ada boyband yang launcing album, kami sempatkan menonton sebentar sambil duduk-duduk.
Lalu kami ke Tourist Information, untuk mencari tahu transportasi selama di Osaka. Kami berencana eksplor Osaka selama 2 hari, bersamaan dengan Tenjin Matsuri (http://www.japan-guide.com/e/e4023.html), festifal musim panas di Osaka. Setiap kota besar punya festival masing-masing, Tokyo dengan Sumida river, Kyoto dengan Gion matsuri. Info tentang Osaka bisa dilihat di http://www.japan-guide.com/e/e2157.html.
Akhirnya kami memutuskan untuk membeli Osaka 2 day pass, dimana bebas naik subway, bus dan tiket masuk 28 tempat berupa kupon, kita hanya perlu memperlihatkan pass beserta sobekan kupon terkait untuk ditukar dengan pass masuk.
Kami naik subway menuju ke penginapan kami untuk 3 hari yaitu Hostel Base Point Osaka di daerah Namba, kami pesan female dorm seharga 2.534 yen per orang. Ternyata kami beruntung karena kami bertiga mendapat 1 kamar sendiri dan bisa langsung check in.
Namba adalah area pertokoan dan belanja, daerah ini cukup ramai. Kami sempat mutar-mutar mencari lokasi hostel, karena petunjuk arahnya yang kurang jelas, akhirnya di bantu oleh seorang bapak yang sedang berdiri memasarkan produk atau apalah, dia membantu kami dengan menelpon serta mengantar kami ke hostel. Ternyata hostel berada di gang kecil. Hostelnya memang kecil dan sempit, tetapi internetnya dong.....kencang banget.....
Hari sudah agak sore, acara Tenjin Matsuri untuk hari ini sudah selesai. Kami memutuskan untuk ke Osaka aquarium, kami ingin berlama-lama di sana, paling tidak 3 jam, biar tidak rugi bayar mahal hahaha..... Harga tiket tidak termasuk dalam Osaka pass, jadi kami harus membayar terpisah 2.300 yen. Ternyata ada pass masuk untuk setahun, hanya 5.000 yen....waaaa....seandainya kami tinggal di sana ya....
Osaka aquarium ditata per zona, misalnya zona antartika, zona rain forrest, dan lain-lain. Kita tinggal mengikuti arah panah menyusuri aqurium. Atraksi utamanya adalah Pasific ocean tank, dengan panjang 34 meter, kedalaman 9 meter dan menampung 5.400 ton air. Ketebalan kaca akrilik mencapai 30 cm.
Ini sebagian foto-foto koleksi Osaka aquarium, termasuk koleksi ubur-ubur yang sayangnya tidak ada ubur-ubur dari Kakaban Indonesia yang unik.
Hari sudah malam, namun kami masih sempat naik Temposan giant ferris wheel harga tiket 700 yen, tapi kami menggunakan kupon Osaka Pass, yang berlokasi di depan aquarium. Menikmati kota Osaka dari ketinggian, cukup menyenangkan.
Sebenarnya kami masih mau naik Cruise Ship Santa Maria dan Captain Line, yang berada di dermaga belakang aquarium, termasuk dalam Osaka pass, namum ternyata sudah tutup, sudah lewat jam 8 malam.
Kami menutup hari dengan makan malam nasi kari dan miso sup seharga 370 yen dekat stasiun Osakako dan menikmati pertunjukan jalanan di area Namba, jalan menuju penginapan. Beberapa orang pemusik alat tiup dengan lagu R&B, seorang penonton bergabung menari. What a great night.....
![]() |
| Night closure of the day.... |
2013/08/13
Japan Trip - Day 2 - Hakone
Pagi-pagi kami bangun, bersih diri, lalu beli tiket Odakyu Hakone Highway Bus seharga 1.900 yen, dari Haneda Airport sampai Hakone Yumoto. Bus berangkat jam 8:25, waktu tempuh 2 jam. Sarapan kami beli di Lawson, sushi roll seharga 298 yen.
Halte bus untuk ke Hakone ternyata berada di seberang airport, jadi kami harus menyebrang melalui lantai 2. Untung kami tanya kepada CS yang berdiri siap memberikan informasi, karena kami salah tempat menunggu.
Perjalanan lancar, hanya memasuki Hakone agak macet karena jalanan yang sempit dan berkelok-kelok. Sesampai di halte bus Hakone Yumoto, kami bertanya kepada petugas dimana bisa membeli Hakone Pass. Kami diantar ke tempat penjualan, tidak jauh dari halte bus. Harga Hakone 2 days Pass 3.900 yen yang bisa digunakana untuk berbagai macam transportasi serta fasilitas yang ada di Hakone http://www.japan-guide.com/e/e2358_008.html
Hal lain lagi, banyak orang Jepang yang salah antara left dan right untuk kiri dan kanan. Mereka bilang left tetapi gestur tangan menunjuk ke arah kanan, jadi kalau dapat info yang tidak sinkron, percayai arah tangannya. Memang tidak semua salah, namun sebagian besar hahaha.....
Sesampai di hotel, karena belum waktunya check in, maka kami selesaikan administrasinya dan menitipkan tas-tas kami. Harga per kamar untuk 1 orang 3.150 yen. Hotelnya bagus, fasilitas lengkap termasuk sarapan, pokoknya rekomen deh.
Tujuan pertama kami ke Gora, dalam perjalanan menuju stasiun KA, kami melewati Hakone Open Air Museum kami tidak masuk karena tidak cukup waktu. Dengan Hakone Pass, kami naik Hakone Tozan Railways menuju Gora, kemudian ganti naik Sounzan Cable Car sampai Sounzan, lanjut ke Owakudani naik Hakone Ropeway. Kami hanya foto-foto sebentar di Owakudani, tidak eksplor karena tidak cukup waktu, tapi kami sempat makan es krim green tea kami yang pertama (300 yen) dan ini es krim green tea yang paling enak yang kami coba selama di Jepang.
Dari Owakudani menuju Togendai, kembali naik Hakone ropeway. Di Togendai ganti naik boat menyusuri lake Ashi. Seharusnya selama berlayar, kita dapat melihat gunung Fuji, namun kami belum beruntung karena hujan cukup deras. Sesampai di Hakonemachi, rencananya kami akan mengunjungi Hakone checkpoint, Hakone detached palace, Hakone shrine dan menyusuri Old Tokaido walking trail, namun semuanya gagal karena hujan deras. Kami membeli jagung rebus dan cumi bakar di depan Hakonemachi, harganya cukup mahal tapi kami ingin coba. Jagung rebusnya enak tetapi cuminya agak kurang bumbu.
Kami lihat anak-anak memakai jas hujan warna-warni dengan bagian belakang yang bisa mengembang, jadi ransel di punggung terlindungi sekalian. Selama kami di Jepang, kami cari jas hujan model begitu untuk dewasa, ternyata tidak ketemu. Untuk ukuran anak-anakpun harganya cukup mahal.
Hujan masih deras, sambil menunggu bus, kamimelihat-lihat toko suvenir di sekitar terminal bus yang terletak di depan dermaga. Kami memutuskan untuk naik bus menggunakan Hakone pass menuju Odawara, sekalian mengaktivasi JR Pass dan memesan kursi untuk besok. Dengan JR Pass, kami tidak perlu membayar reserved seat. Kalau tidak menggunakan pass, reserved seat cukup mahal yaitu 5.120 yen. Untuk selanjutnya kami menggunakan reserved seat hanya jika untuk perjalanan jauh, lebih dari 30 menit. Tanpa reserved seat, tersedia 3 gerbong yang bisa dinaiki, kalaupun tidak dapat kursi, masih diperbolehkan berdiri. Kami melihat-lihat sekitar stasiun Odawara, sepertinya pusat kota karena jauh lebih ramai dibanding dengan Hakone.
Untuk kembali ke hotel, kami menggunakan kereta api. Dari Odawara menuju Hakone Yumoto dengan Odakyu train, lalu ganti Tozan railways turun di stasiun Kowadani. Jalur Tozan railways cukup menarik, relnya zig zag, masinis harus turun naik kereta untuk memindahkan jalur relnya, tidak ada petugas lain. Kereta juga dalam keadaan hampir kosong, hanya kami bertiga dan 2 orang lagi. Hari sudah gelap. Sampai di Kowadani ternyata kondektur beralih peran menjadi pemeriksa tiket hahahaha..... hanya kami bertiga yang masih tersisa di kereta.
Keluar dari stasiun, kami tidak tahu harus bagaimana menuju hotel. Beruntung kami bertemu dengan orang dari Taiwan yang sungguh kebetulan juga menginap di hotel kami. Dia bilang kami harus naik bus sampai Kowakien, lalu menyebrang ke Yunessun naik shuttle bus. Keberuntungan masih menyertai kami, karena shuttle bus terakhir masih ada.
Sampai di hotel, kami ambil kunci kamar, beres-beres dan makan malam yang sudah kami beli tadi siang, ramen tinggal diberi air panas saja. Hotel menyediakan air panas dan minuman di ruang makan.
Hotel menyediakan onsen untuk tamu tanpa harus membayar lagi. Ini pengalaman pertama kami di onsen, namun tidak usah khawatir ada petunjuk berbahasa inggris di ruang ganti. Kami cukup merasa nyaman karena hanya kami bertiga yang menggunakan onsen. Sebelum masuk ke dalam bak air panas, harus mandi bersih dahulu. Sabun, shampo dan conditioner sudah disediakan di setiap shower, semuanya Shiseido hahahaha...
Hotel kami punya fasilitas cukup lengkap, selain onsen, makan pagi, terdapat beberapa mesin yang melayani kebutuhan tamu, menjual makanan, minuman sampai alat mandi, juga secure box dan alat pijit kaki. Tinggal memasukkan koin, beres deh.
Halte bus untuk ke Hakone ternyata berada di seberang airport, jadi kami harus menyebrang melalui lantai 2. Untung kami tanya kepada CS yang berdiri siap memberikan informasi, karena kami salah tempat menunggu.
![]() |
| Hakone Free Pass 2 days |
Dari Yumoto kami naik bus menuju halte terdekat dengan penginapan kami B&B Pension Hakone yaitu halte Kowakien. Kami tidak tahu selanjutnya bagaimana menuju hotel kami.
Hari sudah siang, kami beli makan siang sekaligus makan malam di Family Mart dekat halte. Mungkin karena orang Jepang terbiasa menerima informasi bukan memberikan informasi, sewaktu kami tanya arah menuju hotel, semuanya tidak jelas. Kami sempat tersesat, setelah orang ketiga barulah jelas. Kami bertemu dengan cowok yang fasih berbahasa inggris dan ternyata ayahnya mengajar bahasa Jepang di Bali. Kami diantar sampai Yunessun hot spring water theme park yang berada di seberang halte Kowakien. Ternyata dari Yunessun ada free shuttle bus menuju hotel kami.
Hal lain lagi, banyak orang Jepang yang salah antara left dan right untuk kiri dan kanan. Mereka bilang left tetapi gestur tangan menunjuk ke arah kanan, jadi kalau dapat info yang tidak sinkron, percayai arah tangannya. Memang tidak semua salah, namun sebagian besar hahaha.....
Sesampai di hotel, karena belum waktunya check in, maka kami selesaikan administrasinya dan menitipkan tas-tas kami. Harga per kamar untuk 1 orang 3.150 yen. Hotelnya bagus, fasilitas lengkap termasuk sarapan, pokoknya rekomen deh.
Tujuan pertama kami ke Gora, dalam perjalanan menuju stasiun KA, kami melewati Hakone Open Air Museum kami tidak masuk karena tidak cukup waktu. Dengan Hakone Pass, kami naik Hakone Tozan Railways menuju Gora, kemudian ganti naik Sounzan Cable Car sampai Sounzan, lanjut ke Owakudani naik Hakone Ropeway. Kami hanya foto-foto sebentar di Owakudani, tidak eksplor karena tidak cukup waktu, tapi kami sempat makan es krim green tea kami yang pertama (300 yen) dan ini es krim green tea yang paling enak yang kami coba selama di Jepang.
![]() |
| @Owakudani |
![]() |
| Hakone sightseeing boat @lake Ashi |
![]() |
| Corn & squid seller @Hakonemachi |
Kami lihat anak-anak memakai jas hujan warna-warni dengan bagian belakang yang bisa mengembang, jadi ransel di punggung terlindungi sekalian. Selama kami di Jepang, kami cari jas hujan model begitu untuk dewasa, ternyata tidak ketemu. Untuk ukuran anak-anakpun harganya cukup mahal.
![]() |
| jas hujan impian ;p |
Untuk kembali ke hotel, kami menggunakan kereta api. Dari Odawara menuju Hakone Yumoto dengan Odakyu train, lalu ganti Tozan railways turun di stasiun Kowadani. Jalur Tozan railways cukup menarik, relnya zig zag, masinis harus turun naik kereta untuk memindahkan jalur relnya, tidak ada petugas lain. Kereta juga dalam keadaan hampir kosong, hanya kami bertiga dan 2 orang lagi. Hari sudah gelap. Sampai di Kowadani ternyata kondektur beralih peran menjadi pemeriksa tiket hahahaha..... hanya kami bertiga yang masih tersisa di kereta.
Keluar dari stasiun, kami tidak tahu harus bagaimana menuju hotel. Beruntung kami bertemu dengan orang dari Taiwan yang sungguh kebetulan juga menginap di hotel kami. Dia bilang kami harus naik bus sampai Kowakien, lalu menyebrang ke Yunessun naik shuttle bus. Keberuntungan masih menyertai kami, karena shuttle bus terakhir masih ada.
Sampai di hotel, kami ambil kunci kamar, beres-beres dan makan malam yang sudah kami beli tadi siang, ramen tinggal diberi air panas saja. Hotel menyediakan air panas dan minuman di ruang makan.
Hotel menyediakan onsen untuk tamu tanpa harus membayar lagi. Ini pengalaman pertama kami di onsen, namun tidak usah khawatir ada petunjuk berbahasa inggris di ruang ganti. Kami cukup merasa nyaman karena hanya kami bertiga yang menggunakan onsen. Sebelum masuk ke dalam bak air panas, harus mandi bersih dahulu. Sabun, shampo dan conditioner sudah disediakan di setiap shower, semuanya Shiseido hahahaha...
Hotel kami punya fasilitas cukup lengkap, selain onsen, makan pagi, terdapat beberapa mesin yang melayani kebutuhan tamu, menjual makanan, minuman sampai alat mandi, juga secure box dan alat pijit kaki. Tinggal memasukkan koin, beres deh.
![]() |
| @B&B Pension Hakone |
2013/08/12
Japan Trip - Day 1 @Haneda Airport
Penerbangan kami dari Jakarta ke Tokyo dengan menggunakan Air Asia:
Haneda Airport tidak terlalu ramai pada waktu kami datang, mungkin Narita akan lebih ramai. Tidak terlalu wah, tetapi sangat bersih. Menariknya pada lantai lokasi cafe dan resto, dibuat bangunan menyerupai jaman Edo.
Yang lebih mengesankan adalah toiletnya, selain bersih sekali, toiletnya canggih dengan banyak tombol yang fungsinya antara lain:
Meskipun air kran, layak diminum, tetap disediakan tempat untuk minum di dekat toilet, airnya dingin lagi. Kalau ke Jepang jangan lupa bawa botol minum, paling tidak untuk menghemat membeli air minum, meskipun mesin-mesin yang menjual minuman botol/kaleng tersedia dimana-mana bahkan sampai ke desa, pinggir jalan, pokoknya mudah ditemui, harganya dalam kisaran 100 - 150 yen.
Wifi di Haneda sangat kencang, kalau tidak ingat harus tidur supaya tidak teler untuk perjalanan selanjutnya, bisa-bisa ngenet melulu sampai pagi hehehe.....
Haneda sangat nyaman dan aman untuk tidur, tersedia bangku panjang dan banyak satpam yang jaga, jadi tidak khawatir dengan barang-barang ketika kita tidur.
Kami sepakat untuk memberi tema Happy Feet pada trip Jepang kami kali ini. Ini foto happy feet pertama kami, di Haneda.
- Jakarta - Kuala Lumpur 8:35 - 11:35, terdapat perbedaan waktu antara Jakarta dan KL, dimana KL 1 jam lebih cepat dari Jakarta. Penerbangan ditempuh dalam 2 jam.
- KL - Tokyo Haneda 14:45 - 23:00, penerbangan ditempuh dalam 7 jam 15 menit. Waktu Tokyo 1 jam lebih cepat daripada KL dan 2 jam lebih cepat dari Jakarta.
Haneda Airport tidak terlalu ramai pada waktu kami datang, mungkin Narita akan lebih ramai. Tidak terlalu wah, tetapi sangat bersih. Menariknya pada lantai lokasi cafe dan resto, dibuat bangunan menyerupai jaman Edo.
![]() |
| Edo structure @Haneda Airport |
![]() |
| Lounge @Haneda Airport |
Yang lebih mengesankan adalah toiletnya, selain bersih sekali, toiletnya canggih dengan banyak tombol yang fungsinya antara lain:
- Mengeluarkan suara mirip bunyi siraman air untuk menyamarkan bunyi ketika kita buang air.
- Mengeluarkan air untuk membasuh dengan 2 jenis arah semprotan air.
- Dryer
![]() |
| Toilet features |
Meskipun air kran, layak diminum, tetap disediakan tempat untuk minum di dekat toilet, airnya dingin lagi. Kalau ke Jepang jangan lupa bawa botol minum, paling tidak untuk menghemat membeli air minum, meskipun mesin-mesin yang menjual minuman botol/kaleng tersedia dimana-mana bahkan sampai ke desa, pinggir jalan, pokoknya mudah ditemui, harganya dalam kisaran 100 - 150 yen.
![]() |
| Beverage machine |
Haneda sangat nyaman dan aman untuk tidur, tersedia bangku panjang dan banyak satpam yang jaga, jadi tidak khawatir dengan barang-barang ketika kita tidur.
Kami sepakat untuk memberi tema Happy Feet pada trip Jepang kami kali ini. Ini foto happy feet pertama kami, di Haneda.
![]() |
| Happy feet @Haneda Airport |
My Japan's First Trip
Dengan adanya Air Asia, maka trip ke Jepang menjadi lebih terjangkau. Untuk trip libur lebaran biasanya sekitar November tahun sebelumnya sudah browsing tiket. Setelah beberapa alternatif, akhirnya saya putuskan untuk ke Jepang. Lalu saya hubungi teman yang saya perkirakan mau ikut, karena saya masih belum nyaman untuk bepergian sendirian, paling tidak ada satu teman, cukuplah. Mencari teman seperjalanan ala backpaker ada seninya, sebab tidak semua orang bisa menikmati perjalanan secara backpacker, padahal kita akan menghabiskan waktu 24 jam sehari bersama-sama. Saya cukup beruntung punya beberapa teman jalan yang cocok, jadi kalau yang satu tidak bisa, bisa ajak yang lainnya.
Untuk trip Jepang ini, dua teman saya bergabung, jadi kami pergi bertiga. Keputusan booking tiket diambil cepat melalui chatting sebab harga tiket berubah dengan cepat. Akhirnya kami dapat tiket 4 jutaan (2 tiket dapat 3,8 juta dan 1 tiket 4,3 juta jadi kami total dan bagi rata bertiga). Kami memutuskan untuk trip selama 15 hari.
Cari info tentang Jepang dimana? berikut beberapa website yang berguna:
Mau lihat apa di Jepang?
Berikut itinerary kami.
Untuk trip Jepang ini, dua teman saya bergabung, jadi kami pergi bertiga. Keputusan booking tiket diambil cepat melalui chatting sebab harga tiket berubah dengan cepat. Akhirnya kami dapat tiket 4 jutaan (2 tiket dapat 3,8 juta dan 1 tiket 4,3 juta jadi kami total dan bagi rata bertiga). Kami memutuskan untuk trip selama 15 hari.
Cari info tentang Jepang dimana? berikut beberapa website yang berguna:
- www.japan-guide.com infonya cukup lengkap dan berbahasa inggris, selebihnya bisa tanya di milis, google atau ke forum yang ada di japan-guide biasanya akan ada yang balas.
- www.hyperdia/com/en membantu kita untuk merencanakan rute perjalanan kita dengan kereta.
- Untuk mencari penginapan seperti biasa saya menggunakan booking.com, karena tidak perlu membayar terlebih dahulu.
- Info mengenail type dan harga Japan Rail Pass di http://www.japanrailpass.net/eng/en003.html , pembelian dilakukan di luar Jepang. Saya membelinya dari salah satu agen JR Pass yaitu SMI Travel, melalui email jkt@smitravel-indonesia.com, dengan mengirimkan scan passport yang ada foto kita & halaman visa Jepang. Jadi pembelian hanya bisa dilakukan jika kita sudah memperoleh visa. Tiket bisa diantar tanpa ongkos kirim, kalau uang yang kita berikan dalam yen, jika ada kembalian akan diberikan dalam rupiah.
- Info visa Jepang www.id.emb-japan.go.jp/visa.html , seluruh dokumen harus disusun berurutan dan ukuran kertas A4 (jangan dipotong). Biaya pembuatan visa rp.350.000, prosesnya 4 hari kerja. Pengajuan permohonan visa senin - jumat pukul 8.30 - 12.00 sedangkan pengambilan paspor pukul 13.30 - 15.00. Ada 2 loket untuk perorangan, 1 loket untuk biro perjalanan. 2 loket lagi melayani dokumen orang Jepang yang tinggal di Indonesia seperti pembuatan pasport, akta kelahiran dan lain-lain.
![]() |
| Japan Map |
Mau lihat apa di Jepang?
- Gunung Fuji pastinya wajib dilihat, apalagi ini trip pertama, jadi belum pernah ke sana. Nah ada ada 2 alternatif untuk melihat gunung Fuji, dari Hakone atau Kawaguchiko. Kami akan pergi pada musim panas, jadi musim pendakian gunung Fuji jadi kemungkinan area Kawaguchiko akan banyak pengunjung. Hakone punya moda transportasi dan spot menarik yang lebih beragam. Jadi kami memutuskan untuk ke Hakone. Selain itu ada bus langsung dari Haneda menuju Hakone. Baca ttg Hakone http://www.japan-guide.com/e/e5200.html dan Kawaguchiko http://www.japan-guide.com/e/e6906.html.
- Tokyo, sudah pasti harus dikunjungi. Kami eksplor Tokyo sebelum pulang, karena penerbangan kami ke dan dari Tokyo. Info tentang Tokyo: http://www.japan-guide.com/e/e2164.html
- Osaka, wajib dikunjungi, apalagi saat kami ke sana bersamaan dengan berlangsungnya Tenjin Matsuri (http://www.japan-guide.com/e/e4023.html), festival musim panas di Osaka. Karena kami menggunakan JR Pass, maka Osaka kami jadikan basis ke kota-kota lainnya, sehingga tidak perlu selalu bawa-bawa koper kemana-mana. Info tentang Osaka: http://www.japan-guide.com/e/e2157.html
- Kyoto, wajib juga dikunjungi merupakan ibu kota Jepang sebelum dipindah ke Tokyo. Kyoto juga kami jadikan basis ke kota-kota lainnya. Info tentang Kyoto: http://www.japan-guide.com/e/e2158.html
- Kota-kota sekitar Osaka & Kyoto yang bisa dicapai dengan JR Pass : Hiroshima, Miyajima, Himeji, Kobe, Nara.
- Shirakawa-go, merupakan situs Unesco world heritage, dimana terdapat rumah-rumah pertanian tradisional yang berusia lebih dari 250 tahun. Untuk menuju kesini kami harus ke Kanazawa terlebih dahulu. Info tentang Shirakawa-go: http://www.japan-guide.com/e/e5950.html
- Tateyama Kurobe Alpine Route, salah satu destinasi menarik namun cukup mahal. Saya tawarkan ke teman2, mereka setuju untuk ke sana. Info tentang Alpine route: http://www.japan-guide.com/e/e7550.html
Berikut itinerary kami.
- Jakarta-KL-Haneda, menginap di Haneda Airport
- Hakone, menginap di B&B Pension Hakone
- Osaka, menginap di Base Point Osaka
- Osaka, menginap di Base Point Osaka
- Hiroshima-Miyajima-Osaka, menginap di Base Point Osaka
- Kyoto, menginap di Piece Hostel Kyoto
- Himeji-Kobe-Kyoto, menginap di Piece Hostel Kyoto
- Arashiyama-Kyoto, menginap di Piece Hostel Kyoto
- Kanazawa-Shirakawa go - Toyama, menginap di Hotel Prime Toyama
- Tateyama Kurobe Alpine Route - Matsumoto - Shinjuku Tokyo, menginap di Asakusa Hotel Wasou
- Tokyo, menginap di Asakusa Hotel Wasou
- Tokyo, menginap di Juyoh Hotel
- Tokyo, menginap di Juyoh Hotel
- Tokyo, menginap di Juyoh Hotel
- Tokyo Haneda - KL
- KL - Jakarta
Lokasi:
Jepang
Langganan:
Postingan (Atom)






















































