2018/01/04

Central Vietnam Trip 2017 - Hue Day 1

Jam 7 pagi kami sudah siap duduk di meja makan tuan rumah, menunggu sarapan dibungkus dan dijemput untuk naik bus ke Hue. Trinh masih sibuk menyiapkan anaknya ke sekolah. Akhirnya siap juga sarapan kami, tapi ternyata jemputan baru datang jam 8.30. Sarapan akhirnya kami makan juga karena kelamaan menunggu.

Kami dijemput dengan motor, dia meminta kami mengikutinya jalan kaki ke jalan utama dalam gerimis. Bus menunggu di pinggir jalan, sebagian kursi sudah terisi. Ternyata kami mendapat bus sleeper. Busnya besar, dengan 3 deretan kursi, kanan, tengah dan kiri serta bertingkat, jadi ada yang duduk di atas kursi bawah. Kursi tanpa kaki, tempat duduk bisa diatur posisi sandarannya dari tegak sampai posisi berbaring (kalau tidak rusak ya...), lalu tersedia ceruk untuk kaki kita menjulur ke depan tanpa mengganggu penumpang di depannya, dilengkapi dengan selimut. 

Sleeper Bus

Kami menaruh ransel di bagasi, lalu naik ke bus dan diberi kantong plastik. Kami diminta melepas alas kaki dan membawanya dimasukkan kantong plastik yang diberikan, dengan demikian bus tetap dalam keadaan bersih. 

Kami memilih duduk di sisi kanan berurutan, dan ternyata ini pilihan yang tepat. Selain pemandangan yang lebih bagus, juga matahari pagi datang dari sisi kiri bus. Setelah kami, masih ada beberapa penumpang lagi yang naik. 

Sekitar jam 10, bus berhenti di sebuah tempat untuk istirahat selama 30 menit. Kita bisa ke toilet, makan dan minum di sini. Sepertinya memang ini tempat pemberhentian bus, karena ada beberapa bus lain selain bus kami. Tips jika naik bus di negara yang tidak kita paham atau bahkan tidak ada tulisannya, sebaiknya foto dulu bus nya sebelum meninggalkannya, agar kita tidak salah naik bus saat kembali. Ini juga pernah saya alami waktu naik bus di China. Karena biasanya tempat istirahat akan banyak bus yang serupa parkir. 

Sleeper bus to Hue

Setelah ke toilet, kami memesan kopi. Saya kopi hitam, teman saya kopi susu, harga secangkir kopi VND.20.000. Di kedai ini hanya ada 1 yang bisa berbahasa Inggris, jadi kita harus menunggu, yang lain tidak mau menerima pesanan karena tidak paham. Demikian juga saat membayar. Selain minuman, tersedia juga makanan. 

Singkat cerita, kami sampai di Hue sekitar 11.40. Jarak antara Hoi An ke Hue, sekitar 127 Km ke arah utara dan melewati Da Nang. Hue memiliki stasiun kereta api dan bandara. Hanya saja dari Hoi An harus ke Da Nang dahulu baru ganti dengan kereta atau pesawat terbang. Yang paling praktis dan tidak merepotkan ya naik bus atau mobil. 

Kota Hue masih di Vietnam Tengah, terletak di tepi sungai Parfum (Perfume River), berjarak 700 km selatan Hanoi, 1100 km utara Ho Chi Minh City/Saigon.

Kami diturunkan di sebuah agen travel entah di mana. Seseorang mendekati kami menanyakan apa sudah mendapat penginapan, dan menawarkannya. Saya menunjukkan kertas booking kami dan bertanya, apakah jauh dari situ. Katanya sekitar 20 menit jalan kaki, lalu dia menawarkan taxi. Ah....cuma 20 menit, no problem.....jadi saya menolaknya. Ketika saya tanya arahnya kemana, dia sudah tidak menanggapi dan meninggalkan kami, mencari sasaran lain....walah......tapi saya maklum. Saya pinjam smartphone teman saya, cek arah dengan google map, ternyata hanya sekitar 800 meter saja.....ah...tak sampai 20 menit jalan kaki....

Mengikuti petunjuk google map, kami berjalan kaki menuju Ngoc Tung Mini Hotel yang sudah saya booking via Booking.com untuk 2 malam termasuk sarapan. Hotel ini adalah penginapan termurah yang kami gunakan selama trip kali ini. 

Menurut google map, kami sudah sampai di tujuan tapi saya tidak melihat tulisan hotelnya. Saya bertanya di sebuah apotik, lalu dia membuka translator di handphone-nya dan menunjukkan ke saya hasil translate. Saya membaca dan paham, menurutnya kami harus belok kiri. Saya berterima kasih lalu mencari hotelnya. Ternyata tidak juga menemukannya. Lalu saya cari berdasarkan nomor yang tertera dan mengurutkannya, ternyata harus belok kanan lagi. Hotel berupa ruko bertingkat 4, kami berada di kompleks ruko, banyak juga yang diubah menjadi penginapan. 

Memasuki hotel, dekat pintu tersedia botol berisi air minum, lalu lemari kayu tempat menaruh alas kaki kita yang harus dilepas, disediakan sandal plastik yang boleh digunakan di dalam hotel. Lalu ada ruang tamu yang berfungsi juga sebagai ruang makan dan meja resepsionis.

Saya menunjukkan kerta booking untuk check in dan bertanya berapa pembayarannya dalam VND, tertulis USD 14,4. Kami sempat berdebat mengenai nilai dalam VND, karena perhitungan harga yang tidak sesuai, setelah tawar menawar, sepakat dengan VND 325.000. Kami harus menunggu sampai jam 1 untuk boleh masuk ke kamar. Lalu kami titip ransel dan pamit untuk makan siang dulu.

Dekat hotel banyak warung makan, kami pilih yang paling ramai dan menjual nasi. Di sini kita bisa pilih lauk yang kita mau dari mulai ikan, ayam, telur, tahu, daging babi dan sayuran, mirip dengan kalau kita makan di warteg. Saya pilih Nasi, tahu, ikan dan sayur, lalu diberi semangkuk kecil kuah dengan sedikit sayur. Di meja disediakan gelas-gelas plastik dan wadah berisi teh untuk minum. Saya tidak jadi mengambil minum, setelah saya perhatikan gelas-gelas itu tidak dicuci, jadi minum dari bekas orang lain. Rupanya ini kebiasaan di Vietnam, seperti juga di China.

Lunch

Selesai makan kami kembali ke hotel, dan masih menunggu sekitar 15 menit untuk sampai jam 1. Kami mendapat kamar di lantai 2 dengan 2 tempat tidur besar, kamar mandi di dalam, TV, meja, kulkas kecil dan lemari. Lalu saya lihat di balkon kamar, penuh dengan jemuran. Saya ingin tahu akses ke balkon, setelah cek dan ricek, satu-satunya akses adalah dari pintu kamar kami karena balkon dikelilingi dengan pagar besi. Nah........ pertanyaannya bagaimana mereka mengambilnya jika sudah kering. Belakangan kami menduga kalau mereka masuk ke kamar saat kami tidak ada ;( karena ada jemuran baru lagi, yg lama juga sudah diangkat. Untungnya tidak ada yang hilang.

Ngoc Tung Mini Hotel, Hue
Selesai beres-beres, kami keluar jalan-jalan berbekal google map. Tujuan pertama ke Dong Ba Market, yang diklaim sebagai pasar terbesar, tertua dan terlengkap di Hue. Dari Hotel kami menyusuri sungai Perfume yang membelah kota Hue. Disebut Perfume River karena pada saat musim bunga, pohon-pohon sepanjang sungai menguarkan wangi bunga. Saat kami lewat hanya tinggal daun atau malah beberapa hanya ranting saja.

Perfume River, Hue
Setelah melewati jembatan besi dengan lengkung-lengkung dan terminal bus sampailah kita di Dong Ba Market. Pasar ini tipikal pasar besar di Indonesia, mungkin juga di Asia. Dong Ba Market buka dari jam 3 subuh sampai 20.30. Jenis yang dijual dibagi-bagi sesuai blok nya, misalnya blok untuk makanan, buah, daging dipisahkan dengan lorong sempit. Yang menarik ada udang dimasak dengan cabai berbaskom-baskom. Ada cumi kering ukuran jumbo, berbagai jenis ikan dikeringkan, macam-macam manisan....Semua pedagang memanggil menawarkan dagangannya, tapi kami hanya lewat saja.

Akhirnya kami membeli mangga yang sudah dikupas dan dipotong kecil-kecil hingga mudah dimakan. Setelah menawar kami sepakat VND 25.000, isinya 2 buah mangga.

Dong Ba Market, Hue
Tujuan berikutnya adalah Imperial City, dari Dong Ba Market hanya 1,5 Km saja. Setelah melewati gerbang yang mungkin dahulu berfungsi juga sebagai benteng pertahanan, kami melewati Hue War Museum, kita harus membayar jika ingin masuk berkeliling. Hanya saja dari jalan kita sudah bisa melihat bekas pesawat-pesawat dan tank-tank yang diletakkan di halaman.

Hue War Museum
Tak jauh dari situ, sampailah kita ke kompleks Imperial City. Seperti biasa kompleks istana selalu dikelilingi parit dan pagar tinggi sebagai benteng pertahanan dan menara pengawasan. Tiket masuknya VND 150.000 untuk bukan warga Vietnam. Tiketnya berupa kartu yang akan dimasukkan ke gate saat kita masuk. Pintu masuk antara warga Vietnam dan bukan dipisahkan. Kami masuk dari Noon Gate tak jauh dari loket tiket.

Hue Imperial City

Hue Imperial City

Hue Imperial City Ticket

Hue Imperial City Map
Saat kami keluar dari hotel, karena hawa tidak terlalu dingin dan melihat ramalan cuaca hari ini tdak hujan sampai malam hari, kami meninggalkan jaket di kamar yang nantinya akan kami sesali. Walau tidak hujan, tapi tidak ada matahari dan angin dingin bertiup, sepanjang keliling Imperial City kami kedinginan.

Hue Imperial City masuk sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1993. Hue didirikan sebagai ibu kota oleh Gia Long, raja pertama Dinasti Nguyen pada tahun 1802. Dinasti Nguyen berkuasa sampai tahun 1945. Kompleks ini memiliki ratusan monumen dan reruntuhan, seperti Forbidden Purple City, kediaman keluarga kerajaan. 

Direncanakan dan dibangun oleh Gia Long, selama 27 tahun dari tahun 1805 sampai 1832, akhirnya selesai di bawah pemerintahan Minh Mang. Sampai saat ini  bangunan masih tetap dipulihkan dan dipelihara setelah kehancuran dari Perang Vietnam.

Banyak ruang-ruang kosong dan halaman yang luas. Bayangkan jaman dulu jika berpindah dari bangunan yang satu ke bangunan lainnya. Pada beberapa area kita tidak diperbolehkan memotret. Tersedia video sejarah Imperial City di salah satu ruangan, luangkan waktu sejenak untuk menontonya supaya kita lebih mendapat pemahaman atau bayangan.

Kita bisa merasakan duduk di singgasana raja lengkap dengan kostum termasuk dayangnya, dengan mengambil sesi foto di salah satu ruangan. Dari semua ruangan yang saya masuk, yang paling mengesankan buat saya adalah Royal Theater-nya. Berikut beberapa foto pilihan saya.

Hue Imperial City

Dragons & CLoud Ornament

Lamp, Colomn & Roof Ornament

Red Hallway

Hue mperial City Courtyard

Hue Imperial City Courtyard

Hue Imperial City Pond

Thai Binh Pavilion

Door, Window & Floor

Royal Theater
Co Ha Garden
Sebelum pintu keluar, kita bisa melihat kerajinan lukisan pada topi petani khas Vietnam (caping).

Handicraft

Exit Gate
 Saya sampai di pintu keluar sekitar jam 5 sore. Sejak dari lokasi menonton video, memang saya terpisah dari teman saya. Jadi saya menunggu di depan pintu keluar, karena biasanya dia lebih lambat dari saya. Kata penjaga gerbang, pintu akan ditutup jam 6, jadi saya tunggu. Berkali-kali tukang becak menawarkan untuk mengantar tapi saya menolak. Saya sangat berharap saya memakai jaket, udara dingin sekali dan banyak angin, saya tidak bisa menghubunginya karena telpon saya tidak aktif.

Mulailah drama....saya menunggu sekitar 45 menit dalam dingin. Saking tidak tahan dingin, saya numpang berdiri di pintu gerbang, lumayan agak tertahan anginnya. Akhirnya 1 pintu ditutup (pintunya ada 2). Hari sudah mulai gelap, akhirnya saya putuskan untuk mencari teman saya ke pintu masuk tapi ternyata jalan menuju ke sana sudah ditutup.

Langit semakin gelap, lampu-lampu sudah dinyakakan. Saya putuskan untuk kembali ke hotel, walau masih khawatir karena saya merasa bertanggung jawab atas teman saya, tapi mau bagaimana lagi. Saya mengingat-ingat jalan kembali ke hotel, pertama gerbang mana yang harus saya lalui, untunglah saya sempat memotretnya, jadi saya buka kamera, mencari gerbang yang tadi. Untungnya lagi tidak banyak belokan yang kami lalui, jadi saya mencoba membayangkan arah jalannya. Singkat cerita saya sampai ke jalan dekat hotel.....daaannnn berpapasan dengan teman saya yang sudah mandi. Dia cerita kalau tidak tahan dingin dan pulang duluan dengan naik becak.....

Hmmm....saya mau marah tapi apa gunanya....sudah terjadi. Saya hanya bilang kalau saya menunggu kedinginan selama 45 menit dan mencarinya sampai ke pintu depan. Dia cerita kalau dia panik mencari saya dan sampai minta rekannya di Jakarta untuk menghubungi saya....Lah telpon saya kan tidak aktif.....;(

Selama bertahun-tahun saya ngetrip dengan berganti-ganti teman, belum pernah kejadian seperti ini. Jika travelling bareng memang harus ada toleransi dan komunikasi yang baik untuk bisa menjadi trip yang menyenangkan dan tidak semua orang bisa melakukannya, bahkan dengan sahabat dekat sekalipun. Sifat-sifat asli akan muncul saat kita travelling bareng, apalagi saat dalam keterbatasan. Mungkin tidak berlaku jika ikut tur, tapi tetap saja kalau ada yang terlambat dan berlaku seenaknya akan mengganggu rombongan.

Saya kedinginan dan lapar, jadi saya ajak makan malam tak jauh dari hotel. Kebetulan saya melewati warung menjual pho. Kami memesan Chicken Pho, kali ini lebih enak dibanding yang kami makan di Hoi An. Sayuran, ayam dan porsi lebih banyak. Semangkuk VND 30.000.

Chiken Pho
Selesai makan, kami kembali ke penginapan. Saya tidak membahas lagi masalah tadi. Setelah mandi, langsung tidur. Hari yang melelahkan dan menjengkelkan......Esok masih semalam lagi di Hue.

2018/01/03

Central Vietnam Trip 2017 - Hoi An Day 3

Hari ini merupakan hari malam terakhir di Hoi An, besok kami akan ke Hue untuk 2 malam. Saat bangun pagi di luar tidak hujan, jadi saya agak menyesal tidak jadi booking trip ke Mỹ Sơn, bekas kerajaan Champa yang hancur karena pemboman Amerika selama Perang Vietnam. Situs ini dianggap sebagai salah satu kompleks candi Hindu utama di Asia Tenggara. Mỹ Sơn diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1999, di bawah kriteria C (III) - bukti peradaban Asia yang sekarang telah punah. Tapi ternyata cuaca berubah, pukul 7.30 mulai hujan deras lagi. Hilang rasa menyesal saya ;p

Saat sarapan, kami bertemu dengan tamu lain, pasangan suami istri pensiunan dari Perancis, saya lupa nama kotanya, sekitar 2 jam dari dari Toulouse. Kami ngobrol sambil sarapan. Saya cerita kalau saya baru-baru ini ke Perancis, dia menanggapinya dengan semangat, memamerkan foto-foto kotanya.

Mengetahui kami dari Indonesia, dengan semangat dia bercerita bahwa anak perempuannya baru-baru ini mengunjungi Indonesia, ke Labuan bajo, pulau Komodo, Flores, Bali, Lombok sampai mendaki gunung Rinjani (impian semua pendaki), Bromo, Jogja dan menunjukkan foto-fotonya. Saya sedikit berpromosi beberapa destinasi wisata andalan Indonesia, dan mengundangnya untuk datang.

Si bapak juga bercerita tentang sebuah museum gratis di kota tua yang telah dikunjunginya, Precious Heritage Art Gallery Museum. Museum ini dibuka pada tanggal 1 Januari 2017, berisi hasil penjelajahan fotografer Prancis Réhahn selama 5 tahun mengunjungi 54 kelompok suku minor di Vietnam.

Untuk kegiatan hari ini, saya taearkan dua alternatif pilihan ke teman saya, ke Cham Island atau bersepeda ke pantai. Cham Island bisa diakses dengan fery dari pasar ikan di kota tua, tak jauh dari central market dengan jadwal jam 8.30 dan kembali jam 12.00. Sepertinya terlalu singkat waktunya sehingga mengurangi minat saya ke sana.

Akhirnya kami sepakat untuk menyewa sepeda saja. Kami memesan sepeda dan sekaligus memesan tiket bus ke Hue untuk besok pagi. Dari yang saya baca di internet Hoi An - Hue ditempuh dalam 4 jam dengan bus, jadwal dari Hoi An jam 8 pagi atau jam 2 siang, tiketnya $11. Kami memesan untuk jam 8 pagi dan mendapat harga VND 90.000, jauh lebih murah daripada yang saya baca. Sewa sepeda VND 20.000 untuk 1 sepeda seharian.

Kami diminta untuk pindah ke kamar standar di lantai atas sesuai kamar yang kami pesan, karena kamar kami yg sekarang akan digunakan oleh pemesan keluarga. Setelah sarapan kami pindahkan barang-barang ke kamar atas dahulu.

Jam 10 lewat kami berangkat bersepeda, hanya gerimis kecil saja sebentar lalu reda. Tujuan pertama ke Precious Heritage Art Gallery Museum. Mengikuti petunjuk google map, kami langsung menuju ke museum.

Precious Heritage Art Gallery Museum

Bangunan Museum merupakan bekas rumah kolonial Prancis tua, yang terletak di bagian kota tua yang dikenal dengan Old French Quarter, tak jauh dari Central Market. Museum menampilkan koleksi foto-foto hasil jepretan Réhahn, lebih dari 30 kostum tradisional yang otentik, dilengkapi cerita dalam 3 bahasa Prancis, Inggris dan Vietnam. Terdapat juga cafe yang menjual kopi hasil komunitas petani di daerah Vetnam Tengah. Di sini kita bisa membeli kopi atau foto/post card dalam berbagai ukuran. Cukup menarik, kita bisa menghabiskan 1-2 jam di sini apalagi jika hujan.

Hidden Smile
Precious Heritage Art Gallery Museum

Precious Heritage Coffee

Precious Heritage Art Gallery Museum

Precious Heritage Art Gallery Museum

Precious Heritage Art Gallery Museum

Precious Heritage Art Gallery Museum

Tradisional Costums

The girl with blue eyes
Tujuan berikutnya ke Pantai Cua Dai, sekitar 7 Km dari museum. Kami bersepeda mengikuti petunjuk google map. Pantai berada di samping jalan raya. Setelah memarkir sepeda, kami menuju tepi pantai. Pantai sedang sepi, ombak dan angin kencang sekali.
Terpasang peringatan untuk tidak berenang. Sejumlah peraturan tertulis di papan, bagian depan dalam bahasa Vietnam, dan bahasa Inggris di sebaliknya. Kami hanya sebentar di sini, lalu melanjutkan perjalanan menuju Anh Bang Beach.

Cua Dai Beach

Dari Cua Dai Beach ke Anh Bang Beach sekitar 7 Km, tinggal mengikuti jalan saja sampailah ke Anh Bang. Di sepanjang jalan menuju Anh Bang, kami melewati beberapa resort mewah.

Sesampai di Anh Bang, kami diarahkan ke tempat parkir. Seorang ibu menunjukkan dimana kami memarkir sepeda dan meminta VND 20.000 per sepeda. Uh....mahal banget ya....kami menawar tapi si ibu tetap teguh meminta bayaran sebesar itu, berkali-kali bilang same-same..... Akhirnya kami bayar juga.

Sudah jam 1 siang, jadi kami makan siang dulu di restoran depan tempat parkir. Untung menunya ada keterangan bahasa Inggrisnya, jadi kami bisa tahu apa isinya. Akhirnya kami memilih Cao Lau, tapi kami minta daging babinya diganti dengan telur mata sapi saja. Perlu waktu dan usaha untuk menjelaskan pergantian ini, berkali-kali saya menjelaskan no pork dengan menyilangkan tangan, lalu saya mencari gambar telur di menu dan menunjuk, agar dia paham. Penerima pesanan masih agak bingung, lalu diskusi dengan orang di dapur dan kembali ke meja kami. Membuka google translate dan menulis dalam bahasa Vietnam, dan meminta saya membaca terjemahan bahasa Inggrisnya. Saya agak bingung karena yang tertulis kira-kira begini....telur yang dijatuhkan dari lantai 2....hahaha.....

Saya membayangkan bagaimana bentuk telur dijatuhkan dari lantai 2, mirip seperti telur ceplok bukan? Akhirnya saya bilang iya benar seperti itu, sambil mengacungkan jempol...
Cao Lau merupakan makanan khas Hoi An, berisi mie yang terbuat dari tepung beras, bentuknya lebar mirip dengan mie Jepang soba, ditambah banyak sayuran, kacang tanah, kerupuk, daun bawang, potongan jeruk dan ditutup dengan daging babi goreng/ panggang yang kami minta untuk diganti dengan telur mata sapi. Harga semangkuk VND 35.000, lumayan kenyang....

Cao Lau

Selesai makan barulah kami menuju pantai.....pantai Anh Bang lebih tertata rapi, ramai dan lebih cantik dibandingkan Cua Dai.

Anh Bang Beach

Setelah cukup menikmati Anh Bang, sekitar jam 2 siang kami meninggalkan pantai. Mengambil jalan Hai Bà Trưng, kami mengayuh sepeda mengarah ke Kota Tua, jaraknya sekitar 5,5 Km, kami melewati desa Tra Que.

Kalau 2 hari kemarin, menyusuri lorong-lorong kota tua dengan jalan kaki baik waktu malam, lalu sore hari, kali ini kami keliling dengan sepeda. Sekali-kali kami berhenti, memotret atau masuk ke toko atau bangunan yang menarik tidak ada tujuan tertentu.

Riverside

Museum of folklore in Hoi An

Shops & cafes

Fukien Chinese Assembly Hall, Hoi An

Pre wedding shot at Ancient Town
Kami menemukan toko roti yang menjual roti dan kue Perancis. Memang pengaruh Perancis kuat sekali di Vietnam. Turis dari Perancis juga mendominasi selain dari China, Korea dan Jepang. Saya membeli almond cake dan cinamon roll untuk makan malam, harganya tidak mahal, cukup enak walau tampilannya kurang.

Kembali ke penginapan, saya menanyakan tentang pemesanan tiket bus ke Hue besok pagi. Trinh bilang, kami akan dijemput jam 7.30 pagi. Kami menyelesaikan semua pembayaran, dan saya memesan sarapan untuk besok pagi agar dibungkus saja untuk kami makan di jalan. Kami menukar lagi USD kami, untuk bekal ke kota selanjutnya. Kali ini kami mendapat nilai tukar 1 USD = VND 22.630, agak turun sedikit tapi saya pikir kami tetap mendapat rate yang lebih baik daripada di tempat lain dan tidak perlu mencari Money Changer atau Bank lagi.

Setelah mandi dengan agak menggigil karena air kurang panas, kami packing dan tidur. Esok melanjutkan perjalanan menuju Hue............



2018/01/02

Central Vietnam Trip 2017 - Hoi An Day 2

Hari kedua di Hoi An, masih di guyur hujan. Saya bangun jam 6 pagi, lalu mandi dengan air panas, cuaca di Hoi An dingin sekali walau menurut internet hanya sekitar 16⁰ Celcius. Hujan lumayan deras, melalui WA saya tanya jam berapa sarapannya dan dimana. Sarapan di rumah pemilik penginapan sekitar jam 8 pagi. Jadi kami malas-malasan di kamar sambil nonton TV dan browsing internet yang aksesnya cukup cepat.

Sarapan sudah termasuk dalam harga kamar. Kami diberi sarapan baguette, roti panjang perancis dan telur mata sapi dihiasi potongan tomat dan timun. Nantinya selama berada di Vietnam, inilah sarapan kami setiap harinya terkadang diberi selada juga. Untuk minuman saya memilih kopi, teman saya memilih teh.

Breakfast

Pukul 9, hujan masih turun. Kami memutuskan tetap keluar jalan-jalan dengan menggunakan payung. Pagi ini kami ingin melihat Tra Que Herb Village, sebuah desa di sebelah utara kota tua, dengan kebun berbagai sayuran. Desa ini menjadi salah satu destinasi wisata di Hoi An, bahkan ada tour-nya. Dari penginapan kami, hanya sekitar 2,7 km dan mudah untuk dicapai dengan jalan kaki. Saya suka berjalan kaki, terutama di area yang belum pernah saya kunjungi. Dengan jalan kaki, kita bisa melihat lebih banyak dibandingkan jika kita berkendara, dan kita bisa berhenti kapan dan dimana saja.

Di Vietnam kita harus berjalan di sebelah kanan jalan, tapi melihat sempitnya sisi kanan untuk pejalan kaki, kami memilih berjalan di sisi kiri jalan. Kami menyusuri jalan Hai Bà Trưng yang memang tidak terlalu nyaman untuk pejalan kaki. Hujan sebenarnya tidak terlalu lebat tapi angin sangat kencang, sehingga beberapa kali kami harus berhenti. Walau menggunakan payung, kami tetap basah kuyup, terutama bagian bawah karena kencangnya angin. Payung teman saya malahan rusak, beberapa besi penunjangnya patah tidak sanggup menentang angin.

Saya tawarkan untuk kembali saja kepenginapan, mengingat dia tidak terbiasa trip model saya. Tapi dia menolak karena tinggal sedikit lagi sampai. Untung dia tidak marah-marah ke saya hehehe......

Singkat cerita kami sampai di desa Tra Que, berbekal petunjuk dari google map. Patokannya jika sudah ketemu dengan sungai, maka sudah dekat, tinggal belok ke kanan saja. Kami sampai saat tinggal gerimis kecil, jadi masih bisa memotret walau tetap memakai payung.

Kami bertemu dengan 2 orang turis yang diantar oleh guide. Terlihat beberapa petani, mengurus berbagai sayuran dan bumbu dapur seperti berbagai jenis selada, basil, bawang, ketumbar, dll. Penanaman sayuran diatur berderet rapi. Sayuran ditanam secara organik, tidak  menggunakan bahan kimia atau pupuk tapi sejenis ganggang yang hanya ditemukan di laguna Tra Que. Berkat teknik ini, sayuran Tra Que terkenal berkualitas, aman untuk dikonsumsi dan rasa yang luar biasa enak.

Selesai memotret, kami keluar dari desa mengambil jalan yang berbeda dari arah datang. Saya baru melihat loket tiket masuk desa Tra Que. Beberapa rombongan turis dan guide keluar dari rumah loket tersebut.

Tra Que Village

Sebelum mengambil arah menuju ke penginapan, kami mampir membeli jas hujan di sebuah warung kecil pinggir jalan, VND 10.000. Walau jas hujannya tipis, tapi tetap nyaman untuk menangkal hujan. Perjalanan pulang angin tidak terlalu kencang di banding sebelumnya. Jas  hujan mengurangi rasa dingin dan basah kehujanan.

Dalam perjalanan, kami melewati Hoi An Theater. Pertunjukan hanya ada setiap hari Selasa, Jumat dan Sabtu jam 18.30. Di depan teater terlihat pemberhentian bus, tertulis free city bus, namun selama kami di Hoi An saya belum pernah melihat busnya.

Hoi An Theater
Saya sempat mencari informasi Hoi An free walking tour dan menemukan situs tur gratis di Hoi An, tur dengan sepeda ke Kim Bong Village, yang tersedia hari selasa, sabtu dan minggu. Kami tidak mengambil trip ini karena hujan.

Sebelum kembali ke penginapan, kami makan siang dahulu tak jauh penginapan. Kali ini kami pesan Com Ga (Vietnamese Chicken Rice), Com = nasi, Ga = ayam. Isinya nasi dari beras kecil-kecil (broken rice), suwiran ayam, ati ampela, irisan tipis bawang bombay, taburan daun kalau gak salah mint dan semangkuk kecil kuah kaldu, seporsinya VND 35.000. Kami juga memesan Bánh mì, semacam sandwich Vietnam, umumnya baguette berisi sayuran dan daging babi. Kami berdua tidak makan daging babi, jadi pilihan lain untuk isinya yang tersedia telur rebus, telur mata sapi dan tahu, harganya VND 20.000. Kami memilih telur mata sapi, dibungkus untuk makan malam, mirip menu sarapan tadi pagi. Kata bánh mì berasal dari bánh (yang bisa merujuk pada berbagai jenis makanan, termasuk roti khususnya baguette) dan mì (gandum). Com Ga dan bánh mì merupakan makanan yang wajib dicoba di Vietnam, selain pho tentunya.

Com Ga (Vietnamese chicken rice)

Kami kembali ke penginapan, istirahat dan tidur siang hehehe....trip kali ini menjadi lazy trip, gara-gara hujan terus menerus. Sore baru kami akan jalan-jalan ke kota tua lagi, banyak lorong di kota tua yang belum kami jalani kemarin.

Pukul 15.30, kami jalan kaki menuju kota tua. Kota tua saat terang terlihat berbeda dibandingkan malam hari. Walau masih gerimis, tetap banyak orang lalu lalang di lorong-lorong kota tua. Selain jalan kaki, bersepeda atau naik becak juga bisa menjadi pilihan menjelajah kota tua. Selain kemeriahan lampion dimana-mana, toko, kafe, restauran dan hotel juga dihiasi dekorasi Natal.

Hoi An Ancient Town at daylight

Japanese Covered Bridge
Japanese Covered Bridge merupakan contoh arsitektur Jepang. Dibangun pada tahun 1590 oleh komunitas Jepang di Hoi A, direnovasi pada tahun 1986. Menjadi salah satu spot foto di kota tua Hoi An.

Shops at Hoi An Ancient Town 

Hoi An Bridge

Bamboo Bicycle

Tan Ky Old House

Museum of folklore Hoi An
Kami mengunjugi Central Market, pasarnya cukup luas dan berbagai macam kebutuhan ada di sini. Walau gerimis penjual dan pembeli tetap ramai. Kami juga masuk ke pasar di dalam ruangan, teman saya mencari payung pengganti yang patah. Ingat ya, di Vietnam membeli apapun harus ditawar, kecuali jika harga sudah tertulis. Harga-harga di Hoi An lebih mahal dibandingkan dengan Hue dan Da Nang. Untuk jajanan dan makanan kecil malah lebih mahal dibandingkan Jakarta. Kami sempat membeli pisang goreng, setelah menawar jadi VND 20.000 untuk 2 buah. 

Flowers at Central Market
 
Fruits at Central Market

Vegetables at Central Market

Riverside
Di kota tua ini, kita bisa menemukan berbagai penawaran tour, diantaranya tur ke My Son, dengan 2 pilihan berangkat dengan bus pulang dengan bus atau pulang dengan boat. Rencana awal, saya ingin ke My Son besok, tapi saya ragu-ragu karena menurut ramalan cuaca, besok akan hujan. Jadi saya tidak booking tour.

Di dekat salah satu pintu keluar masuk kota tua, terdapat replikasi kapal dengan bendera dan logo VOC, namun terbalik, mungkin dulu VOC sempat singgah di Hoi An, entahlah. Replika ini baru tahun 2017.

Ship replica
Karena pengalaman basah kuyup tadi pagi dan cuaca Hoi An yang dingin, teman saya ingin membeli jaket tahan air. Selama jalan-jalan di kota tua, terkadang kami mampir ke toko-toko yang menjual jaket. Akhirnya sebelum pulang kami menemukan toko dan mendapatkan jaket North Face Summit Series, tersedia berbagai warna yang mencolok dan berbagai ukuran mulai dari XS sampai XXL. Ukuran kecil dan warna yang gonjreng susah di dapatkan di Indonesia. Kami kembali ke penginapan, mandi, makan malam bánh mì yang kami beli tadi siang dan tidur nyenyak bergulung selimut tebal, diiringi bunyi hujan di luar kamar. 

Berkunjung ke Perpustakaan Nasional Indonesia Medan Merdeka Jakarta

Mengakhiri tahun 2017 yang baru lalu, kali ini saya beredar di Jakarta, tidak pulang kampung.....Sabtu terakhir Desember, saya ingin mencoret salah satu dari wish list saya, yaitu mengunjungi Perpustakaan Nasional Indonesia yang baru di Medan Merdeka Selatan, Jakarta yang baru diresmikan oleh Presiden Jokowi tanggal 14 September 2017.

Gedung baru Perpusnas ini diklaim sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia, dengan 24 lantai dan 1 basement. Gedung ini berada di belakang gedung perpusnas yang lama, di area Monas, sederetan dengan Kantor Gubernur DKI Jakarta. 

Sebenarnya dulu saya sudah menjadi anggota perpusnas yang lama, lalu sempat ditutup karena pembangunan gedung baru, dan keanggotaan saya sudah berakhir. 

Jam layanan & Direktori Perpusnas
Jam layanan Perpusnas Medan Merdeka Selatan
Senin - Kamis : 08.30 - 16.00 WIB, jam istirahat 12.00 - 13.00
Jumat            : 08.30 - 16.00 WIB, jam istirahat 11.30 - 13.00
Sabtu             : 09.00 - 16.00 WIB, jam istirahat 12.00 - 13.00 

Direktori per lantai sbb:
  • Lantai 1  : Lobby & ruang display
  • Lantai 2  : Layanan keanggotaan & Penelusura informasi
  • Lantai 3  : Zona promosi budaya gemar membaca
  • Lantai 4  : Area pameran & kantin
  • Lantai 5  : Perkantoran
  • Lantai 6  : Data Center & Musholla
  • Lantai 7  : Layanan koleksi anak, lansia & disabilitas
  • Lantai 8  : Layanan koleksi audiovisual
  • Lantai 9  : Layanan koleksi naskah nusantara
  • Lantai 10 : Penyimpanan koleksi deposit
  • Lantai 11 : Penyimpanan koleksi monograf tertutup
  • Lantai 12 : Ruang baca koleksi deposit
  • Lantai 12A : Ruang baca koleksi monograf tertutup
  • Lantai 14 : Layanan koleksi buku langka
  • Lantai 15 : Layanan koleksi buku referensi
  • Lantai 16 : Layanan koleksi foto, peta dan lukisan
  • Lantai 17 : AIPI
  • Lantai 18 : AIPI
  • Lantai 19 : Layanan multimedia
  • Lantai 20 : Layanan koleksi berkala mutakhir & ilmu perpustakaan
  • Lantai 21 : Layanan koleksi monograf terbuka (klas 000 - 499)
  • Lantai 22 : Layanan koleksi monograf terbuka (klas 500 - 999)
  • Lantai 23 : Layanan koleksi mancanegara & majalah terjilid
  • Lantai 24 : Layanan koleksi budaya nusantara & eksekutif lounge

Menuju ke gedung perpusnas yang baru, saya memasuki gedung perpusnas yang lama terlebih dahulu, saat ini fungsinya diubah menjadi semacam ruang pameran. Ada 4 ruang, salah satunya adalah ruang Aksara, menjelaskan tentang sejarah Aksara yang ada di Nusantara, lalu di ruang sebelahnya dipajang contoh media tulis mulai dari tulisan pada bambu, daun lontar, kertas Eropa juga kertas China. Di seberangnya  ada 2 ruangan lagi tapi sepertinya belum selesai sepenuhnya. Sedang di sepanjang lorong yang memisahkan antara ruangan juga masih dalam pengerjaan.

Ruang Pameran di Gedung Perpusnas Lama

Ruang Pameran di Gedung Perpusnas Lama
Keluar dari gedung lama, tampak megah gedung Perpusnas yang baru. Memasuki loby, mata kita akan langsung tertuju pada deretan buku yang disusun tinggi sampai ke langit-langit, mengingatkan saya pada perpustakaan di Edinburgh yang pernah saya kunjungi, hanya dalam skala yang jauh lebih kecil karena hanya 1 lantai saja. Loby ini keren sekali sehingga menjadi spot selfie pengunjung ;p.

Perpusnas yang baru, tampak depan & loby

Display di loby
Di kiri kanan pintu masuk, dipajang lukisan/foto hitam putih ke 7 Presiden Indonesia dari mulai Sukarno sampai Jokowi. Di depannya dipajang dalam kotak, buku-buku mengenai presiden tersebut. Lalu ada juga foto/lukisan beberapa pahlawan, kali ini berwarna. Tersedia ruang loker tapi saya lihat masih belum difungsikan, lalu ada tangga berjalan, lift, toilet (tersedia di setiap lantai). 

Saya memilih eskalator untuk naik ke lantai 2. Suasananya ramai sekali dengan pengunjung, padahal hari masih sekitar jam 10 pagi. Di lantai 2 ini, kita membuat kartu keanggotaan langsung jadi, menitipkan barang di ruang loker sebelum naik ke lantai yang lain, dan tersedia deretan komputer untuk registrasi dan pencarian koleksi perpusnas. 

Perpusnas Lantai 2

Prosedur keanggotaan & Loker
Saya menuju ke salah satu komputer dan mengisi data untuk registrasi keanggotaan. Masa berlaku keanggotaan 10 tahun. Selesai registrasi, maka akan tercetak nomor antrian untuk pencetakan kartu dair printer kecil dari masing-masing komputer. Saya mendapat nomor antrian 104. Di layar antrian tertera nomor 60, waduh masih 40an lagi. Sambil menunggu panggilan, saya mencoba komputer pencarian koleksi perpusnas yang di letakkan di pinggir mengelilingi ruangan, komputer untuk registrasi berada di tengah ruangan.  Tersedia banyak tempat duduk yang nyaman untuk menunggu.  

Hari itu hanya dibuka 4 meja pencetakan kartu, tapi ternyata tidak perlu menunggu lama dipanggil, karena prosesnya cepat sekali. Setelah dipanggil, petugas akan memverifikasi data, jika ada data yang kurang akan diminta informasi untuk dilengkapi. Bawalah KTP, sedangkan untuk keanggotaan anak-anak diminta Kartu keluarga. Setelah itu difoto, petugas akan menyerahkan kartu keanggotaan kita dan selesailah proses pendaftaran. 

Titipkan barang bawaan ke ruang loker, jika ingin membawa barang ke lantai di atasnya maka akan dipinjamkan tas transparan. Kita boleh membawa laptop ke ruang perpustakaan. 

Menggunakan eskalator saya naik ke lantai 3 lalu ke lantai 4. Di lantai 4 tersedia kantin, tapi hanya 1 penjual saja yang buka, lalu ada toko koperasi yang menjual makanan kecil dan minuman. Tersedia meja-meja untuk makan. Di sisi lain ada ruang pameran dan kita bisa keluar menuju balkon. Dari balkon lantai 4, sudah terlihat Monas tapi hanya sebagian saja. 

Untuk anak-anak dapat membaca dan bermain di lantai 7. Buku-buku untuk anak sekolah dan dewasa ada di lantai 21 dan 22. Eskalator berakhir di lantai 4, lalu saya menuju lantai 21 menggunakan lift. Di lantai 21, masih banyak sekali rak-rak kosong. Beberapa meja disediakan untuk membaca dan saya lihat beberapa orang bekerja dengan laptop. 

Dari lantai 21 ada tangga menuju lantai 22, hanya saja masih ditutup. Menurut satpam yang berjaga, lantai 22 belum dibuka. Dari koleksi perpusnas yang lama saja masih belum semuanya ditata di rak, dahulu saya pernah beberapa kali berkunjung ke perpusnas lama. 

Awalnya saya hanya ingin meminjam buku-buku ringan saja, masuk dalam kategori buku yang seharusnya ada di lantai 22. Beberapa hari sebelumnya saya sudah meminjam 2 buku di perpusda yang ada di Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya rutin meminjam buku di perpusda TIM karena lokasinya dekat dengan kantor, jadi bisa jalan kaki. DKI Jakarta punya 2 perpusda, selain di TIM juga ada di Nyi Ageng Serang (Rasuna Said), dulu saya sering ke sini hari sabtu tapi keanggotaan saya sepertinya sudah kadaluarsa ;p. Di Perpusda TIM tersedia tempat bermain anak-anak di lantai 2. Alternatif lain, kita bisa meminjam dari Perpustakaan Digital Jakarta, dengan menggunakan aplikasi iJakarta.

Perpusnas Lantai 21
Dari jendela lantai 21, kita bisa melihat Monas dengan lebih jelas dibandingkan dari lantai 4.

Penampakan Monas dari Perpusnas lantai 4 & 21

Batal meminjam buku, saya menuju ke lantai 24 menggunakan lift. Dari lantai teratas ini seharusnya kita bisa melihat Monas dengan lebih baik lagi, tapi ruang di mana kita bisa melihat Monas ditutup. Lantai 24 ini mewah sekali, namanya juga executive lounge ya.... Di salah satu sudut terdapat rak-rak dengan koleksi buku-buku tentang budaya nusantara. Itupun belum banyak dan tidak ada buku baru.

Perpusnas lantai 24

Saya kembali ke lantai 2 untuk mengambil barang di loker, sebelum mengakhiri kunjungan di Perpusnas. Mungkin baru beberapa bulan lagi saya akan kembali ke Perpusnas ini, setelah koleksi bukunya lebih lengkap. Saat ini Indonesia mempunyai 2 perpusnas, yaitu di jalan Salemba dan di Medan Merdeka Selatan. Informasinya bisa di akses di sini.

Sudah waktunya makan siang, dari Perpusnas saya berjalan kaki menuju jalan Sabang. Sebelum pulang saya makan dulu nasi gandul khas Pati di jalan Sabang, mengobati kangen.....

Nasi Gandul Khas Pati