2014/08/12

Myanmar Trip 2014 - Day 8 - Inle Lake Boat Trip

Pukul 3 dini hari bus berhenti menurunkan penumpang, kami jadi terbangun kami kira sudah sampai namun tidak ada pemberitahuan untuk turun dari pramugari (bus VIP ada pramugarinya). Kemungkinan penumpang yang turun di Kalaw, kota sebelum Nyaung Shwe. Kalaw menyediakan berbagai trekking trip salah satunya ke Inle, 2 hari 1 malam. 

Baru sekitar jam 4 pagi, kami diberitahu sudah sampai tujuan. Hari masih gelap, mata masih ngantuk. Kami diberi sikat gigi dan tisue basah. Ternyata Nyaung Shwe bukan tujuan akhir dari bus kami, melainkan Taunggyi. Kami diturunkan di junction Shwe Nyaung, baru dikemudian hari kami tahu kalau jaraknya sekitar 11 km dari junction ke Nyaung Shwe. 

Hanya 1 rombongan lain selain kami yang turun. Seperti biasa kami dikerumuni penjaja jasa. Mereka menawarkan 1.000K/orang untuk sampai Nyaung Shwe terminal. Karena kami kira hanya dekat, maka kami memutuskan untuk jalan kaki saja. Hari masih gelap dan dingin, bintang masih nampak. Tidak ada lampu jalanan, yang ada hanya lampu dari beberapa warung di jalan yang tutup. 

Kami jalan santai saja, sambil menunggu hari terang. Begitu terang, terlihat sawah-sawah dan ibu-ibu petani naik traktor, anak-anak berangkat ke sekolah. Sepertinya orang Inle memulai harinya pagi-pagi. 



Tak lama kemudian kami melihat ada warung yang sedang membuat cakwe, dapurnya terbuka, terlihat dari luar. Kami mampir dulu untuk sarapan dan istirahat. Ini cakwe yang paling enak dan paling murah selama kami berada di Myanmar, hanya 100K. Yang membuat adonan dan menggoreng laki-laki.



Selesai sarapan, kami jalan lagi, lalu lewat angkot ke Nyaung Shwe, supirnya minta 500K/org. Akhirnya kami naik. Tak lama angkot di hentikan, kami diminta membayar Inle Zone Entrance Fee sebesar $10 atau EUR10. Kami membayar dengan kyat sebesar 10.000, karena uang kyat kami masih cukup. 



Kami diturunkan di pemberhentian dekat pasar, belum tahu dimana letak penginapan. Tidak sampai 5 menit jalan kaki, terlihat Teakwood Hotel, bagus sekali. Menurut perkiraan kami pasti mahal, tapi kami coba-coba mampir. Pemilik hotel bilang dia punya kamar $50 atau $60 untuk bertiga, mana yang mau dilihat. Wah tidak masuk dalam budget kami. Lalu si Ibu tanya berapa budget kami.....$30. Kami akhirnya mendapat kamar 30.000 kyat untuk bertiga dengan kamar mandi dalam, sarapan tapi dengan kipas angin bukan AC, tak apa toh Inle udaranya sejuk. Kamarnya bagus dengan bahan dari kayu dan bata merah. Kami sangat beruntung dapat kamar itu. Lokasinyapun strategis, tidak jauh dari dermaga maupun pasar. Ini penginapan paling bagus selama kami di Myanmar.



Mandi, cuci baju lalu tidur dahulu sebelum sewa boat keliling danau Inle. Kami bangun sekitar 11.30, lalu siap-siap ke dermaga danau Inle, hanya 10 menit dari hotel. Cuaca panas sekali. Sampai di dermaga sepi sekali, umumnya orang sewa perahu dari pagi hari.

Tak lama seorang bapak menawarkan sewa perahu, dengan menunjukkan peta danau Inle, kemana saja dia akan membawa kami. Dia minta 15.000K. Setahu saya itu tarif untuk sewa 1 hari dari sunrise sampai sunset. Perahu bisa diisi 5 orang. Kami tawar jadi 12.000K untuk setengah hari dari tengah hari sampai sunset.



Perahu menggunakan mesin, perjalanan tanpa henti selama 1 jam. Di tengah perjalanan kami melihat nelayan tradisional Inle yang menggunakan sampan berdiri diujung satu kaki mengayuh dayung sedangkan tangan menebar jala. Hanya ada di Inle. Sayangnya agak jauh dan perahu kami tidak mengurangi kecepatan, hasil foto tidak terlalu bagus.

Inle Lake Map
Perahu berbalik arah, tukang perahu menurunkan kami di beberapa tempat yang biasa dikunjungi turis, semua tempat yang kami kunjungi berupa rumah panggung di atas sungai.

  • Silk & lotus weaving
Uniknya benang  yang ditenun berasal dari batang lotus yang diambil getah seratnya. Perlu ribuan batang untuk selembar kain. Pewarna yang digunakan berasal dari berbagai kulit kayu. Kami hanya melihat-lihat, hasilnya lumayan bagus tapi harganya cukup mahal. 


  • Gold & silver smith
Di sini kita dapat melihat proses kerajian perak. Namun designnya mirip dengan design kita tahun 80-an. Jauh lebih bagus kerajinan perak di Kotagede Yogya apalagi Celuk, Bali. Kebetulan teman saya memakai cincin kerajinan Celuk, mereka terkagum-kagum dengan detail polanya.


  • Inle traditional handicraft & cheroot
Menarik melihat cara pembuatan rokok tradisional Myanmar, agak berbeda bahannya dibanding dengan rokok kawung kita yang dibungkus dengan kulit jagung. Tidak ada yang istimewa dari kerajian ukir kayu dan topi tradisional. Jika anda tertarik membeli rokoknya, lebih baik beli di warung saja, hanya 700K untuk 50 batang.
 

  • Inle traditional umbrella workshop
Payung tradisional terbuat dari kertas yang diberi aksen bunga dan daun. Payung untuk panas berbeda dengan payung untuk hujan. Payung Tasikmalaya, masih jauh lebih bagus. Disini juga ada beberapa orang suku leher panjang Karen.


  • Floating garden
Kami melewati kebun diatas sungai (floating garden). Mereka menaman sayur mayur seperti tomat, labu, timun, dll. Dibuat jalur-jalur rapi dengan jarak yang cukup untuk sampan mereka lewat. Ide yang menarik ya.....bagus juga jika bisa diterapkan di negara kita. Hanya saja mereka belum memanfaatkan enceng gondok seperti di Indo. 


  • Nga Phe Kyaung monastery (no jumping cat)
Destinasi terakhir sebelum kembali ke Nyaung Shwe adalah Nga Phe Kyaung monastery. Biara ini terbuat dari kayu, berdiri di atas sungai. Dahulu dikenal dengan jumping cat monastery, karena biksunya melatih kucing untuk melompat. Kucing masih banyak berkeliaran di sini namun sudah tidak ada lagi pertunjukannya. Di bagian belakangnya ada tempat berjualan suvenir Inle. anda harus menawar disini. Kami datang sudah hampir waktu tutup jam 5 sore.


Beberapa bagunan rumah, restoran, pagoda terlihat sepanjang perjalanan kami kembali ke dermaga. Cuaca berawan, jadi foto sunset juga tidak akan terlalu bagus.


Kami harus mencari transportasi untuk esok malam. Recana awal ingin ke Golden Rock sebelum ke Yangon. Kami mampir di salah satu travel agen, si ibu sangat membantu memberikan banyak informasi. Pilihannya adalah naik bus ke Bago atau Bus ke Yangon baru ke Golden Rock. Pilihan bus ke Yangon lebih banyak dan lebih bagus. Bago dan Yangon hanya berjarak 1 jam perjalanan. Inle ke Yangon perlu 12 jam dengan bus. Untuk sewa mobil terlalu mahal. Dari Bago harus naik bus menuju Kipun, kota terdekat menuju Golden Rock, lalu harus ganti naik truk untuk naik yang dilanjutkan dengan jalan kaki ke puncak.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami memutuskan untuk naik bus JJ Express ke Yangon (23.000K + 1.000K dijemput dari hotel), urusan ke Golden rock akan diputuskan kemudian. Memungkinkan jika ingin turun di Bago dengan bus Yangon, tapi harganya sama. Di jelaskan ada beberapa perusahaan bus ke Yangon yang tidak masuk ke Nyaung Shwe, hanya di junction saja. JJ termasuk yang masuk ke Nyaung Shwe. Ongkos naik angkot dari Nyaung Shwe ke junction 1.000K/orang.

Kami mampir melihat-lihat toko yang menjual suvenir, pakaian dan kain, ternyata kami menemukan batik pekalongan selain produk dari Thailand. Si ibu penjual tidak tahu kalau batik itu dari Indonesia, karena membelinya dari Chiang Mai. Kami makan malam di night market, ingin mencoba makan ikan bakar tapi ternyata sudah kemalaman jadi kehabisan. Kita tinggal memilih ayam, seafood, babi atau sayuran yang sudah ditusuk seperti sate, lalu dibakar dan dimakan dengan saos.

Udara cukup sejuk, kami bisa tidur nyenyak bahkan tanpa kipas angin......


2014/08/11

Myanmar Trip 2014 - Day 7 - Mandalay Hill

Jalan di Mandalay menggunakan penomoran dari utarake selatan dan dari timur ke barat yang berpusat di Mandalay Palace. Di Kota ini banyak angkutan umum yang berupa truk dengan bagian belakang diberi 2 bangku kayu panjang. Namun tidak banyak orang di Mandalay yang mau memberitahu turis jika ditanya jurusan angkutan umum. Kebanyakan orang menyarankan naik taxi. Sepertinya mereka akan mendapatkan komisi jika berhasil membujuk turis untuk naik taxi, yang tawar menawarnyapun menggunakan US Dolar ;( 

Mandalay City Map
Sekitar pukul 5.30 pagi kami keluar hotel menuju Mandalay Hill. Tidak berapa lama jalan kaki kami sudah sampai di Mandalay Palace. Banyak orang berolah raga di sekeliling Mandalay Palace. Beberapa alat gym sederhana dari besi, tersedia di sepanjang jalan yang dimanfaatkan oleh warga kota. Kami juga berpapasan dengan serombongan biksu.

around Mandalay Palace in the morning
Mandalay Palace dibentengi dengan tembok segi 4 sempurna yang masing-masing panjangnya 2 kilometer. Masing masing sisi, mempunyai 3 pintu gerbang, sehingga total ada 12 gerbang, yang menyimbolkan12 tanda zodiak. Di luar tembok dikelilingi parit selebar 64 meter. Tersedia 5 jembatan untuk menyeberangi parit. Untuk masuk ke Mandalay Palace dipungut biaya $10. Kami memutuskan untuk tidak masuk, hanya melihat dr ketinggian Mandalay Hill....;) 

Hari makin siang, kami memutuskan untuk naik angkot saja ke Mandalay Hill, 500K. Ternyata angkot hanya sampai di kaki bukit. Untuk naik ke puncak bisa jalan kaki atau naik angkot.
Awalnya kami ingin jalan kaki melalui tangga-tangga yang kami pikir terus bersambung sampai puncak. Ternyata kami harus menitipkan alas kaki, dan tidak boleh membawanya. Dengan begitu kami harus kembali melewati jalan yang sama. Akhirnya kami memutuskan untuk naik angkot saja, lalu pulang jalan kaki. Tarif angkot untuk naik 1.000K/org, kami tidak tahu apakah itu tarif turis atau sama saja untuk orang lokal. Hanya 15-20 menit saja sudah sampai puncak, sampailah di Su Taung Pyai Pagoda.



Kami harus melepaskan alas kaki, menitipkan dan memberi donasi. Ternyata kami harus naik eskalator dengan telanjang kaki yang biasanya dilarang!

Sampai di atas, kami diminta membayar 1.000K untuk kamera jenis apapun, termasuk kamera ponsel. Bagunannya berbeda dengan pagoda yang sudah kami lihat sebelumnya, lebih menyerupai istana dengan ornamen kaca dan warna tetap keemasan. Dari atas sini kita bisa melihat kota Mandalay termasuk Mandalay Palace, pemandangan yang cukup mengagumkan.......udaranyapun cukup sejuk.



Setelah puas berkeliling dan memotret. Kami turun menggunakan lift yang hanya muat 6 orang saja termasuk petugas di dalamnya. Sesampai di bawah, ternyata lift berada di gedung yang berbeda dengan elevator naik, jadi kami harus keluar berjalan tanpa alas kaki masuk lagi ke gedung untuk mengambil sepatu. Untung saja tidak hujan....Kebanyakan turis menyewa mobil, jadi mereka meninggalkan sepatunya dalam mobil.

Kami turun dengan jalan santai, perlu waktu 30 menit sampai di pangkalan angkot. Lalu naik angkot sampai di 25th street. Sampai hotel hanya beberapa menit kurang jam 10, batas akhir waktu sarapan pagi. Langsung kami naik ke lantai 4 untuk sarapan. Roti, selai, telur, pisang dan kopi/teh. 

Selesai mandi, kami packing lalu check out. Kami boleh menitipkan ransel kami sampai waktu kami berangkat ke terminal.

Mandalay terkenal dengan jade market-nya. Hanya saja info dari hotel, harus naik taxi sekitar 30 menit. Kami tanya ada tidak angkot yang lewat pasar itu, tapi mereka bilang tidak tahu. Jadi kami putuskan untuk ke pasar saja yang bisa ditempuh dengan 15 menit jalan kaki dari hotel.

Melewati clock tower yang ada di perempatan jalan, berdirilah zay cho market, dimana apapun ada disana. Sekarang pasar ada 4 bangunan, 2 bangunan saling berhadapan. 

Keliling pasar, akhirnya kami membeli kain longyi yang harganya beragam dari 3.000 sampai puluhan ribu kyat tergantung pada bahan dan tingkat kerumitan design. Tetap saja harus tawar menawar hahaha.......




Selesai makan siang di pasar, kami kembali ke hotel. Menggunakan wifi di loby untuk melewatkan waktu kami ke terminal sekitar pukul 4 sore. Bus kami pukul 8 malam. Perjalanan dari hotel ke terminal sekitar 30 menit. Kami ingin makan malam dahulu di rumah makan dekat terminal, tempat kami sarapan kemarin pagi.

Manajer hotel bilang untuk ke terminal bus kami harus naik taxi, ongkosnya $20. Tapi kami bilang kalau kemarin kami naik angkot hanya 500K. Dia bilang tidak tahu....walah.....mungkin dia dapat komisi dari supir taxi....

Info yang saya baca, Mandalay punya 2 terminal bus, jadi tiket bus saya tunjukkan ke supir angkot untuk memastikan kami naik angkot ke terminal yang benar. Ternyata di Madalay ada juga sistem oper wkwkwk.....bukan hanya di Jakarta saja. Di tengah jalan kami dioper ke angkot lainnya yg lebih penuh karena hanya kami bertiga saja yang bertujuan ke terminal. Teman saya memastikan bahwa kami tidak perlu membayar lagi. 

Kami mampir makan dahulu sebelum ke terminal bus. Bus berangkat pukul 20.00, sampai di Nyaung Shwe pukul 4 pagi. Bus dilengkapi dengan toilet seperti di pesawat, sangat jarang bus Myanmar ada toiletnya. Tempat duduk penumpang ada di atas, supir di bawah. Kami bertiga mengambil bangku yang sendiri-sendiri. Nyaman namun dingiiinnnnnnya minta ampun meskipun sudah memakai selimut, kadang sampai 8 derajat Celcius.

Malam ini tidur lagi di bus......Esok pagi sampai di Inle.....



Myanmar Trip 2014 - Day 6 - Mandalay-Amarapura-Sagaing-Inwa

Pada saat kami ke sana, Mandalay memberlakukan jam malam dari jam 21.00 sampai 4 pagi keesokan harinya. Bus kami sampai di pintu gerbang kota Mandalay sekitar pukul 1.15 pagi. Bus berhenti, tidak ada pemberitahuan apapun kepada penumpang. 

Kami memutuskan untuk turun dan melihat situasi. Ternyata kami harus menunggu sampai jam 4 pagi untuk masuk ke Mandalay. Supir bus dengan santainya, menggelar tikar di depan bus dan tidur.....walah.....

Penumpang yang sudah tidak bisa menahan kecing, membuang hajatnya di semak-semak pinggir jalan. Tidak ada fasilitas apapun disekitar gerbang. Petugas yang berjaga juga hanya duduk ditempatnya saja. Sementara beberapa orang bermain dadu. Beberapa orang lainnya tidur atau duduk-duduk di tepi jalan, meluruskan kaki. Beberapa orang berbincang dengan teman baru sesama penumpang. Sebagian tetap tinggal di dalam bus.


At Mandalay city gate : waiting for curfew ends
Pukul 4 pagi bus diperbolehkan memasuki kota Mandalay, ternyata hanya perlu 10 menit saja sudah sampai. Seperti biasa penumpang diserbu calo-calo taxi dan hotel. Kami memilih untuk menghindar dan mencari tempat duduk untuk beristirahat sambil menunggu pagi. 

Lewat pukul 5, kami didekati oleh seorang anak muda yang gigih menawarkan hotel dan taxi untuk mengantar kami. Dengan pengalaman yang kurang mengenakkan di Bagan, kami tidak berminat untuk menerima tawarannya. Namun dia mau mengantar kami ke agen bus ke Inle (kotanya bernama Nyaung Shwe). Tiket bus VIP Shwe Nan Taw dengan kursi 2+1, lengkap dengan toilet di dalamnya seharga 10.500K.  

Kami memutuskan untuk keluar dahulu dari terminal bus, tak lama kemudian kami melihat rumah makan besar, ramai menjual sarapan. Ada cakwe (iya namanya sama dengan di Indo), bacang, bakpao dan tentunya mie. Makanannya enak dan murah. Namun telihat banyak perkerja anak-anak di sini. 

Dari info yang saya baca, banyak penginapan murah di sekitar 25th street. Penamaan jalan di Mandalay menggunakan angka. Ternyata ada angkot dr depan rumah makan itu yang rutenya melewati 25th street. Komunikasi dengan kenek angkot dengan menunjukkan peta yang kami peroleh di bandara. Angkot seharga 500K, kalau naik taxi mungkin 5-6 ribu Kyat.

Turun di 25th street, kami menyusuri jalan sambil melihat-lihat dimana ada penginapan, akhirnya kami masuk ke Hotel Nylon, hotelnya sudah tua namun letaknya strategis. Dan ternyata harganya masih masuk dalam budget kami. Kamar bertiga dengan AC (meskipun kurang dingin), kamar mandi dalam, termasuk sarapan $30. Kamarnya bersih namun tidak ada lift, letaknya di lantai 3 (sebenarnya naik 4 lantai). Akses Wifi hanya ada di loby hotel.

Setelah menyelesaikan administrasi, saya bilang ke manajer hotel, kalau kami ingin mengunjungi Amarapura, Sagaing dan Inwa. Si bapak menawarkan untuk sewa mobil 33.000K bertiga, jadi masing-masing 11.000K. Kami akan diantar anaknya. Sepakat untuk berangkat jam 8.30, setelah kami mandi dan berberes terlebih dahulu. 


Pemberhentian pertama di Mahamudi Pagoda, dimana terdapat patung Budha dari perunggu berlapis keemasan setinggi 4 meter dan berat 6,5 ton, memakai mahkota dihiasi berlian, ruby dan safir. Disini wanita tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan dimana patung Budha berada, namun terdapat beberapa layar TV yang memperlihatkan ruangan tersebut. Banyak laki-laki yang berdoa dan menggosokkan kertas keemasan ke patung.



Mahagandayon Monastery, Amarapura didirikan tahun 1914, dimana merupakan biara tempat belajar dan tinggal sekitar 1.700 orang biksu. Kami datang beberapa menit sebelum pukul 10 pagi, waktunya biksu-bisksu berbaris untuk makan. Tempat ini menjadi salah satu desinasi turis di Amarapura. Terlihat papan besar peraturan untuk pengunjung. Di salah satu lorong berjajar rapi sandal biksu, yang dilepas saat mereka mengambil makanannya.


Kami diantar di pabrik penenunan kain Myanmar. Motifnya mirip dengan tenun sumba, beberapa mirip dengan ulos Batak, Sumatra. Menurut saya masih lebih bagus tenun Indonesia.


Melewati jembatan Inwa yang menghubungkan antara Mandalay dengan Sagaing melintasi sungai Irrawaddy, kita bisa melihat Sagaing Hill dari kejauhan. Kami sempat berhenti sebentar mengambil beberapa foto.


Kami diturunkan di kaki bukit dimana Sone Oo Pone Nya Shin Pagoda berada di puncaknya. Bentuk pagoda ini bagai miniatur dari Shwedagon yang ada di Yangon. Ada tangga naik ke puncak hanya tidak setinggi mount Popa. 


Inwa atau Ava terletak 21 km dari Mandalay, dapat dicapai sekitar 30 menit dengan mobil. 
Terdapat kawasan kota tua peninggalan Kerajaan Ava. Kita harus naik boat untuk mencapai kawasan tersebut lalu menjelajah dengan delman atau jalan kaki. Hari sudah sian dan panas terik, dengan pertimbangan sudah capek jalan kaki dan mahalnya sewa delman, maka kami memutuskan untuk langsung menuju U Bein Bridge di Amarapura, sekalian makan siang di sana.

U Bein Bridge yang panjangnya 1,2 km, merupakan salah satu obyek foto yang terkenal saat sunset. Makan siang di sekitar U Bein Bridge, enak dan tidak terlalu mahal. Kali ini kami pesan ikan goreng dan udang goreng, lalu nanas dan semangka. Banyak rumah makan yang didirikan dipinggir  sungai dengan pemandangan ke sungai. Selesai makan kenyang, kami duduk-duduk sampai ketiduran sambil menunggu waktu sunset, nikmatnya.....setelah semalam kami tidak tidur.  

Sore kami terbangun (untung tidak diusir sama pemilik warung makan hihihi....) lalu berjalan menyusuri jembatan, sekali kali memotret. Ada penjual makanan, suvenir, bahkan peramal yang membuka praktek di atas jembatan. Anak-anak sekolah pulang berjalan kaki atau bersepeda. Dibeberapa tempat disediakan tempat duduk untuk istirahat menikmati pemandangan. 

Kami sempat melihat ada pengambilan foto pra-wedding dengan kosum warna pink, jadi ikutan deh..... Pengambilan foto dilakukan dengan perahu dari sungai. Rupanya foto-foto sunset U Bein Bridge juga diambil dari sungai dengan boat. Kami memang melihat beberapa boat disewa orang yang memotret jembatan. Kami tidak mungkin sewa boat, jadi kami memutuskan tidak menunggu sampai sunset, lagipula cuaca berawan. Sekitar pukul 6 sore kami memutuskan kembali ke hotel.


Hari ini jam malam masih diberlakukan. Kami ingin melihat situasi jam malam dari jendela kamar, tapi hanya rupanya terlalu lelah untuk menunggu 5 menit saja dari pukul 9 malam, kami sudah tertidur....zzzzzzzzzzzzz

Esok pagi, kami akan ke Mandalay Hill, yang bagus saat sunrise.......


2014/08/08

Myanmar Trip 2014 - Day 5 - Mount Popa (1.518 MASL)

Selesai sarapan, pukul 8 pagi kami berangkat ke mt. Popa dengan mobil sewaan dari penginapan. Mt. Popa terletak sekitar 50 km sebelah tenggara Bagan. Berada diketinggian 1.518 di atas permukaan laut dan untuk mencapai puncak, kita harus menaiki tangga sebanyak 777 buah. 

Dalam perjalanan menuju mt. Popa, kami diajak mampir ke tempat pengolahan pohon enau. Dari pohon tersebut menghasilan 4 jenis olahan yaitu 

  • Minyak kelapa yang digiling secara tradisional dengan menggunakan tenaga sapi, namun sewaktu kami datang sapinya sedang sakit. 
  • Gula aren, yang selain gula itu sendiri, juga dibuat berbagai macam panganan, misalnya dicampur dengan kacang-kacangan.
  • Minuman jus yang manis dan tidak beralkohol.
  • Wine/ minuman beralkohol setelah melalui proses penyulingan secara tradisinal.
Cukup mengesankan, dengan tempat sekedarnya dapat menjadi obyek pariwisata.


Kami sempat mampir di pasar buah. Myanmar menghasilkan buah-buahan yang bagus, harganya hampir sama dengan di Jakarta. Kami membeli jambu biji untuk dimakan di jalan. Sempat memotret anak penjual buah yang diberi thanakha dengan gambar beruang di dahi hihihihi.....


Ada suatu tempat di desa kaki gunung Popa, dimana kita dapat memotret mt. Popa secara utuh dari kejauhan. Kami diminta membayar 200K sebelum masuk. Desa sedang berbenah, banyak patung-patung sedang dibuat. Dari kejauhan terlihat seperti istana negri dongeng di atas telur dengan tangga melingkar. Gerimis turun dan berawan..........


Setelah menanjak, melewati beberapa kelokan, sampailah kami di tangga masuk untuk naik ke gunung Popa. Seperti biasa, di kanan kiri berjajar pedagang suvenir di sepanjang lorong tangga. Sampai loket tempat penitipan alas kaki. Alas kaki kami bawa dalam tas, jika dititipkan hanya perlu memberikan donasi. Untuk masuk ke mt. Popa tidak dipungut biaya.

Sepanjang jalan dan tangga naik, sangat kotor. Cukup mengherankan mengingat mt. Popa merupakan tempat ziarah. Sepertinya pemeliharaan diserahkan kepada penduduk setempat. Sepanjang perjalanan beberapa orang laki-laki meminta donasi untuk kebersihan, namun tidak ada tempat yang bersih.

Mungkin juga tidak bisa bersih karenanya banyaknya monyet yang berkeliaran. Monyet2 cukup cerdik dan nakal. Jika ada kesempatan mereka akan mengambil makanan kita. Sempat kami lihat seorang monyet mencuri minuman kaleng dari salah satu pedagang minuman ....dengan pintar membukanya dan menikmati di atas atap.....hahaha

Jangan terlalu khawatir dengan jumlah 777 tangga yang harus kita daki, sebab ada beberapa tempat dimana kita bisa beristirahat duduk sambil menikmati pemandangan sekitar sebelum lanjut naik. Capeknya sangat layak dengan imbalan pemandangan spektakuler di puncak.


Lewat pukul 1 siang, kami turun untuk kembali ke penginapan. Kami makan siang di perjalanan dan sempat melewati ladang bunga matahari, sayangnya tidak bisa masuk. Hanya memotret dari luar saja.


Pemilik penginapan memperbolehkan kami numpang mandi dan menunggu sampai kami dijemput menuju terminal bus sekitar pukul 20.30.

Bus berangkat pukul 21.30, kami tidur di bus malam dari Bagan menuju Mandalay...........

Next.....Mandalay

Myanmar Trip 2014 - Day 4 - Bagan Cycling

Konon Bagan memiliki sekitar 2 ribuan pagoda dan kuil, sebagian masih bagus, lainnya tingal reruntuhan. Untuk menjelajahinya ada beberapa opsi: berjalan kaki, bersepeda, naik motor, naik delman atau naik mobil. Sebagian besar terdapat di area Old Bagan.

Kami memilih untuk naik sepeda, seorang teman saya memakai sepeda listrik. Sewa sepeda sehari 1.500K sedangkan sepeda listrik 6.000K. Jalan kaki sepertinya akan sangat melelahkan mengingat cuaca sangat panas terik. Naik delman terlalu mahal dan tidak terlalu nyaman, karena delman di Bagan agak berbeda cara duduknya. 1 orang duduk menghadap kedepan disamping pak kusir dan 2 orang lagi harus menghadap kebelakang, karena di tengah tidak ada tempat untuk menaruh kaki, seperti delman di Indo. Harga delman sekitar 30.000K.

Target kami hari ini, setidaknya dapat mengunjungi Ananda Temple, Thatbinnyu, Htilominlo Temple, Dhammayangyi dan sunset di Shwe San Daw.

Bagan Temple Map
Kami berangkat pukul 9 setelah sarapan di roof top penginapan. Pemberhentian pertama setelah sekitar 30 menit bersepeda di kuil yang saya tidak tahu namanya ;p kami melihat ada delman parkir di depannya, jadi kami mungkin cukup layak untuk dilihat. 


Kuil terbuat dari bata merah dan cukup bersih terawat. Kami masuk dan disambut oleh seorang pelukis yang menjual lukisannya di dalam kuil. Kami diantar untuk melihat-lihat keatas. Dari atas kami bisa melihat hamparan kuil dan pagoda sejauh mata memandang. Dalam kuil tergambar samar beberapa lukisan Budha.

Teman saja membeli lukisan akrilik yang kualitasnya cukup baik, bahkan lebih baik dibanding lukisan yang dijajakan sepanjang penjelajahan kami di Bagan. Min-Min nama pelukisnya mengatakan bahwa Bagan sangat tergantung pada turis, akan mati tanpa turis. Jadi dia bersyukur karena pembebasan visa untuk orang Indonesia, dengan demikian akan makin banyak yang datang ke Myanmar. Berbeda dengan Yangon dan Mandalay yang akan tetap hidup meskipun tidak ada turis.

Htilominlo Temple cukup ramai dikunjungi. Disini kami diminta untuk menunjukan tiket masuk Bagan Zone. Anda harus membayar kalau belum memilikinya. Candi ini dibangun oleh raja Nantaungmya pada tahun 1218. Terbuat dari bata merah dan semen.
Di lingkungan candi banyak penjual suvenir, kami juga menemukan adanya suku leher panjang Karen.

Htilominlo Temple

Hari sudah siang, perut lapar. Kami mampir di warung yang didirikan sekedarnya di bawah pohon. Kami harus menunggu nasi matang sekitar 15 menit. Cukup layak untuk ditunggu, makanan yang disajikan dibayar per paket per orang 1.500K. Cara penyajiannya seperti warung padang tapi harganya sudah paket. Rasanya sesuai dengan lidah kita, yang penting ada sambelnya hahaha..... 


Ananda temple menarik untuk dilihat dan agak berbeda dengan lainnya. Banyak orang datang untuk beribadah. Terdapat 4 patung Budha besar di 4 arah mata angin, dan cetakan bentuk kaki Budha di batu besar. Kassapa di Selatan, Kakusanda di Utara, Konagamana di Timur dan Gotama di Barat.

Ananda Temple

Buddha Images inside Ananda Temple
Pemberhentian selanjutnya Thatbyinnyu Phaya. Bagunannya cukup besar, namun di dalamnya sangat kotor dan tidak terawat. Kami hanya melihat-lihat sebentar saja.


Tidak jauh dari Thatbyinnyu ada bukit kecil, kita bisa naik untuk mengambil foto selfie dengan latar Thatbyinnyu secara utuh.

Setelah mampir ke beberapa candi/pagoda kecil lainnya, sampailah kami di Shwesandaw Pagoda. Hari masih jam 3 sore dan panas terik. Shwesandaw sebenarnya tidak terlalu menarik. Bagunannya tidak terawat. Untuk naik kita harus naik tangga yang cukup curam. tangga ada di keempat sisinya. Kita harus membuka alas kaki. 

Hanya saja Shwesandaw adalah spot terbaik untuk menikmati sunrise dan sunset di Bagan. Jadi pasti ramai dikunjungi. Semua berebut untuk mengambil spot yang bagus untuk mengabadikan sunrise maupun sunset. Dan memang pemandangan dari atas sangat spektakuler!!

Berikut beberapa jepretan kamera saya......




Sunset hanya berlangsung sekitar 15 menit saja, sekitar pukul 18.30 tapi kami harus menunggu selama 3 jam! Selain karena panas terik, juga kemungkinan tidak cukup waktu untuk kembali saat sunset jika kami eksplor ke pagoda lainnya. Kami tidak sempat mampir di Dhammayangyi Temple, namun wujudnya bisa tertangkap kamera dan terlihat megah dari atas Shwesandaw.

Sunset menghilang, semua bergegas turun untuk pulang. Tidak terlalu banyak penerangan jalan, hari menjelang gelap. Kami melewati Bagan Archaeological Museum yang bentuk bangunannya cukup unik. Namun tentunya sudah tutup. Perjalanan kembali ke penginapan tanpa berhenti, memakan waktu sekitar 1 jam. Kami mampir makan malam dahulu sebelum mengembalikan sepeda kami. 

Sebelum kembali ke kamar, kami mengatur sewa mobil untuk ke mount Popa besok pagi dengan saudara pemilik penginapan. Kami akan berangkat pukul 8 pagi dan kembali sekitar pukul 2 siang, masih cukup waktu sebelum melanjutkan perjalanan ke Mandalay dengan bus malam. Harga sewa untuk bertiga 12.000K/orang, jika berempat 10.000K/orang sedangkan berlima 8.000K/orang.

Next...Mount Popa!

2014/08/07

Myanmar Trip 2014 - Day 3 - Fist Day in Bagan

Bagan merupakan tujuan wisata utama di Myanmar. Ibukota pertama Kekaisaran Myanmar dan salah satu situs arkeologi terkaya di Asia Tenggara. Menurut salah satu situs yang saya baca, 4 tempat utama yang wajib dikunjungi adalah Shwezigon, Ananda, Dhammayangyi dan Thabbyinnyu Pagoda. Namun untuk melihat sunrise dan sunset, anda harus ke Shwe San Daw Pagoda.

Bagan sendiri terdiri dari 3 area: Nyaung-U, Old Bagan dan New Bagan. Dari informasi yang saya baca, Nyaung-U tempat penginapan murah untuk backpacker. Old Bagan merupakan area luas tempat kuil Budha, stupa, pagoda dan reruntuhan berasal dari abad 11-12, dimana tidak ada rumah penduduk disekitarnya. Sedangkan New Bagan, area hotel, resort dsb.

Pukul 4 pagi, hari masih gelap gulita sampailah bus di terminal bus Bagan yang baru, sekitar 7 kilometer dari Nyaung-U. Begitu turun dari bus, kami dikerumunin banyak orang yang menawarkan untuk membawa kami ke kota dan penginapan. Kami tidak memesan penginapan, selain untuk hari pertama kedatangan kami di Myanmar. 

Kami memutuskan untuk duduk dahulu menunggu, sampai akhirnya tinggal kami yang menjadi sasaran kerumunan orang. Semuanya berebut untuk menjajakan layanannya. Sampai akhirnya kami memilih seorang bapak, yang menawarkan untuk mengantar dan membantu mencari penginapan sesuai pilihan kami. Kami kira si bapak, supir yang akan mengantar kami ternyata juga calo. Si bapak menanyakan akan kemana kami setelah Bagan, tiketnya bisa dibeli sekarang karena sudah buka. 

Pengalaman kami di Yangon, jika beli tiket bus di penginapan akan lebih mahal harganya. Maka kami memutuskan untuk membelinya di terminal. Tiket bus Shwe Man Thu ke Mandalay dengan  keberangkatan jam 21.30 dan gratis dijemput dari hotel kami, seharga 8.000K.

Ternyata kami diantar oleh orang lain, supirnya tidak bisa bahasa Inggris tapi keneknya cukup mengerti. Kami membayar 1.000K per orang, belakangan baru tahu sepertinya kemahalan. 

Di tengah jalan kami diberhentikan, dan harus membayar tiket masuk Bagan Archaeological Zone seharga $15. 15.000 jika membayar dengan Kyat atau 15 EUR ;( 

Memasuki Nyaung-U kami diantar melihat penginapan yang mungkin rekanan si supir, tapi tidak cocok. Supir hanya mau mengantar ke 3 tempat saja. Akhirnya kembali ke penginapan yang pertama meskipun tidak terlalu bagus. Tidak sengaja kami melihat guest house di depannya sepertinya masih baru dan bagus, jadi kami coba masuk.

Setelah melihat kamarnya dan harga cocok, kami memutuskan untuk menginap di Saw Nyein San Guesthouse untuk 2 malam. 1 kamar bertiga $35/malam, menurut pemiliknya harga sudah didiskon karena low seson. Kamar cukup luas dengan AC, kamar mandi dalam, TV dan termasuk sarapan. Kami harus menunggu sampai jam 12 siang, karena kamar masih dihuni.


Kami diberitahu untuk jalan-jalan dahulu melihat pagoda di area Nyaung-U, tidak jauh untuk dicapai dengan jalan kaki. Hari masih belum pukul 8 pagi, jalanan masih sepi. Sepertinya orang Bagan bukan "morning person" seperti di Yangon. Seorang teman baru dari Korea yang juga menginap di situ, bergabung bersama kami.

Pemberhentian pertama kami di kuil yang namanya kami tidak tahu karena papannya bertuliskan huruf Myanmar, tanpa huruf latin. Cukup bagus dan terawat. Seorang anak kecil membukakan pintu kuil, dan mengajak kami masuk dan naik ke atas. Di atas kami bisa melihat pagoda sekitarnya.....cukup mengagumkan.... Ini fotonya.


Tak lama kemudian kami menemukan Shwezigon. Shwezigon menyimpan replika gigi Budha di Kandy, Srilanka. Masih aktif digunakan untuk ibadah, cukup terawat. 
Tidak terlalu ramai pengunjung, kami bertemu dengan pasutri Myanmar yang minta foto bersama kami ;p lalu ada bapak dari Singapore yang membantu mengambil foto.


Hari mulai panas terik, jam 11 kami kembali ke penginapan. Setelah sebelumnya makan siang dahulu. Sekembalinya di penginapan ternyata kamar sudah siap, kami diperbolehkan masuk. Beres-beres, mandi sekalian cuci baju lalu tidur siang.....zzzzzz......

Sekitar jam 4 sore, cuaca sudah tidak terlalu panas, kami keluar untuk jalan-jalan. Kami menemukan ada museum Thanakha. Semua orang Myanmar memakai Thanakha, bahkan di kota seperti Yangon, thanakha umum dipakai. Dari bayi, anak-anak sampai orang tua. Biasanya laki-laki tidak menggunakannya setelah lewat masa puber, namum wanita tetap menggunakannya sampai tua. Mereka menggunakannya sebagai all in one kosmetik, tabir surya, bedak pendingin wajah dan badan. 

Awalnya saya kira thanaka terbuat dari beras yg ditumbuk seperti bedak dingin yang biasa dipakai di Indonesia. Ternyata thanakha terbuat dari kulit kayu pohon thanakha yang tumbuh di daerah Myanmar tengah yang kering. 

Penggunaan tradisionalnya, dengan menggilingkan kulit kayu itu ke batu bulat yg diberi air. Cairan hasil gilingan tersebut dioleskan ke muka, bagian pipi dan hidung akan dioles lebih tebal. 

Kayu-kayu thanaka dijual dimana-mana, bahkan di pasar. Harganya bervariasi tergantung ketebalan kulit kayunya. Namun thanaka sudah diolah sebagai cream yang dikemas praktis, tinggal menambahkan air saja untuk pemakaiannya, bahkan sudah ada dalam bentuk bedak 3 way cake dan lotion. Kami membeli dan menggunakan thanaka, ternyata nyata khasiatnya. Kami kira produk thanaka ini hanya dijual di toko museum thanaka, ternyata kemudian kami menemukan produk itu dijual di banyak kota dan harganya jauh lebih murah dibandingkan di Bagan. Segala sesuatu lebih mahal di Bagan. Bagan sangat tergantung pada turisme. 


Sebelum kembali ke penginapan kami makan malam dahulu di pasar. Mi ayam lagi tapi beda cara memasaknya, bumbunya mirip dengan mi goreng instan kita.



Malam pertama di Bagan, tidur nyenyak.....

TIPS

  • Pakai sandal/sepatu yang mudah dibuka agar tidak repot karena kita harus melepas alas kaki sebelum masuk pagoda/temple.
  • Jangan membeli oleh2 di Bagan, harganya jauh lebih mahal dari Mandalay, Inle dan Yangon.
  • Pada low season, kita dapat menawar harga penginapan maupun transportasi.
  • Memakai thanakha cukup manjur untuk mendinginkan wajah dan mencegah kulit terbakar matahari.