2014/12/10

China Trip Nov'14 - Sunrise & Sea of Cloud at Mt. Huangshan

Alarm berbunyi pukul 4.30, bangun, sikat gigi dan cuci muka, lalu menunggu Yen Yen. Pukul 5 kami jalan menuju spot sunrise terdekat dari Baiyun. Udara dingin ditambah angin cukup kencang. Sudah banyak orang berjalan menuju spot sunrise. Saya tertinggal Yen Yen, jadi saya mengikuti banyak orang saja. 

Sampai di spot yang sempit, saya beruntung masih dapat tempat untuk berdiri. Spot terdepan dan terbaik sudah diambil orang. Beberapa orang sudah memasang tripod. Saya perhatikan, orang China kebanyakan menggunakan smartphone jika tidak kamera profesional untuk memotret, hampir tidak ada yang menggunakan kamera poket seperti saya. Mungkin kualitas kamera smartphone-nya sudah bagus. 

Menanti detik-detik sang surya nongol dalam dingin. Seruan kagum serentak saat matahari muncul. Makin terang, makin terlihat lautan awan di bawah kami, dengan beberapa puncak gunung batu yang unik bentuknya. Sungguh keputusan yang tepat untuk naik Huangshan kemarin. 

Keindahan tidak bisa diungkapan dengan kata-kata. Beberapa tangkapan kamera mungkin bisa menggambarkannya.


Sunrise at Mt. Huangshan

Sea of cloud at Mt. Huangshan
Menjelang pukul 7, satu persatu orang membubarkan diri kembali ke hotel. Saya menemukan Yen Yen di spot lain di bawah. Saya tinggal sampai 7.30, lalu kembali ke hotel. Yen Yen masih ingin tinggal menikmati lautan awan yang makin jelas. 

Dalam perjalanan turun ke kamar, saya bertemu Fish. Lalu dia mengantar saya ke kamar. Kami tidak diberi kunci kamar, jadi saya cari orang yang bisa membukakan kamar. Ternyata sampai di kamar, sudah ada orang yang membereskan kamar, mengganti sprei, sarung bantal dan selimut. Padahal barang-barang saya dan Yen Yen masih ada di dalamnya. Ketiga teman sekamar kami sudah tidak ada.

Saya ingin makan dahulu sebelum turun. Saya membeli nasi dan lauk instan sebelum naik Huangshan (15 yuan). Isinya terdiri dari nasi setengah matang (saya kira), lauk, air, masing-masing dibungkus plastik dan 1 bungkus saya tidak tahu apa tapi fungsinya menjadikan air jadi panas sampai beruap untuk memanaskan nasi dan lauk. Wah benar-benar teknologi hebat, baru kali ini saya lihat. Semoga segera ada di Indonesia, ini praktis sekali, cocok untuk orang Indonesia yang tidak bisa tidak makan nasi hehehe.....

Fish membantu saya menyiapkan makanan saya. Nasi dibuka dan di taruh di wadah plastik yg tersedia di kemasan, lauk di taruh di atas nasi. Bungkusan pemanas diletakkan di wadah plastik yg lebih besar, lalu air dalam plastik dituangkan. Wadah berisi nasi dan lauk tadi ditaruh di atas air yang memanas. Lalu ditutup sampai uap panas keluar. waalaaa..... nasi dan lauk matang, siap disantap panas-panas. Hmmm.....cukup enak apalagi di udara yang dingin. Porsinya cukup besar, saya hanya sanggup makan setengahnya saja. 


Nasi dan lauk instan


Lalu saya seduh kopi yang saya bawa dari Jakarta. Saya berikan ke Fish beberapa bungkus beserta mie cup yang belum sempat saya buka, karena Fish lebih memerlukannya, dia memutuskan untuk lanjut menjelajah Huangshan dan akan menginap semalam lagi. 

Sudah lewat jam 8, tapi Yen Yen belum muncul juga. Fish bilang tinggal saja, lalu saya minta dia menulis dan meninggalkan pesan kalau kami melanjutkan perjalanan. Sebelum turun gunug, saya ingin melihat tempat yang dinamai Fairy Walking Bridge, sepertinya tidak jauh dari Baiyun. Fish bersedia menemani saya. Sekitar pukul 9.30 saya memutuskan untuk kembali ke arah Baiyun untuk menuju arah turun gunung. Kami berpisah dan saya kembali sendirian.

Sesampai di pertigaan jalan, saya bingun mana arah turun gunung, sebab jalan lurus ke arah ke Baiyun sedang jalan lainnya mendaki. Tak lama ada pasangan yang lewat, saya tanya menggunakan peta mana arah turun gunung, lalu yang wanita bertanya ke orang lewat. Ternyata yang benar arah yang mendaki. Saya mengikuti mereka, sesekali jika saya tertinggal, saya ditungguin. Aduh untung juga ya.....

Sampai di suatu persimpangan, mereka akan berbelok mampir mengambil arah lain dulu. Jadi saya lanjut sendirian turun. Tapi kemudian saya bertemu rombongan tur, jadi mereka saya jadikan patokan. Saya harus langsung turun karena takut tertinggal bus terakhir ke Tunxi jam 5 sore. Langkah turun saya seperti kura-kura, pelan sekali. Paha dan betis sakit, jalan menurun terus hanya sekali-kali saja mendaki. 





Akhirnya pukul 15.30 sampai juga saya di bawah. Membeli tiket bus ke Tangkou 19 yuan. Tak lama kemudian bus berangkat. Saya turun di terminal tempat kami kemarin naik bus. Ternyata hanya 2 orang termasuk saya yang turun, lainnya lanjut entah kemana. Lalu saya mencari mini bus ke Tunxi di depan restoran yang kemarin. 

Ada mini bus yang berangkat, saya berlari-lari memanggil. Lalu saya tunjukan tulisan Tunxi. Ternyata benar dan sayapun naik. Rupanya saya satu-satunya penumpang. Lalu bus keliling ke hotel-hotel mengambil penumpang. Nah sampai di perbatasan Tangkou, busnya berhenti. Rupanya kami dioper ke mini bus lainnya. Di bus ini baru kami dimintai ongkos, hanya 17 yuan. 

Sampai di terminal Tunxi, saya memutuskan untuk langsung ke Tunxi Ancient Street. Kita bisa naik bus nomor 1,2 atau 8, turun di halte Er Ma Lu.  Memasuki Tunxi Ancient street seperti di film-film silat. Sepertinya jalan tua ini memang untuk turis. Sepanjang jalan banyak toko-toko tua, ada juga restoran dan museum. Mereka menjual suvenir, jajanan khas Tunxi, lukisan, kipas, berbagai macam teh, lalu ada juga yang menjual olahan cabe, acar dan berbagai makanan pembuka. Saya membeli kue seperti pia, khas Tunxi untuk oleh-oleh. Kue ini terkenal dan enak. 






Hari sudah gelap, saya pulang ke hostel dengan berjalan kaki setelah lama menunggu bus tidak muncul. Saya sempat tersesat, tapi akhirnya sampai juga ke hostel. Mengambil tas saya di penyimpanan lalu ke kamar. Kali ini saya mendapat kamar dorm 6 bed tapi dengan kamar mansi dalam. oh ya Yen Yen bilang dia hanya membayar kamar 30 yuan saja, sedang saya kena 40 yuan huhuhu...... Hostel sepi, kamar saya hanya berisi 3 orang saja.

Saya berberes dan istirahat, besok pagi saya akan ke Hangzhou, destinasi terakhir trip ini sebelum pulang ke Jakarta.


2014/12/09

China Trip Nov'14 - Mendaki Gunung Huangshan (Yellow Mountain)

Pukul 6 pagi saya sudah bangun, bermalas-malasan sedikit lagi lalu mandi. Rencana hari ini akan ke desa Hongcun dengan Fish, teman baru sekamar. Sewaktu saya kembali ke kamar, Fish bilang ada perubahan rencana setelah berdiskusi dengan YenYen teman sekamar lainnya. 

Melihat prakiraan cuaca akan lebih baik mendaki Huangshan hari ini meskipun hujan tapi tidak deras hanya gerimis saja. Cuaca esok hari cerah jadi kemungkinan akan dapat sunrise. Saya sih OK saja, tapi karena sudah terlanjur membayar 2 malam, maka saya harus mengubah waktu saya menginap. 

Saya turun untuk bicara dengan petugas hostel, kamar saya di lantai 2. Saya jelaskan perubahan rencana, bahwa saya akan ke Huangshan hari ini dan kembali menginap di situ lagi lusa. Hari ini akan menginap di atas gunung. Petugas membolehkan saya mengubah waktu tinggal, menuliskan di tanda terima dan saya boleh menitipkan ransel roda saya di hostel. Jadi ke Huangshan dengan day pack saja.

Kembali ke kamar, saya buru-buru berberes. Lalu kami bertiga check out dari hostel. Berjalan kaki ke terminal bus dalam gerimis. Kami mampir ke supermarket di terminal, membeli makanan untuk dibawa ke gunung. Makanan & minuman di gunung mahal sekali, jadi lebih baik belanja sebelumnya. 


Bus Tunxi - Tangkou - Mt.Huangshan

Kami naik mini bus, ongkos dibayar di dalam bus, 20 yuan, berangkat pukul 8.15. Jarak Tunxi ke Tangkou hanya 1 jam perjalanan. Sampai di Tangkou kami harus ganti bus khusus gunung Huangshan. Busnya didominasi warna biru, besar dan bagus. Kami harus berjalan sekitar 200 meter dari tempat mini bus berhenti ke terminal bus. Membeli tiket bus di loket, 19 yuan, waktu tempuh 20 menit. 

Ada 2 pintu masuk ke mt.Huangshan dari Tangkou, yaitu Yungu dan Yuping. Kami memutuskan untuk lewat Yungu dan akan pulang lewat Yuping. Di kedua tempat itu ada cable car, jika anda tidak mau bersusah payah mendaki. Namun belakangan saya baru tahu kalau cable car di Yuping sedang tidak beroperasi. Tapi kami memang tidak berniat untuk naik cable car.

Saya harus membayar tiket masuk mt. Huangshan 230 yuan (sekitar 460 ribu rp), mahal juga ya....namun memang gunung ini dirawat dengan baik, tidak ada sampah berceceran, ada petugas yang mengangkut sampah. Tersedia juga toilet di sepanjang perjalanan, meski tidak bisa dibilang bersih. Dimana-mana juga disediakan tempat sampah. 

Jangan membayangkan mendaki gunung seperti di Indonesia, mt. Huangshan sudah ditata rapi jalurnya dengan tangga-tangga batu, hampir tidak ada tanah terbuka di jalur pendakian, jadi meskipun hujan tidak akan kena becek. 

Rupanya Yen Yen, seorang tour guide, tidak perlu membayar untuk masuk  mt.Huangshan, enak ya....mungkin saking mahal tiketnya, di depan loket disediakan mesin ATM hahaha...



Tiket masuk mt. Huangshan 230 yuan (Mar-Nov), 150 yuan (Des-Feb). Cable Car sekali jalan 80 yuan (Mar-Nov), 60 yuan (Des-Feb). 

Sebelum mulai mendaki Fish memesan hotel untuk kami menginap, booking online lebih murah. Kami memesan kamar dorm 6 bed di Baiyun hotel, ini yang termurah dibanding lainnya, per bed 78 yuan. Sewaktu booking ternyata bermasalah dengan nama saya, sebab website hanya menerima huruf kanji saja, tidak bisa huruf latin. Akhirnya nama saya diterjemahkan dalam huruf kanji, gak tau jadinya apa, saya ngikut saja. Untung juga saya bertemu mereka, kalau sendirian gak tau juga bagaimana. Beberapa kali hotel menelpon Fish, sepertinya konfirmasi nama saja. Hebat juga jaringan telpon di China, dari kaki gunung sampai puncak, Fish bisa menerima telpon bahkan video call. 


Climb Mt.Huangshan Route
Red - Climb Up, Green - Climb Down


Mt. Huangshan memiliki banyak puncak gunung, 3 puncak tertinggi dan terkenal adalah Lotus Peak 1.864 m, Bright Summit Peak 1.840 m dan Heavenly Capital Peak 1.829 m. Untuk menjaga kelestarian gunung, maka setiap 5 tahun puncak gunung ditutup secara bergantian. Lotus Peak sedang ditutup mulai 2013 selama 5 tahun. 

Mt. Huangshan merupakan salah satu situs warisan dunia UNESCO, terkenal dengan sea of cloud-nya, bentuk puncak gunung-gunung batunya, pohon pinusnya. Juga merupakan salah satu lokasi pembuatan film Crouching Tiger, Hidden Dragon. 



Kami mendaki perlahan-lahan dalam gerimis. Sekali sekali berhenti istirahat, juga berpapasan dengan orang naik maupun turun. Terkadang harus menepi jika pengangkut barang lewat, mereka mengangkut turun sampah dan laundry hotel, naik membawa bahan makanan, minuman, laundry bersih bahkan ada yang membawa kayu dan kaca. 

Di sepanjang rute, tersedia petunjuk beberapa spot foto terbaik, seperti God Points Roads, White Goose Ridge, Black Tiger Pine, dll. Kami sempat melewati 2 spot gembok cinta.



Hari mulai gelap ketika kami mencapai puncak yang dinamai Begining to Believe Peak, kabut makin tebal. Lalu kami berjalan dalam gelap menuju Baiyun hotel. Kami melewati Beihai dan Shilin Hotel. Di depan hotel ditulis kemungkinan bisa melihat sunrise esok pagi 60% dan waktu sunrise pukul 06.41. 

Kami beruntung bertemu ranger gunung dan akhirnya ditemani sampai Baiyun Hotel. Kalau saja saya naik sendiri pasti tidak berani jalan di gunung waktu hari sudah gelap. Sekitar setiap 10 meter dipasang lampu taman kecil, lumayan menerangi jalan. Bintangpun mulai bermunculkan. 

Kami sampai di Baiyun hotel lewat pukul 7 malam. Bangunan untuk dorm ternyata di bawah, kami harus turun sekitar 150 meter lagi. Sudah capek dan ngantuk, akhirnya sampai juga di kamar yang sudah terisi 3 orang lainnya. Saya & Yen Yen mendapat dorm female, sedang Fish berada di gedung yang terpisah. 

Air panas sudah tidak ada, jadi saya putuskan untuk cuci muka dan kaki saja. Colokan listrik & lampu juga tidak tersedia di tiap tempat tidur. Jadi berebut untuk mengisi baterai. Sebelum tidur saya pasang alarm pukul 4.30. Yen Yen yang doyan ngobrol masih ngobrol dengan penghuni lainnya. Saya langsung tidur, terlalu capek sesudah jalan selama 9 jam....lambat sekali memang, karena saya bukan pendaki, hanya terbiasa di jalan datar hahaha....untung teman-teman saya sabar menemani. Setidaknya target saya mendaki gunung Huangshan sudah tercapai.

Tips mendaki gunung Huangshan:

  • Menggunakan tongkat sangat membantu biarpun hanya tongkat kayu. Untung saya diberi 1 tongkat oleh Yen Yen, yang membeli sepasang dari ibu-ibu sebelum naik bus, harganya hanya 3 yuan saja.
  • Jas hujan, selain mencegah basah juga mengurangi dingin. yang sekali pakaipun juga tidak masalah.
  • Pakai sepatu yang nyaman. Beberapa orang menggunakan pembungkus sepatu tahan air. 
  • Bawa makan & minum, harga di atas gunung bisa berkali-kali lipat mahalnya.
  • Bawa barang secukupnya.
  • Jaket tentunya.
  • Menginap 1 atau 2 malam di atas gunung, jika beruntung dapat melihat sunrise, sunset dan lautan awan.
  • Jika tidak mengerti petunjuk yang ditulis dalam bahasa China, ikuti saja arah panahnya. 





China Trip Nov'14 - Beijing - Hangzhou - Huangshan : Lost in Transit

Seperti judul di atas "Lost in Transit", ini pengalaman saya tersesat di China karena salah turun bus dan terutama karena saya tidak bisa bahasa China.

Saya bangun pukul 4.30 pagi, lalu siap-siap dan berberes untuk check out dari Sanlitun Hostel, Beijing. Saya harus mencari resepsionis dulu untuk mengembalikan kartu akses kamar dan meminta uang deposit saya 100 yuan. 

Sebenarnya kereta saya pukul 7.25 tapi pengalaman saya, tempat di Beijing itu luas-luas jadi perlu waktu untuk mencari lokasi. Pukul 5 lewat saya keluar dari hostel. Udara cukup dingin dan masih gelap, saya berjalan menuju subway Dongsishitiao. Kereta cepat berangkat dari Beijing South Railway Station, untuk menuju kesana saya perlu transit di stasiun Xuanwumen pindah ke line 4, 3 stasiun saja. 

Dari subway Beijing South Railway menuju stasiun kereta apinya, kita naik eskalator lalu harus melewati security check. Stasiun keretanya besar dan bagus sekali, menurut saya melebihi bandara BCIA. Banyak resto, cafe dan toko-toko di dalamnya. Banyak pula gate menuju jalur kereta. Tersedia juga mesin-mesin tiket, mirip mesin ATM.

Karena masih cukup waktu, saya keliling stasiun dahulu. Kereta saya dengan nomor G57 ada di gate 9. Penumpang baru diperbolehkan masuk ke peron 15 menit sebelum keberangkatan. Melalui eskalator turun ke peron, langsung ke jalur kereta.

Saya baru tahu kalau ternyata kereta saya tujuan akhirnya kota Ningbo bukan Hangzhou. Jadi saya memasang alarm saya pukul 13.00 supaya tidak kelewatan. Kereta apinya mirip dengan shinkansen, kecepatannya sekitar 320 km/jam. Meskipun saya membeli kelas 2, namun kereta sangat nyaman. Waktu tempuh 5,5 jampun tidak terlalu terasa. Untuk kelas 2 tempat duduknya 3 bangku sebelah kanan dan 2 bangku sebelah kiri. Sepanjang perjalanan pramugari bolak balik menawarkan makanan, minuman juga buah-buahan. Kebanyakan penumpang sudah membawa bekal sendiri. Tersedia air panas yang bisa diambil sendiri. Beberapa penumpang saya lihat menyeduh mie instan. Petugas kebersihanpun hampir setiap setengah jam lewat mengambil sampah dari penumpang.

Bullet Train @Beijing South Railway Station
Kereta G57 berhenti di beberapa kota sebelum sampai di Hangzhou tujuan saya. Peminat kereta ini cukup banyak meskipun harga cukup mahal. Di tiap pemberhentian ada yang turun dan ada yang naik. Jika bukan low season, mungkin saya tidak kebagian tiket kereta ini.

Pemandangan di luar cukup menarik, beberapa tempat terlihat pohon-pohon berdaun kuning. Jarak Beijing - Hangzhou 1.279 km. Kereta berhenti di Hangzhou East Railway Station tepat pukul 13.05.

Beijing - Hangzhou
Hangzhou East Railway Station luas sekali, terhubung dengan subway dan bus. Saya harus ke Hangzhou West Bus Station, terminal untuk bus jarak jauh. Menurut informasi saya harus naik bus nomor B4 yang ada di east bus stop area (ada 2 area bus stop disini, east & west). 

Setelah jauh berjalan lalu naik eskalator, saya melihat beberapa bus yang menunggu penumpang. Saya bertanya ke petugas, tapi petugas itu menunjuk ke arah yang berlawanan. Jadi saya menuju ke west bus stop, saya tanya ke bagian informasi ternyata benar harus ke west area. 

Untuk naik bus B4 (ini jenis bus rapid transit yang punya jalur & halter sendiri seperti trans jakarta) membayar di loket sebelum masuk atau menggunakan Hangzhou transportation smart card. Ongkosnya 3 yuan, uang dimasukkan dalam kotak, jika anda membayar lebih tidak dikembalikan. Jadi di Hangzhou, anda harus menyiapkan uang koin. Ongkos bus di HZ antara 1-3 yuan tergantung jenis dan tujuan busnya.

Saya buru-buru lari melihat bus B4 akan berangkat. Busnya berupa bus gandeng. Menurut info yg saya peroleh perjalanan hanya setengah jam saja untuk sampai di HZ west bus station. Namun sudah hampir 1 jam bus belum juga berhenti, saya mulai gelisah, penumpang makin sedikit. Sampai di suatu tempat semua penumpang turun, jadi saya pikir ini tujuan terakhir, sayapun ikut turun.

Bus terakhir tujuan Tangkou (kota di kaki gunung Huangshan) sekitar jam 3 sore. Sekarang sudah hampir jam 3 dan saya tidak tahu berada dimana, hari juga gerimis. Saya mencoba bertanya ke orang dengan menunjukkan kertas catatan saya, ada yang menolak bahkan untuk melihat kertas saya. Ada yang mau membantu tapi juga menjawab dalam bahasa China, jadi saya paham maksudnya. Saya berjalan, lalu melihat tanda kantor polisi, tapi tidak ketemu juga. Saya lalu menyeberang jalan dan bertanya lagi ke orang, dimana HZ west bus station (Qi Che Xi Zhan). Lalu si bapak menuliskan nomor 346 sambil menunjuk ke seberang jalan. Rupanya saya harus naik bus 346 ini di halte seberang jalan.

Bus 346 sampai di halte bersamaan dengan saya, jadi saya langsung naik, tarifnya 1,5 yuan. Saya berasumsi kalau tujuan akhir bus adalah HZ West Bus Station. Ternyata bukan! waduhhh... bagaimana ini.... Saya bilang ke diri sendiri, jangan panik, tenang....Saya sampai memutuskan kalau sampai hari sudah gelap, tidak ketemu juga itu terminal bus, saya akan ke west lake saja bagaimanapun caranya dan mengubah semua itinerary.

Saya coba bertanya ke petugas, mereka tidak paham bahasa Inggris. Saya bertanya ke seorang pelajar, dia juga tidak paham tapi masih berusaha membantu. Lalu saya disuruh naik bus lagi nomor 356, rupanya saya kelewatan.

Setelah naik 356, saya tidak tahu kapan harus turun...pusing deh.... Saya coba bertanya ke penumpang di belakang saya, sepertinya mahasiswi. Syukurlah dia paham bahasa Inggris, lalu bilang kalau saya harus turun 3 halte lagi....saya saaaangat bersyukur.....

Setelah turun di halte ke 3, saya tidak melihat tanda-tanda adanya terminal bus. Weleh...harus kemana nih....Kebetulan saya lihat ada cowok yang lagi bawa koper, lalu saya tanya dimana terminalnya. Dia bilang tuh di seberang....Saya menyeberang lewat jalur bawah tanah. Terminal ada di perempatan dan pintu masuk penumpang dan bus berbeda. Akhirnya sampai juga saya di terminal bus, sudah pukul 16.40. Saya memutuskan untuk ke Tunxi, karena bus ke Tangkou sudah tidak ada lagi. 

Saya ke loket, menunjukkan tujuan saya Tunxi karena takut pengucapannya beda malah jadi salah. Untung petugas langsung paham dan bilang ada jam 16.50. 10 menit lagi berangkat. Tiket 88 yuan. 

Lost in Transit - HZ East Railway to HZ West Bus Station

Sepertinya memang sudah diatur, bahwa saya tertinggal bus ke Tangkou sehingga beralih ke Tunxi. Bus ke Tangkou memakan waktu 4 jam sedangkan ke Tunxi hanya 2,5 jam. Jadi kalau saya jadi ke Tangkou pasti sampai sudah gelap dan terus terang saya tidak tahu harus kemana menginap. Sedangkan di Tunxi saya sudah tahu ada hostel yang dekat dengan terminal bus. 

Pukul 7 malam saya tebangun, melihat keluar pemandangan kota yang cantik penuh lampu dari bagunan kuno. Apa sudah sampai di Tunxi ya? Ternyata benar 15 menit kemudian bus masuk ke terminal. Sewaktu menoleh ke kanan, kok kebetulan sekali saya membaca Green Tree Inn, lho itu kan patokan saya untuk ke hostel, karena letaknya persis di sebelahnya. 

Bus saya satu-satunya yang ada di terminal, penumpang disambut sopir-sopir yang menawarkan taxi. Hari masih gerimis, sepertinya semua orang sudah tahu mau kemana dan naik apa. Saya mengikuti orang keluar dari terminal. Lalu saya berjalan ke arah kiri, perkiraan letak hostel saya. Benar saja, tidak lama kelihatan Green Tree Inn, nah saya hostel saya di sebelahnya, mungil sekali, namanya Huangshan Cozy Youth Hostel. 

Untuk trip ini saya hanyabooking hostel di Beijing saja. Untung masih ada kamar. Saya mendapat kamar dorm 6 bed, 40 yuan per malam. 

Rencana saya esok pagi akan ke gunung Huangshan, tapi pemilik hostel bilang sambil menunjukkan prakiraan cuaca di smartphone-nya, kalau besok cuaca buruk, akan hujan lebih baik lusa saja. Jadi saya putuskan menginap 2 malam. Diminta deposit 100 yuan juga. 

Setelah berberes, lalu mandi (kamar mandi di luar). Saya menyapa teman sekamar, apa dia mau ke mt. Huangshan. Awalnya dia tidak paham, lalu saya bilang apa bisa bahasa Inggris? Rupanya bisa sedikit-sedikit. 

Dia bilang akan ke mt. Huangshan lusa dan besok akan ke Hongcun, salah satu desa kuno warisan budaya. Saya tanya boleh gak saya ikut? Ternyata dia juga traveling sendirian, dan saya boleh memanggilnya Fish (nama Chinanya sudah untuk diucapkan hahaha). 

OK deh, saya dapat teman baru yang bisa bahasa China dan sedikit Inggris. Lumayan setelah stress seharian karena tersesat....Di luar hujan makin deras jadi saya memutuskan tidur saja.

Esok pagi ternyata rencana berubah........

2014/12/08

China Trip Nov'14 - Beijing : Fragrant Hill Park (Xiangshan Park) & Summer Palace (Yiheyuan)




Fragrant Hills Park saya masukkan ke daftar saya, gara-gara saya membaca artikel ini, tempat-tempat terbaik untuk melihat autumn foliage. Kunjungan ke Summer Palace, saya gabungkan karena sejalan.

Saya berangkat dari hostel sekitar pukul 7.30, setelah sarapan mie cup, hostel menyediakan air panas yang bisa kita ambil sendiri. 

Naik subway dari Dongsishitiao, turun di Xizhimen, lalu transit ke line 4 menuju stasiun Beigongmen, keluar melalui exit A. Lalu naik bus 331 atu 696 menuju Xiangshan Park. Saya naik bus 331 sampai halte terakhir. Turun dari bus, saya mengikuti saja orang banyak, tidak terlihat loket ataupun pintu masuk Xiangshan. Setelah melewati jalan dengan toko-toko di kanan kiri, barulah terlihat pintu masuknya.

Xiangshan Park pertama kali dibangun tahun 1186 masa dinasti Jin, lalu diperluas pada masa dinasti Yuan dan Ming.

Tiket masuk CNY 5. Biyun Temple CNY 10, Cable car CNY 60 sekali naik. Saya hanya membeli tiket masuk saja.

Sudah banyak orang yang berjalan-jalan. Petunjuk arah dan trek cukup jelas, terkadang bercabang dua lalu bertemu ditempat yang sama, satu jalan agak landai dan lainnya lebih terjal, tinggal dipilih sesuai keiinginan. 

Saya berjalan perlahan-lahan saja, sesekali beristirahat sambil menikmati pemandangan. Jalan mendaki terus. Tak banyak saya lihat pohon dengan daun kuning atau merah, mungkin sudah lewat waktunya seharusnya awal november. 

Fragrant Hill Park
Keluar dari taman, saya melihat ada penjual ubi kuning, seperti ubi cilembu tapi besarnya mungkin 3 kali lipat. Bapak penjual ubi menggunakan sepeda. Ubi rebus tapi luarnya dibakar, masih mengepul, enak dimakan di cuaca dingin. Saya membeli 1 buah yang ditimbang dulu, harganya CNY 10. Saya ingin memastikan bahwa harganya memang segitu, jadi saya menunggu pembeli berikutnya orang China, ternyata membayar segitu juga.

Saking besarnya ubi bisa untuk makan dua kali ....lagipula praktis dan enak, bisa makan sambil jalan.

Saya cari halte bus untuk naik lagi bus 331 ke Beigongmen. Ternyata ada terminal busnya. sudah ada tempat antrian per nomor bus. Saya mengantri di jalur 331. Cukup lama juga menunggu baru bus muncul, mungkin supirnya pada makan siang. 

Saya turun di halte Beigongmen, seberang halte tadi pagi. Lalu saya jalan kaki sambil mencari petunjuk arah menuju Summer Palace. Tak lama ketemu petunjuk harus belok ke kanan. Di sepanjang kiri jalan ini ada gambar-gambar Summer Palace, jadi saya sudah ada di jalan yang benar. Di ujung jalan ternyata ada terminal bus, belakangan baru saya tahu kalau bus 331 itu sampai di Summer Palace, jadi harusnya tidak perlu jalan kaki lagi.

Saya membeli tiket masuk saja CNY 20. Dijual juga tiket terusan (CNY 50) termasuk Dehe Garden, Tower of Buddhist Incense, Wenchang Hall, Suzhou Street dan Danning Hall. Tersedia pula audio guide dalam beberapa bahasa.

Summer Palace sangat luas dan masih terpelihara dengan baik. Saya berjalan perlahan-lahan saja menikmati sambil membayangkan bagaimana ya jaman dahulu, waktu mereka tinggal di situ. Beberapa jepretan kamera saya, mungkin lebih bisa menceritakan keindahannya.






Di dalam Summer Palace ada beberapa toko suvenir, bahkan jika lapar tersedia pula beberapa lokasi untuk makan meskipun pilihannya tidak banyak. Saya membeli beberapa hand painting ikon Beijing.



Hari ini hari terakhir saya jalan-jalan di Beijing. Esok pagi saya akan naik kereta cepat menuju Hangzhou lalu lanjut ke Huangshan.



China Trip Nov'14 - Beijing : Badaling Great Wall - Wangfujing Street

Sebenarnya target hari ini akan ke Great Wall di sisi Badaling dan Temple of Heaven. Namun karena waktu habis di Great Wall maka saya memutuskan untuk ke Wangfujing Street sebagai gantinya.

Great Wall dapat diakses dari beberapa lokasi, tapi yang paling mudah diakses dengan transportasi umum dari Beijing tanpa harus ikut tur adalah sisi Badaling & Mutianyu. Tapi transportasi ke Mutianyu saat low season lebih sedikit, jadi saya memutuskan untuk ke Badaling.

Transport ke Badaling Great Wall

Saya naik Subway ke Jishuitan (line 2) lalu keluar exit A. Jalan balik arah sekitar 500 meter, sepanjang jalan menuju halte bus ada petunjuk arahnya. Ikuti saja banyak orang jalan, sebab kita harus menyeberang jalan juga. Akan terlihat bus-bus warna hijau.

Ada 2 pilihan bus yang menuju Badaling dari sini. 

  1. Bus 877 yang nonstop ke Badaling dengan waktu tempuh 1 jam dan tarif CNY12, jika menggunakan Yikatong diskon 60% jadi CNY 4,8.
  2. Bus 919 dengan beberapa perhentian, waktu tempuh 1,5 jam. Tarif sama dengan bus 877. 
Hati-hati naik busnya karena banyak bus palsu dengan nomor yang sama. Pastikan busnya warna hijau terang dan bagus. Lihat antrian banyak orang.

Saya naik bus 877, ternyata mengangkut penumpang melebihi tempat duduk, saya berdiri karena sudah terlanjur masuk, tidak mungkin turun lagi, bus langsung berangkat.

Alternatif lain, dapat naik kereta api dari North Railway Station yang terhubung dengan exit A subway Xizhimen station (line 2,4,13). Tiket CNY6, waktu tempuh sekitar 1 jam 15 menit.

Kondektur bus memberikan informasi tentang Great Wall, dalam bahasa China. Saya tidak paham tentunya. Dekat tempat pemberhentian bus , saya melihat loket penuh orang mengantri, lalu saya baca ternyata untuk membeli tiket sliding car. Saya mencari loket untuk membeli tiket masuk, ternyata baru ada setelah berjalan kira-kira 20-30 menit kemudian. Kita melewati loket penyedia guide, lalu lewat toko-toko suvenir di kiri kanan tangga naik, masih terus berjalan sampai ketemu area cukup luas. Saya sempat nyasar menuju Great Wall museum, jadi saya jalan balik lagi, baru ketemu loket masuk Great Wall. Tiket masuk CNY 35.

Badaling Great Wall Map

OTW Badaling Great Wall


Lewat pintu masuk, kita dihadapkan pilihan mau ke arah utara atau selatan. Saya memilih ke utara. Lalu berjalan mengikuti arah saja. Pengunjung cukup banyak namun masih cukup nyaman untuk berjalan, november termasuk low season. Saya berjalan sampai ke tower ke empat, lalu memutuskan untuk jalan turun. 

Badaling Great Wall
Saya naik bus 877 lagi. Kondektur bus menarik ongkos, saya membayar dengan Yikatong. Ternyata kartu dipegang sampai semua penumpang selesai ditagih, baru kartu di tap satu per satu di mesin dekat supir. Saya mikir bagaimana caranya saya tahu mana kartu milik saya? Ternyata kartu dikembalikan berurutan dari depan, kondektur menyebut nomor kartu dalam bahan China tentunya, nah lho saya mana ingat nomor kartu saya. Untung sekali ada 2 orang di sebelah saya yang juga menggunakan kartu dan salah satunya ada fotonya. Jadi saya perhatikan saya kalau mereka sudah terima kartu berarti setelah itu kartu saya hahaha....masih juga ada untungnya....

Bus berhenti tidak persis di tempat waktu berangkat tadi pagi, tapi saya yakin di sekitar situ. Nah hari sudah hampir pukul 3 sore, jadi rencana awal ke Temple of Heaven, mesti saya ubah karena sudah kesorean. Saya menmutuskan untuk ke Wangfujing street. Jadi saya mencari dimana pintu masuk subway terdekat. Pintu masuk subway selalu ditandai dengan logo Subway Beijing warna biru, tak lama kemudian ketemu.
 
Logo Beijing Subway

Saya transit di stasiun Jianguomen, pindah ke line 1 (merah) turun di stasiun Wangfujing hanya 2 stasiun. Saya kira Wangfujing street ini salah satu ancient street, ternyata jalannya sangat lebar dan di kiri kanannya dipenuhi toko-toko modern. Sepanjang jalan ini ditutup untuk kendaraan, hanya pejalan kaki saja. Tapi ada mobil wisata keliling.

Saya melihat banyak toko-toko menjual manisan dan kue-kue. Konon manisan di sini terkenal untuk oleh-oleh. Saya tidak suka yang manis-manis jadi hanya melihat-lihat saja. 

Setelah sampai di ujung jalan, saya jalan balik. Di sepanjang jalan ada beberapa patung, juga kebetulan ada pameran foto yang dicetak dalam ukuran besar di letakkan di sepanjang jalan. Jadi kita dapat menikmatinya. Fotonya bagus-bagus....

Wangfujing Street

Sewaktu jalan kembali ke arah subway, hampir di ujung jalan, saya lihat ada jalan kecil penuh orang. Ternyata di gang tersebut banyak penjual makanan yang aneh-aneh. Ada yang jual kalajengking, serangga, lalu cumi mentah yang sudah dibumbui, tahu, bakpao, chestnut, macam-macam makanan yang ditusuk seperti sate dan berbagai makanan yang saya tidak kenal. Berbagai minuman juga, malah ada yang berasap, mungkin diberi dry ice.

Wangfujing Food Street


2014/12/03

China Trip Nov'14 - Beijing : Tiananmen Square - Forbidden City - Jingshan Park

Sekitar pukul 9 pagi, saya keluar dari hostel meninggalkan orang-orang sekamar yang masih terlelap. Target saya hari ini adalah Tiananmen Square, Forbidden City dan Jingshan Park. Ketiganya dalam 1 area yang berdekatan dan konon merupakan axis kota Beijing, jika dihubungkan dalam 1 garis lurus.

Saya naik subway dari Dongsishitiao turun di Qianmen (line 2). Pintu keluar subway ternyata pas di pinggir Tiananmen Square. Untuk masuk ke Tiananmen Square harus melewati security check. Jika ingin masuk ke Tiananmen tower harus menitipkan tas, yang antriannya cukup panjang. Jadi saya memutuskan untuk jalan-jalan keliling di lapangannya saja. Beberapa serdadu jaga di sekitar lapangan. Terlihat patung people of heroes untuk memperingati peristiwa Tiananmen Protest tahun 1989. 

TIANANMEN SQUARE

Tiananmen Square


Cara menuju Tiananmen Square dengan subway:

  1. Turun di stasiun Qianmen (line 2)
  2. Turun di stasiun Tiananmen West (line 1)
  3. Turun di stasiun Tiananmen East (line 1)

Yang bisa dilihat di Tiananmen Square:
  1. Tiananmen Tower (Gate of Heavenly Peace), merupakan simbol China modern dan terdapat pada lambang negara China. Berfungsi sebagai gerbang pada dinasti Ming dan Qing. Tiket CNY 15, jam buka 8.30 - 17.00. Harus menitipkan tas.
  2. The Monument to the People's Heroes, berdiri tegak di tengah lapangan Tiananmen, sebelah utara Chairman Mao Memorial Hall. 
  3. Chairman Mao Memorial Hall (Mausoleum of Mao Zedong, Mao Mausoleum) merupakan makam Mao Zedong, Ketua Politbiro Partai Komunis China dari tahun 1943 dan ketua Komite Sentral Partai Komunis Cina dari 1945 sampai kematiannya pada tahun 1976. Free, jam buka 8.00 - 12.00 selasa sampai minggu. Harus menitipkan semua barang bawaan.
  4. Great Hall of the People, tempat di mana Kongres Rakyat Nasional diadakan dan juga para pemimpin negara mengadakan pertemuan diplomatik dan massa menggelar kegiatan politik. Tiket CNY 30, pelajar CNY 15. Jam buka 9:00 - 14:00 (Jan. Feb. Mar. Dec.); 8:15 - 15:00 (Apr. May. Jun.); 7:30 - 16:00 (Jul. Aug.); 08:30 - 15:00 (Sep. Oct. Nov.). Harus menitipkan tas.
  5. National Museum of China, sebelah timur Tiananmen Square, anda harus menyeberang jalan dan keluar dari lapangan. Free, buka selasa - minggu jam 9.00 - 17.00.
  6. Upacara menaikkan dan menurunkan bendera di Tiananmen Square.
FORBIDDEN CITY / PALACE MUSEUM (GU GONG)

Forbidden city ada di seberang jalan Tiananmen Square, kita menyeberang melalui jalan bawah tanah. Kita dapat mencapai Forbidden City dengan cara yang sama dengan ke Tianamanmen Square.

Saya ingin masuk ke Forbidden City dari arah belakang yaitu dari Jinshan Park, namun baru belakangan saya tahu ternyata pintu masuk dan keluar hanya 1 arah saja. 
Saya berjalan melalui jalan di samping Forbidden City. Ada penjual manisan bersepeda, lalu melewati kedai, saya mampir makan Zhejiang noodle, karena hanya itu satu-satunya dari daftar menu dengan tulisan latin, hahaha..... 

Ternyata saya kurang suka rasanya. Tampilannya mirip jajangmun, mie saus hitam Korea hanya rasanya asin, berkuah dan tidak ada daging, hanya irisan timun tipis. Semangkuk CNY 10, porsi cukup besar, saya tidak habis. 

Penjual manisan bersepeda dan mie makan siang saya
Karena kesalahan saya, hari itu saya tidak jadi masuk ke Forbidden City, hanya memotret sekelilingnya saja. Namun saya dapat melihat Forbidden City secara keseluruhan tampak dari atas bukit di Jinshan Park.

Forbidden City berada di pusat kota Beijing dan disebut Gu Gong dalam bahasa China. Merupakan istana kekaisaran selama 24 kaisar selama dinasti Ming dan Qing. Dibangun selama 14 tahun masa pemerintahan Kaisar Chengzu di Dinasti Ming (1368-1644).

Tiket masuk : 

  • CNY 40 (Nov- Mar); CNY 60 (Apr - Oct).
  • CNY 10 untuk the Treasure Gallery; CNY 10 untuk the Clock and Watch Gallery
  • Tiket tahunan : CNY 300 untuk dewasa, CNY 150 untuk lansia, pelajar dan anak-anak. Berlaku untuk 10 kali kunjungan dalam setahun, tapi tidak berlaku selama hari libur nasional tanggal 1-7 Oct.
Jam buka:
  • Selasa - Minggu jam 08:30 - 17:00 (Apr - Oct), 08:30 - 16:30 (Nov- Mar).
  • Hari Senin tutup kecuali liburan musim panas 1 Jul - 31 Aug.

Around Forbidden City
JINGSHAN PARK

Jingshan park merupakan taman di belakang Forbidden City, dengan 5 puncak bukit, masing-masing terdapat paviliun yang dibangun tahun 1751. Dari puncak bukit, kita dapat melihat dengan jelas dan keseluruhan dari Forbidden City. Wajib dikunjungi.

Tiket masuk : CNY 2

Jam buka : 06:30 – 20:00 (Nov - Mar), 06:00 - 21:00 (Apr- Oct)


Jingshan Park

Keluar dari Jingshan Park sudah pukul 3 sore. Saya ingin masuk ke Forbidden City namun ternyata harus dari pintu depan. Sudah sore dan sudah terlalu capek akibat kurang tidur semalam, mana udara dingin. Akhirnya saya putuskan untuk pulang ke hostel istirahat dahulu. Esok pagi saya akan ke Great Wall sisi Badaling.



China Trip Nov'14 - Beijing : Arrival

Pesawat mendara di Bejing Capital International Airport (BCIA) pukul 1.30 dini hari waktu Beijing yang 1 jam lebih dahulu dari Jakarta. Hanya pesawat kami yang mendarat jadi antrian imigrasi tidak padat dan berlangsung cepat. BCIA juga tidak terlalu besar, biasa saja.  Keluar dari imigrasi, tempat duduk yang tersedia sudah penuh dengan orang yang sedang tidur. Saya lihat ada Mc Donald, KFC, Starbuck. Saya hanya bisa duduk tidak bisa tiduran. 

Saya menunggu Airport Express Train yang baru beroperasi pukul 6.35 - 23.10, transportasi yang murah dan cepat untuk menuju ke dan dari pusat kota Beijing. Hanya dibutuhkan 20 menit saja dengan tarif 25 yuan, sayangnya baru ada jam 6.35.

Airport Express Train Sign at BCIA

Untuk naik kereta bandara kita harus turun ke B2 melalui lift yang baru beroperasi pukul 6.25. Keluar lift harus melalui scanning security check, ke loket membeli tiket sekali jalan Y25. Tepat 6.35 kereta jalan. Ada 2 pemberhentian yaitu Sanyuanqiao dan Dongzhimen. 
saya turun di Dongzhimen yang terhubung dengan stasiun subway Dongzhimen.

Saya membeli kartu transport Beijing yang disebut Yikatong. Harga kartu 20 Yuan dan minimun isi pertama 20 Yuan. Jadi 40 Yuan. Kartu ini bisa digunakan untuk naik Subway, bus dan kereta di Beijing. Jika digunakan Yikatong untuk naik bus akan mendapat diskon 60% dari tarif normal, lumayan bukan? Tarif untuk sekali naik subway 2 yuan dan tidak tergantung jarak, meskipun transit berkali-kali asalkan belum keluar dari stasiun. Menurut saya transportasi kota Beijing murah, mudah dan nyaman. Yikatong dapat di-refund, namun lokasi refund hanya di tempat yang telah ditentukan.

Yikatong - Beijing Transportation Smart Card

Sebelum ke hostel, saya perlu membeli tiket kereta ke Hangzhou terlebih dahulu. Tiket kereta antar kota dapat dibeli di stasiun kereta mana saja. Beijing mempunyai beberapa stasiun kereta, yang terdekat dengan Dongzhimen adalah Beijing Railway Station, hanya 4 stasiun. Keluar dari subway harus melewati alun-alun yang luas dan sudah penuh dengan orang, walau hari masih pagi dan berkabut tebal. Di alun-alun berderet loket-loket, saya mencari loket tiket kereta, ternyata pintu masuknya jauh di ujung. Beijing Railway Station sangat besar dan kuno, beberapa bagian sedang direnovasi. 

Beijing Railway Station

Di Beijing Railway Station ada 2 loket yang dapat melayani dengan bahasa Inggris. Loket 15 & 16, namun waktu saya datang hanya loket 15 yang buka. Saya sudah menyiapkan catatan tiket yang saya mau beli. Kode keretanya G57, tanggal, jam, dari Beijing menuju Hangzhou untuk kelas 2. Kereta dengan kode G merupakan bullet train, kereta dengan kecepatan tertinggi dan termahal, seperti shinkansen di Jepang. Tiket saya seharga 538,5 yuan, satu juta lebih jika di rupiahkan, hiks.... itupun kelas dua lho....

Sebelum berangkat saya sempat cek harga tiket pesawat dr Beijing ke Hangzhou, ada yang harganya sama dengan kereta G57 dengan waktu terbang hanya 1 jam. Tapi jam penerbangan pagi, dengan pertimbangan transportasi ke bandara yang baru ada lewat pukul 6, tidak memungkinkan untuk mencapai bandara tepat waktu, kecuali kalau mau naik taxi.

Selesai membeli tiket, saya menuju ke hostel yang sudah saya booking dari Jakarta, Beijing Sanlitun Hostel. Saya naik subway turun di stasiun Dongsishitiao, 3 statiun dr BRS.
Tips memilih penginapan di Beijing, sebaiknya dekat dengan subway line 2 (biru) yang merupakan circle line Beijing dan terhubung dengan subway line lainnya. Saat ini ada 15 subway line, 3 line tambahan dan 1 airport line. 

Beijing Subway Map
  
Keluar dari stasiun subway Dongsishitiao, saya tidak tahu harus mengambil arah mana menuju hostel. Saya tunjukkan print booking hostel yang ada tulisan kanjinya ke petugas yang ada. Dia hanya menunjuk arah saja. Ternyata ada juga kendaraan mirip bajaj hanya penumpang duduk menghadap ke belakang dan kendaraannya tidak dicat, alumunium seperti kaleng krupuk haha....Saya ditawari naik itu tapi saya bilang just walking.

Setelah jalan sekitar 15-20 menit terlihat papan nama jalan hostel saya, lalu saya menyeberang. Tidak terlalu susah ditemukan. Saya diperbolehkan check in walau masih pagi. Saya memesan kamar dorm 8 bed untuk 3 malam lewat booking.com, 162 yuan. Resepsionis meminta uang jaminan 100 yuan yang akan dikembalikan saat check out. Kamar dengan kartu akses, saya mendapat bed di atas, satu-satunya yang masih kosong di kamar itu. Semua penghuni kamar masih terlelap. Saya menyimpan ransel saya lalu naik, tiduran sebentar meluruskan punggung, sebelum keluar jalan-jalan hari ini.

Beijing Sanlitun Hostel

2014/12/02

China Trip Nov'14 - First Times for Almost Everything

Bermula dari masih ada sisa  cuti tahun ini, saya ingin traveling di bulan November dengan harapan masih dapat suasana musim gugur dengan daun warna warni, hijau, kuning, merah seperti di wallpaper hahaha... 

Biasanya sebelum membeli tiket, saya cari teman jalan dulu. Ternyata trip kali ini semua teman jalan saya sedang tidak bisa ikutan. Setelah menimbang-nimbang lebih dari seminggu, apakah saya bisa jalan sendiri? berani gak ya? nyaman gak ya? dan beberapa kekuatiran lainnya. Pasalnya saya belum pernah solo traveling ke luar negri. Traveling dalam arti jalan-jalan liburan, bukan kerja. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menantang diri saya sendiri. Ayo kamu pasti bisa! 

Saat menentukan destinasi, dengan pertimbangan tiket promo dari Air Asia, akhirnya saya memilih negri China. Ini tantangan tambahan, karena saya belum pernah ke China dan saya tidak bisa bahasa China, bicara apalagi membaca tulisan China. Nah lho! Sebenarnya kandidatnya China dan Korea, tapi pengurusan visa China lebih mudah dibanding Korea.

Saya menemukan artikel ini, akhirnya saya putuskan untuk mengunjungi Beijing dan Huangshan (Yellow Mountain). Jadi saya memilih rute tiba di Beijing dan pulang dari Hangzhou, dimana keduanya ada penerbangan fly-thru dari Jakarta degan transit di KLIA2.
Total trip 11 hari, di China-nya 9 hari, 2 hari untuk terbang.

Berikut itinerary trip China November 2014, ada penyesuaian rute dari rencana semula karena sempat tersesat dan juga faktor cuaca.

D1 - Terbang Jakarta - KL - Beijing
D2 - Beijing : Tiananmen Square, Forbidden City, Jingshan Park.
D3 - Beijing : Badaling Great Wall, Wangfujing street.
D4 - Beijing : Fragrant Hills Park (Xiangshan Park), Summer Palace (Yiheyuan).
D5 - Beijing - Hangzhou (high speed train), Hangzhou - Tunxi (long distance bus).
D6 - Tunxi - Huangshan Mountain, hiking & menginap
D7 - Huangshan Mountain - Tunxi
D8 - Tunxi - Hangzhou
D9 - Hangzhou : West Lake
D10 - Hangzhou - KL
D11 - KL - Jakarta

Selama di China saya menggunakan transportasi umum, subway, bus dan jalan kaki tentunya. Saya tidak menggunakan jasa tur.

China Trip Route - Nov'14
Traveling sendirian ditambah tidak bisa berbahasa setempat, memerlukan persiapan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Beberapa website yang membantu perjalanan saya:

  1. http://www.travelchinaguide.com/ 
  2. http://www.chinahighlights.com/
  3. http://english.ctrip.com/
  4. http://www.huangshantour.com/english/

Ikuti posting berikutnya perjalanan saya di China, bagaimana tersesat, salah turun bus, sulit mencari bantuan karena tidak banyak orang yang bisa berbahasa Inggris, tapi juga mengalami beberapa keberuntungan.

2014/09/18

Mengurus sendiri Visa China di Jakarta

Untuk mengunjungi negara China, pemegang paspor Indonesia masih memerlukan visa. Kecuali Hongkong dan Macau, tidak memerlukan visa. Kabarnya sedang ada negosiasi antara kedua negara untuk membebaskan visa, mudah-mudahan tahun depan sudah terealisasi. 

Dengan adanya promo dari Air Asia, saya memutuskan untuk mengunjungi China kali ini. Setelah tiket dibeli, saya menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pengajuan visa.

Sebenarnya waktu terbaik untuk mengajukan visa China, 1 bulan sebelum keberangkatan, tapi karena saya sedang ada waktu maka saya urus 2 bulan sebelumnya. Pengajuan visa jangan lebih dari 3 bulan sebelum keberangkatan, karena umumnya masa berlaku visa yang diberikan hanya 3 bulan.

Kategori Visa China

Untuk visa turis, termasuk kategori L. Kategori visa selengkapnya bisa anda lihat disini.

Dokumen yang perlu disiapkan:
  1. Pasport asli & fotokopi di bagian depan dan belakang yang berisi informasi pemegang passport. Masa berlaku paspor minimal 6 bulan dan masih memiliki setidaknya 1 halaman visa kosong. Saya membawa copy halaman-halaman yang berisi stempel visa, ternyata tidak diperlukan dan dikembalikan ke saya. 
  2. Mengisi formulir visa yang bisa diunduh disini.
  3. Foto visa ukuran 3x4 dengan latar warna putih 1 lembar untuk ditempel di formulir visa.
  4. Fotokopi KTP.
  5. Fotokopi tiket pergi pulang, sepertinya optional tapi jika ada sebaiknya dilampirkan karena di formulir diminta tanggal perkiraan kita masuk ke China dan berapa hari. 
  6. Fotokopi booking hotel, sepertinya optional karena saya hanya melampirkan 3 hari pertama dari hostel yang sudah saya booking lewat booking.com.
Dimana pengajuan visa China di Jakarta?

Pengurusan dilakukan di Chinese Visa Application Center yang ada di East Builing, Mega Kuningan lantai 2. Naik tangga arah kanan, CVAC bersebrangan dengan kantor Bank BNI.
Jika anda naik angkutan umum, bisa turun di depan Mal Ambassador, lalu jalan masuk ke area Mega Kuningan, hanya sekitar 10 menit saja dengan jalan kaki.

Jam buka Senin - Jumat, untuk pengajuan jam 9.00 - 15.00 sedangkan untuk pembayaran dan pengambilan visa jam 9.00 - 16.00. Info lengkapnya klik disini.

Chinese Visa Application Center at East Building Jakarta

Business hour


Berapa lama prosesnya?

Proses reguler adalah 4 hari kerja, hari pertama kita mengajukan, hari keempat kita membayar dan mengambil kembali paspor kita. Tersedia pula proses 2 hari kerja (rush), bisa diambil esok harinya dan 3 hari kerja (express). Tentunya dengan tarif yang lebih mahal. 

Pengajuan visa dapat diwakilkan orang lain, info ini dicantumkan di formulir. Jika diwakilkan tentunya harus melampirkan fotocopy KTP orang yang datang.

Saya datang 15 menit sebelum jam 9 pagi, sudah ada beberapa orang yang mengantri di depan pintu. Pukul 9 kantor dibuka. Kita masuk melalui detektor lalu satpam melayani pengambilan nomor antrian sesuai tujuan kita, apakah pengajuan atau pengambilan. Sepertinya dibedakan juga perorangan atau biro perjalanan.

Saya mendapat nomor urut 3. Terdapat 13 loket layanan, 10 untuk pengajuan, 2 untuk pembayaran dan 1 loket untuk pengambilan paspor. Pengecekan kelengkapan dokumen hanya memakan waktu 5 menit saja, sambil ditanya tujuan ke China, berapa lama dan tanggal berapa rencana berangkat. Keseluruhan proses hanya memakan waktu sekitar 10 menit saja. Saya diberi tanda terima yang tertulis tanggal visa dapat diambil, yaitu hari ke-4 atau 3 hari kerja kemudian.

Berapa biayanya?

Biaya tergantung dari lama proses dan jumlah entry yang kita pilih. Selengkapnya bisa lihat disiniPembayaran dilakukan pada saat pengambilan visa. Kita dapat membayar secara tunai, debit BCA atau dengan kartu kredit.

Pembayaran & Pengambilan Visa.

Saya memilih proses reguler, jadi visa selesai pada hari ke-4 sejak pengajuan dilakukan.
Saya datang 15 menit sebelum jam 9 pagi, dan mendapat urutan pertama. Membayar di loket 13, lalu diberikan tanda terima pembayaran. Selanjutnya ke loket 10 untuk mengambil paspor saya yang sudah tertempel visa di dalamnya. Saya diminta memeriksa dahulu info yang tercetak apakah sudah benar. Lalu selesailah prosesnya, hanya sekitar 5 menit saja.

Sample Visa China

Info yang ada di Visa China:
  1. Visa category : L untuk turis
  2. Enter before :  tanggal terakhir masa berlaku visa
  3. Issue date : tanggal penerbitan visa
  4. Full name : nama pemohon visa
  5. Birth date : tanggal lahir pemohon
  6. Entries : jumlah entry yang diperbolehkan, apalah 1 kali, 2 kali atau multi entry
  7. Duration of each stay after entry : jumlah lama tinggal setiap entry
  8. Issue at : tempat penerbitan visa
  9. Passport no : nomor paspor pemohon visa


Selesai sudah proses pembuatan visa China. Mudah bukan?