2013/06/21

Mengunjungi Orangutan di Tanjung Puting (3)

Hari ini kami mengunjugi Pondok Tanggui, salah satu pusat rehabilitasi orangutan di Taman Nasional tanjung Puting. Siang hari kami kembali ke Kumai, lanjut ke Pangkalan Bun dan Palangkaraya. Trip Tanjung Puting selesai. Dari Palangkaraya kami ke Banjarmasin untuk melihat pasar terapung.

Pondok Tanggui
 
Gelantungan

Nangkring di pohon

Mengunjungi Orangutan di Tanjung Puting (2)

Setelah sarapan, klotok menyusuri sungai Sekonyer menuju camp Leaky. Acara hari ini melakukan jungle trekking di sekitar Camp dan mengunjugi Camp Leaky serta tentunya melihat orangutan.

Camp Leakey didirikan pada tahun 1971 oleh Dr Birute Galdikas dan Rod Brindamour. Dinamakan menurut tokoh legendaris paleo-antropologi, Louis Leakey, yang merupakan mentor bagi Dr Galdikas, Dr Jane Goodall dan Dian Fossey.
Camp Leakey telah mendukung upaya penelitian puluhan ilmuwan dan mahasiswa, beberapa pesohor juga pernah mendatangi Camp Leaky, salah satunya Julia Robert pada tahun 1999. Proyek berkisar penelitian tentang orangutan, bekantan, siamang dan perilaku monyet  pemakan daun dan ekologi. Sebagai fasilitas penelitian aktif, Camp Leakey menyambut pengunjung hari dengan pemandu lokal. Pengunjung hanya boleh mengamati orangutan dari jarak yang aman, dan tidak mengganggu para ilmuwan melakukan penelitian.

Oh ya di trip ini saya dapat beberapa teman baru yang sampai sekarang masih berteman baik, meskipun karena kesibukan masing-masing tidak bisa sering bertemu. Setelah trip ini, masih ada beberapa trip yang kami lakukan bersama atau kadang hanya ketemuan ngobrol saja.

Camp Leakey

Please Don't
 
5 sekawan @Tanjung Puting National Park

 


Play with orangutan
Di halaman depan Camp kami bisa bermain-main dengan beberapa orangutan yang sudah terbiasa berinteraksi dengan manusia.

Orangutan di Camp Leaky dibuatka silsilah menurut garis induknya dan diberi nama sesuai dengan huruf pertama ibunya. Misalnya ibunya bernama Princess, anak-anaknya diberi nama dengan awalan P. Prince, Peta, Percy, dan seterusnya.

Orangutan family tree

wild boar

Siamang
Human Vs Orangutan

Jungle trekking
How tall is the tree!

Mengunjungi Orangutan di Tanjung Puting (1)

Tanjung Puting merupakan salah satu lokasi rehabilitasi orangutan (pongo pygmaeus) di Kalimantan, selain Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah dan Samboja Lestari di Kalimantan Timur. Saya berkesempatan untuk ke Tanjung Puting yang merupakan taman nasional,  bergabung dengan trip yang diadakan oleh komunitas backpacker pada Desember 2007.

Tanjung Puting dapat dicapai melalui Pangkalan Bun dengan pesawat dari Jakarta, Semarang dan Surabaya. Kami bersembilan berangkat dari Jakarta dengan pesawat ke Palangkaraya, kemudian dilanjutkan dengan mobil ke Pangkalan Bun, sekitar 9 jam.
Dari Pangkalan Bun menuju Kumai dengan angkutan umum sekitar 20 menit.

Di Kumai kami mulai naik perahu kayu yang disebut klotok, menyusuri sungai Sekonyer menuju hutan Taman Nasional Tanjung Puting. Sungai Sekonyer airnya jernih, namun berwarna merah karena tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar sungai. Selama trip ini, kami tinggal di klotok, bersandar di tepi hutan.

Our boat (klotok)

Tanjung Puting Map
Kami singgah di Camp Tanjung Harapan saat pemberian makan kepada orangutan dan jalan-jalan sekitar desar Tanjung Harapan.

Feeding time

Tanjung Harapan village
Selesai melihat orangutan, klotok melanjutkan perjalanan untuk bersandar dan menyiapkan makan malam oleh awak kapal, masakannya enak sekali ;p apalagi makan sambil menikmati aroma hutan dan suara-suara burung dan sekali-sekali terdengar orang monyet, bekantan, orang utan yang berpindah-pindah dahan. Pengalaman yang tak terlupakan.....

Dibagian belakan klotok dilengkapi dengan bilik untuk mandi dan toilet, lumayan meskipun bagian atasnya tidak ditutup. Namun yang lain memberi privasi jika ada yang menggunakan bilik itu.

Tidur diatas kapal di tepi hutan merupakan pengalaman tersendiri, beberapa tidak bisa tidur, malah berbagi cerita-cerita seram....tapi kelelahan membuat akhirnya bisa juga terlelap.

2013/06/19

Flores Overland Trip - Day 5

Pagi-pagi bangun jam 5 siap ke bandara. Diberi kopi asin ;( mungkin karena gelap salah ambil gula jadi garam. Sesampai di banda sepertinya tidak mungkin dapat tiket karena banyak juga yang go show, waiting list sudah mencapai 11 orang.

Kami putuskan untuk sarapan dulu baru cari tiket di agen perjalanan. Transnusa baru buka jam 9 tapi ternyata tidak ada penerbangan, jadi kami ke Merpati. Tiga dari kami memutuskan untuk terbang ke Kupang dulu baru ke Jakarta. Pesawat jam 4 sore, jadi harus menginap dulu di Kupang baru keesokan harinya lanjut ke Jakarta atau Denpasar.

Kami bertiga memutuskan untuk numpang mobil kembali ke Labuan Bajo. Sebenarnya sewa mobil hanya sampai Maumere saja, namun mobil memang harus kembali ke Labuan Bajo. Kami berhenti hanya untuk makan siang di Ende dan makan malam di perjalanan. Di perjalanan sempat istirahat sebentar untuk meluruskan kaki, kami melihat ibu-ibu di jalan sedang mengambil air.
Mengambil air

Pak Japi, supir kami tidak mau menginap di hotel, jadilah kami istirahat di warung kopi di borong. Pemiliknya orang Bogor tapi istrinya orang Flores, dengan 1 anak laki-laki. Ternyata ini warung sekaligus rumah mereka. Kami diijinkan untuk numpang tidur di situ, lumayanlah untuk meluruskan punggung dan kaki.

Pagi jam 5 bangun untuk melanjutkan perjalanan setelah ngopi dulu. Di perjalanan sempat lewat danau, saya tidak tau namanya. Sempat berhenti di pom bensin yang baru dibuka, numpang mandi, rasanya segar sekali.

Danau apa ya?

Kami dapat tiket Transnusa Labuan Bajo - Denpasar untuk jam 15.30, harga tiket rp.771 ribu, tidak ada pilihan lain kalau mau naik pesawat. Pesawatnya kecil hanya berkapasitas 24 orang dengan durasi 1,5 jam perjalanan. Bandara Komodo di Labuan Bajo, waktu itu sedang direnovasi, bandaranya kecil dimana-mana banyak bambu penyangga bangunan.

Bandara Komodo, Labuan Bajo
Sesampai di Denpasar kami ketemu lagi dengan 2 teman yang terbang lewat Kupang, mereka sedang menunggu penerbangan ke Jakarta. 1 orang lagi ternyata lanjut ke Ubud.
Saya berdua teman memutuskan untuk ke Ubud 2 hari, sedang yang 1 lagi pulang ke Jakarta. Di Ubud ternyata sedang ada upacara ngaben.

Flores Overland Trip - Day 4

Bangun agak bermalas-malasan karena hari ini tidak ada acara khusus, hanya main-main sekitar pantai Wodong yang terletak persis di depan penginapan. Hanya rombongan kami yang menginap di situ, jadi serasa pantai pribadi.

Makan pagi dengan ikan bakar yang baru ditangkap, sambalnya enak sekali. Disajikan juga kopi Flores, rasanya mantap.....

Selesai makan, cuci baju dulu di sumur. Selesai jemur baju, kami tidur-tiduran di bale-bale di pinggir pantai depan penginapan. Nikmatnya liburan....hehehehe.

Agak siang, kami snorkling tidak jauh dari pantai ada terumbu karang, lumayan bagus.
Setelah mandi kami makan siang dengan ikan bakar jenis yang berbeda dari tadi pagi dan sup ikan. Minum air kelapa muda dari kebun setempat.

Kami ngobrol-ngobrol, jalan-jalan di pantai, tidur-tiduran sampai sore, pokoknya hari ini acaranya santaiiiii.

Makan malam kali ini istimewa, dengan nasi yang dibungkus daun kelapa seperti lepet.
Urap sayur daun pepaya, ayam bakar. Enak sekali, mungkin karena mereka membakar ikan dan ayam dengan menggunakan batok kelapa. Ini malam terakhir sebelum kami pulang. Mungkin suatu saat kembali lagi ke sini, siapa tau?

 
Our cottage

Wodong beach
 
Our Dinner

Flores Overland Trip - Day 3

Bangun jam 4 pagi untuk siap-siap berangkat ke Kelimutu, kami naik mobil sampai di tempat parkir. Dilanjutkan mendaki gunung Kelimutu sekitar 40 menit. Kami beruntung karena cuaca hari ini cerah, padahal beberapa hari sebelumnya berkabut dan hujan sehingga tidak dapat melihat pemandangan dengan baik.

Di puncak  gunung terdapat danau kawah dengan 3 warna dan ukuran yang berlainan.
Menurut kepercayaan setempat, arwah orang yang meninggal akan tinggal di Kelimutu. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau, para arwah menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau tergantung dari usia dan perbuatannya. Danau Tiwu Nuamuri Koofai adalah danau untuk arwah orang muda, berwarna biru dengan kedalaman 127 meter. Danau Tiwu Ata Mbupu, untuk arwah orang tua, berwarna coklat dengan kedalaman 67 meter. Danau Ata Polo, untuk arwah orang jahat atau dikutuk, berwarna hitam dengan kedalaman 64 meter.

Warna air danau dapat berubah-ubah, disebabkan oleh minerah yang terkandung di dalamnya. Terdapat tabel perubahan warna danau selama beberapa tahun.
Masyarakat setempat percaya bahwa tempat ini sakral dan keramat. Untuk itu pengunjung harus menghormati dengan tidak merusak dan mengotorinya.

Sunrise @Kelimutu

Danau Kawah Kelimutu

Danau Kawah Kelimutu
 
Di puncak gunung dibuat tempat untuk menikmati pemandangan berupa tangga-tangga. Di sini kita bisa duduk-duduk sambil menikmati kopi, teh yang dijual oleh bapak-bapak. Puas menikmati sunrise dan pemandangan Kelimutu, jam 7.30 kami turun.
 
Di tempat parkir kami sarapan dulu sambil melihat-lihat kain Flores yang dijual. Selesai sarapan kami turun jalan kaki ke penginapan sambil menikmati suasana, masih banyak bunyi burung-burung berkicau. Kami melewati air terjun dan berhenti untuk istirahat. Tidak jauh dari situ ada seorang ibu sedang memandikan kuda. Perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam tidak termasuk istirahat.
 
Tenun Flores
  

Memandikan kuda

Kami langsung makan siang di restoran dekat penginapan, lalu kembali ke penginapan untuk packing menuju Maumere, destinasi terakhir trip ini.
 
Sampai di Maumere sudah sore sekitar jam 4. Kami cari tiket pulang di agen perjalanan ternyata mahal sekali, lalu ke Merpati katanya sudah penuh. Akhirnya diputuskan untuk go show aja lusa nanti, karena kami masih akan menginap di Maumere 2 malam. Pilihan lain naik kapal ke Denpasar atau Surabaya, namun tidak memungkinkan karena kapal sudah berangkat dan baru ada 3 hari lagi. Dengan kapal perlu 48 jam untuk sampai ke Surabaya.
 
Kami makan malam di restoran Bunaken di pelabuhan, ternyata salah satu teman kami ulang tahun, jadi dia yang traktir. lumayannnn.....;D.
 
Selesai makan, kami menuju pantai Wodong, kami menginap di salah satu pondok (cottage) dari bambu tanpa listrik, kalau tidak salah namanya wei Terang. Penerangan menggunakan lampu minyak tanah. Pondok bambu ini berbentuk rumah panggung tapi kecil, di dalamnya hanya berisi tempat tidur untuk 2 orang dengan kelambu. Kamar mandi ada di bagian belakang pondok, jadi harus ke luar dahulu. 
 
Penginapan ini dahulu milik orang Belgia dan merupakan cottage pertama di pantai Wodong, tapi kemudian diserahkan ke keluarga istrinya yang merupakan penduduk lokal. Ada sekitar 10 cottage lainya di sekitar pantai Wodong.

Flores Overland Trip - Day 2

Selesai sarapan banana pancake dan kopi, perjalanan hari ini ke desa adat suku Bena. Sepanjang jalan kami lihat di depan rumah, ada kuburan. Rupanya orang Flores mengubur anggota keluarga di depan rumah.

Ada dua kampung suku Bena, kami ke kampung Loba lebih dahulu di sini hanya tinggal beberapa rumah, sedang di desa Ngada lebih besar. Di tengah kampung ada beberapa kuburan, salah satunya bertahun 1614. Suku Bena hidup dari membuat tenun ikat, bertanam vanili dan kopi.
Kampung Loba

Desa Ngada

Vanili
Anak-anak suku Bena
Menurut adat suku Bena, orang yang meninggal tidak wajar misalnya jatuh dari pohon, digigit ular, dibunuh, tidak bolah di kubur di dalam kampung tapi harus di luar dan harus diupacarakan dengan menyembelih kerbau, sapi atau kuda. Untuk pernikahan, jika disetujui maka seserahan 1 kuda dan 1 sapi. Kalau tidak disetujui harus menyerahkan 9 kuda dan 9 sapi. Suku ini menganut sistem matriakal, laki-laki harus tinggal di rumah istri.

Sempat mampir di pantai batu biru, dimana pantainya banyak batu-batu berwarna biru. Beberapa ibu-ibu mengumpulkan batu di pantai untuk di jual, kebanyakan diekspor ke Eropa. Batu dipisahkan menurut ukurannya.

Pantai Batu Biru

Kami makan siang di RM Handayani yang menjual ayam bakar dan bakso, masakannya enak, yang punya orang Solo.

Kami melewati kota Ende, mampir di tempat bung Karno dulu diasingkan tahun 1933, sayang kami tidak bisa masuk ke rumahnya, tidak ada yang jaga. Hanya sempat memotret patung bung Karno saja.

Patung Bung Karno - Ende

Di Ende kami sempatkan mampir melihat-lihat tenun Flores. Sampai di Moni sekitar 7 malam, kami menginap di Saori Wisata. Moni adalah desa di kaki gunung Kelimutu. Untuk mengejar sunrise di puncak gunung Kelimutu harus berangkat pagi-pagi.


2013/06/18

Flores Overland Trip - Day 1

Trip dimulai dari Labuan Bajo, kami berenam ditambah sopir pak Japi naik Kijang kapsul. Hawa Flores ternyata cukup sejuk, meskipun jika mendekati daerah pantai tetap panas. Jalan darat Flores berkelok-kelok dan naik turun, perlu keahlian untuk menyetir sebab di kiri jurang di kanan tebing atau sebaliknya, jalanan tidak terlalu besar, jika dua mobil berpapasan harus jalan perlahan-lahan.
Sepanjang jalan jarang ada rumah, rumah makan yang ada kebanyakan warung padang dan bakso solo. Rupanya orang Flores tidak terbiasa untuk membuka warung, kebanyakan pendatang. Karena itu makanan lokal susah ditemukan. Harga barang di Flores lebih mahal dibanding di Jawa.


 
Flores overland route

Pemberhentian pertama desa Cancar, tidak jauh dari Ruteng. Di sini kita dapat melihat sawah dengan bentuk sarang laba-laba (spider web). Sawah ini merupakan sawah adat atau disebut juga Lingko oleh penduduk setempat. Sawah ini dimiliki bersama dan dipergunakan secara bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama pula. Pembagian tanah dilakukan dengan titik pusat tanah adat, ditanam kayu khusus, kemudian ditarik garis lurus sampai batas terluar secara berkeliling sehingga membentuk seperti sarang laba-laba. Besar kecilnya tanah ditentukan oleh kedudukan seseorang dalam kampungnya dan jumlah keluarganya. Semakin tinggi kedudukan semakin besar tanah yang didapat.

Spider web rice field
Flores terkenal juga dengan ditemukannya homo floresiensis (manusia flores purba) atau hobbit yang mempunyai tinggi badan sekitar 100 cm dan berat hanya 25 kg. Ditemukan di gua Liang Bua, kecamatan Ruteng. Kami tidak mampir ke sana.

Setelah makan siang di warung padang, lanjut ke Danau Rana Mese, sayangnya kabut tebal hingga tidak bisa lihat apa-apa selain kabut. Seharusnya kita bisa melihat banyak belibis di danau ini.

Dalam perjalanan menuju Bajawa, kami mampir di kampung Aimere, tempat penyulingan arak tradisional dari air buah nira yang disuling menggunakan bambu. Tingkat alkohol sekitar 40-60 %, kami yang tidak biasa minum, cuma mencicipi sedikit saja.

Penyulingan arak tradisional
Hari pertama kami menginap di hotel Korina, Bajawa.


2013/06/17

Lombok - Komodo Sailing Trip - Day 4

Makan pagi dengan banana pancake, kapal berangkat sekitar jam 7 pagi menuju pulau Rinca, di sini kita ketemu lebih banyak komodo di banding di pulau Komodonya. Tidak lama setelah melewati pintu masuk juga Loh Buaya, ketemu beberapa komodo.
Kami trekking di pulau ini sekitar 1 jam, dipandu oleh ranger yang membawa kayu dengan ujung segitiga untuk menghentikan komodo jika akan menyerang.
Menurut saya pulau Rinca lebih menarik daripada pulau komodo, kami sempat ketemu beberapa jenis binatang lainnya, ada rusa, sapi, beberapa jenis burung.

Di Rinca kami melihat banyak kapal asing berlayar, berbendera Australia, Denmark, Swiss, Jerman dan lain-lain. Bagus-bagus kapal pesiarnya.

Setelah makan siang di kapal dengan ayam yang sudah mabok laut ;p, kami berenang dan snorkling di pulau kelor. Ini pulau kosong dengan pasir putih dan ikan-ikannya juga putih, jadi kalau tidak diperhatikan tidak kelihatan. Perairan nyaman untuk sekedar berendam, mirip jacuzzi. Namun tidak jauh dari tempat kami berenang, ternyata arusnya cukup deras.

Setelah agak sore, kami berlayar menuju Labuan Bajo, destinasi terakhir dari sailing trip ini. Sebenarnya masih semalam lagi menginap di kapal, tapi sudah pada rindu mandi air tawar, jadi kami menginap di Hotel Wisata, Labuan Bajo.

Sebagian kembali ke Bali dengan pesawat, sebagian lagi dengan feri ke Sape, kemudian ganti bus ke Bima sampai Denpasar dan sebagian lanjut trip Flores overland.

 
Komodo

Komodo

The rangers

Deer
Kelor Island

Lombok - Komodo Sailing Trip - Day 3

Kapal berlabuhdi Gili Laba, kami trekking naik ke bukit. Pemandangan dari atas cantik sekali, laut dan langit biru, sejauh mata memandang semak-semak berwarna coklat keemasan, karena sedang musim kering.


Gili Laba

 
Perjalanan dilanjutkan menuju Pink Beach, dinamakan demikian karena pasirnya yang berwarna pink, penduduk setempat menyebutnya pantai merah. Konon warna pink ini terbentuk dari pecahan karang berwarna merah, ada juga yang mengatakan warna ini dihasilkan karena adanya hewan mikroskopik semacam amuba bernama Foraminifera yang memproduksi warna merah atau pink terang pada karang, tak heran apabila kita mengambil sejumput pasirnya, maka terlihat pasir berwarna merah di antara pasir putih. Kami snorkling di sekitar pantai, terumbu karangnya masih bagus, rupanya salah satu dive spot favorit juga.


Pink Beach

Pink Beach

Puas snorkling, lanjut ke pulau Komodo. Loh Liang merupakan pintu masuk utama di Pulau Komodo, yang kabarnya masih terdapat sekitar 1.200 komodo, tapi setelah keling-keliling kami hanya ketemu satu ekor saja, sedang santai di bawah rumah panggung. Pulau komodo gersang dan panas sekali.

Komodo panjang tubuhnya bisa mencapai 3 meter dan berat 70 kg. Musim kawin antara Mei dan Agustus, bertelur bulan September. Sekitar 20 telur disimpan di sarang, dengan masa inkubasi 7-8 bulan, menetas di bulan April. Komodo muda sangat rentan terhadap predator, karenanya tinggal di atas pohon. Perlu 8-9 tahun untuk menjadi dewasa, masa hidupnya dapat mencapai 30 tahun.

Pulau komodo dinobatkan sebagai salah satu new 7 wonder of nature dengan sistem voting, bersama Amazon, Halong Bay-Vietnam, Iguazu falls-Argentina, Jeju Island-Korea Selatan, Puerto Princesa underground river- Philipines, Table mountain - South Africa.

Komodo National Park

Pulau Komodo

Loh Liang

Trekking @Komodo Island

View from Komodo Island

Dari pulau Komodo, kami berlayar menuju Pulau Kalong untuk bersandar dan menginap.
Biasanya menjelang matahari terbenam sekitar pukul 18.00 sore, ribuan kalong akan keluar dari sarangnya dan terbang di atas langit biru. Secara berkelompok kalong itu akan terbang meninggalkan “rumah” mereka hingga baru kembali pada keesokan harinya. Para pengunjung dapat menyaksikan proses itu pada setiap sore hari atau pada pagi hari dari kapal mereka. Sayangnya kami tidak sempat menyaksikannya, karena sampai di situ sudah malam.
Sunrise @ Kalong Island