2016/04/20

Bertandang ke Desa Adat Kabola

Satu lagi perkampungan tradisional yang kami kunjungi dalam rangkaian Festival Adventure Indonesia, September 2015 yaitu perkampungan tradional Monbang, tempat suku Kabola yang berada di Desa Kopidil Kecamatan Alor Barat Laut. Jarak dari Kalabahi sekitar 7 km, dapat ditempuh dengan kendaraan dalam waktu 45 menit.

Yang unik dari suku Kabola, mereka menggunakan pakaian dari kulit kayu Ka. Nanti kami akan didemonstrasikan bagaimana mengelupas kulit kayu supaya utuh dan dapat digunakan sebagai bahan pakaian.

Kami disambut dengan tari Cakalele dan lego-lego. Nantinya setiap kunjungan kami selalu disambut dengan Lego-lego ini. Desa ini juga penghasil kopi yang cukup enak.

Tarian selamat datang

Pemusik gendang & gong bersiap di tengah lapangan
Kepala suku ditandu memasuki arena
Tari Lego-lego suku Kabola berpakaian kulit kayu

Kami disuguhkan makan siang, kali ini tersedia jagung titis yang merupakan makanan pokok orang Alor, jagungnya berwarna putih, sayur nangka, ubi rebus, sayur pepaya, lalu ada emping jagung tapi rasanya mirip dengan emping mlinjo. Walau sederhana tapi kami antusias mencobanya. Begini kira-kira makanannya.

Makan siang di Kabola

Rumah Suku Kabola
Mengelupas kayu Ka
Terkelupas sudah
Selesai makan, salah seorang warga mendemonstrasikan cara mengelupas kulit kayu Ka yang digunakan sebagai bahan pakaian. Kayu dipukul-pukul sampai lepas. Warna kulit kayu yang putih kecoklatan, membuatnya terlihat unik. Memerlukan kayu yang besar sebagai bahan pakaian utuh. Pakaian untuk wanita, berupa gaun tanpa lengan, sedangkan pria, bertelanjang dada di bagian atas. 

Selain menjual kerajinan dari kulit kayu seperti tas, kain tenun juga kopinya. Kami tidak lama di sini, perjalanan dilanjutkan ke desa nelayan Maimol, tempat kami bermalam di rumah penduduk untuk malam ini.

Menginap di Desa Adat Takpala - Alor

Telah lama saya tidak posting di blog ini. Beberapa trip terlewatkan, belum sempat di-posting. Kali ini saya ingin menulis trip ke Alor, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Alor, sudah menjadi destinasi impian saya sejak lama, September 2015 saya berkesempatan mengikuti Festival Adventure Indonesia di Alor. 

Alor bisa dicapai dengan pesawat via Kupang, rute saya Jakarta - Kupang - Kalabahi yang berupakan ibukota Alor. Alternatif lain menggunakan kapal. 

Kabupaten Alor merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 20 pulau. 9 pulau yang telah dihuni penduduk, yakni : Pulau Alor, Pulau Pantar, Pulau Pura, Pulau Tereweng, Pulau Ternate, Kepa, Pulau Buaya, Pulau Kangge dan Pulau Kura. 11 pulau lainnya masih kosong.

Kami rombongan festival, menginap semalam di desa adat Takpala, tempat sukui Abui. Lokasinya sekitar 30 kilometer dari Kalabahi, di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, berada diatas gunung yang berhadapan langsung dengan keindahan Teluk Takpala. 

Kami naik truk satpol PP yang disediakan panitia. Cara lain ke desa ini:

  • Menggunakan ojek dari Bandar Udara Mali,Alor atau 
  • Naik bus jurusan Bukapiting dari terminal Kalabahi sekitar 20 menit, turun di Takalelang, lalu berjalan menuju kampung adat ini sekitar 15 menit. 
Kampung Tradisional Takpala

Sambutan suku Abui di desa Takpala, Alor


Memasuki desa, kami disambut dengan tari lego-lego, khas Alor. Warga desa menari sambil memeluk pinggang atau bahu orang di kiri & kanannya, berputar mengelilingi moko-moko yang berada di tengah lapangan, diiringi tetabuhan gong & moko. Moko ini merupakan harta karun bagi suku ini. Lalu dilanjutkan dengan tarian peperangan.


Tari Lego-lego
Takpala warrior

Moko-moko

Moko ini digunakan sebagai mas kawin, juga sebagai alat musik pada setiap upacara adat. Orang Alor percaya bahwa Moko berasal dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya sangat tinggi. Menurut cerita, jika warga suku Abui menikah dengan orang di luar suku maka harus memberi Moko sebagai mas kawin. 

Di Museum 1.000 moko di jl. Diponegoro, Kalabahi tersimpan satu-satunya moko yang paling besar yang disebut moko nekara yang ditemukan Simon J Oil Balol berdasarkan petunjuk mimpi. 23 moko ukuran kecil, alat tenun, kain tenun,  gerabah, alat nelayan tradisional, alat pertanian, meriam portugis, senjata peninggalan Jepang, baju adat, alat berburu tradisional. Museum ini diresmikan pada tanggal 4 Mei 2004.

Selesai upacara penyambutan, kami dipersilakan makan pisang, singkong, ubi rebus, beserta sambel untuk dicocol dan kopi. Meskipun hidangan sederhana, namun rasanya sedap sekali.


Kudapan sore...nikmat....
Takpala memiliki 12 rumah adat yang tak berdinding, mereka menyimpan bahan makanan serta barang berharganya di bawah atap ijuk, sedangkan hewan peliharaan berada di bagian bawah. Untuk tempat tidur, harus naik tangga terlebih dahulu. 

Terdapat pula beberapa kamar mandi & toilet di samping rumah, namun tidak ada listrik di desa ini. Pernah akan dipasang listrik namun tidak berhasil menyala, bahkan gensetpun tidak bisa menyala disini. Jika memerlukan penerangan menggunakan lampu/senter dengan baterai. 

Tidak semua warga tinggal di sini, sebagian tinggal di desa di bawahnya, mereka juga bersekolah. Dan masih banyak yang tersebar di beberapa daerah lainnya. 

Takpala merupakan tujuan wisata Alor yang telah ditata cukup baik. Masuk kawasan Takpala tidak dipungut retribusi sedikit pun. 


Rumah suku Abui di Takpala


2 rumah keramat
Ada 2 rumah keramat yang berdinding yang disebut Kolwat dan kanuarwat. Hanya orang tertentu saja yang boleh memasukinya dan pada saat-saat tertentu, misalnya akan mulai musim tanam, membuka ladang dan sebagainya.


beginilah kami tidur di rumah adat

Udara cukup dingin, dan banyak angin, kami tidur dengan diiringi nyanyian warga desa menumbuk padi sampai tengah malam.

Pagi hari kami terbangun dengan bunyi burung2 bernyanyi dan warga desa sibuk memasak untuk makan pagi kami. Memasak dengan cara tradisional, menggunakan kayu dan hanya merebus atau bakar, tidak ada gorengan.


Memasak dengan kayu
Membantu Ibu

Setelah sarapan, mereka buka lapak, menjual kain hasil tenunan sendiri dan beberapa kerajinan. Mereka juga menyewakan bagi yg ingin foto menggunakan baju adat mereka.

Pasar dadakan


Perempuan suku Abui, kecuali yg di tenggah ;)
Wanita tertua suku Abui
Selesai makan pagi, berbelanja, foto-foto dan berberes, kami menuju ke destinasi selanjutnya yaitu desa adat suku kayu Kabola.

2015/10/09

India Trip July'15 - Agra 1 day trip

Acara hari ini kami ke Agra berangkat pagi, pulang malamnya dengan kereta api untuk melihat UNESCO World Heritage yang ada di Agra.

Pukul 5 pagi kami di jemput teman India kami, Radha. Hanya perlu 15 menit jalan kaki menuju NDLS pintu Paharganj. Kereta kami Bhopal Shatabdi (12002) AC Chair, ada di platform 1, berangkat lewat 7 menit dari jadwal. 

Kereta cukup bagus, mirip dengan kereta eksekutif di Indonesia. Tak lama setelah kereta berangkat, dibagikan teh dalam termos, roti dan kue serta 1 liter air. OK juga layanannya. Delhi ke Agra memerlukan waktu 2 jam perjalanan dengan kereta ini. 


Train to Agra
Sesampai di stasiun kereta Agra Cantt, kami memutuskan untuk menyewa mobil untuk 4 orang. Sebenarnya di stasiun tersedia tour setengah hari atau 1 hari hanya saja akan jadi mahal kalau berempat. Sewa mobil dengan AC untuk 4 orang full day tour, Agra & Fatehpur Sikri INR 1.850 ditambah tol & parkir. Jika tanpa AC INR.1.650. Kota Agra panas sekali jadi kami memilih dengan AC. Daftar harga dapat dilihat di kios depan stasiun. Para supir berebut penumpang, terkadang sampai berkelahi karena rebutan penumpang.


Agra Cantt
FATEHPUR

Destinasi pertama ke Fatehpur Sikri (city of victory) yang terletak sekitar 40 km dari Agra. Mobil tidak diperbolehkan mendekati obyek wisata. Supir memberitahu kami untuk naik auto. Ternyata jaraknya hanya sekitar 300 m saja. Lalu kami putuskan untuk menggunakan guide. Sepanjang jalan menuju bagunan, di kiri kanan banyak penjual makanan & minuman. Pengunjung cukup ramai. Sebelum masuk ke pintu gerbang Fatehpur, kita harus melepas alas kaki dan menumpuknya per grup. Guide kami menjamin sepatu kami tidak hilang. Menurut guide kami Fatehpur dan Sikri merupakan 2 tempat yang berbeda. Untuk memasuki Fatehpur, tidak dikenakan biaya, sedang untuk Sikri harus membayar INR 250.


Fatehpur Gate
Dibangun pada paruh kedua abad ke-16 oleh Sultan Akbar, Fatehpur Sikri yang berarti Kota Kemenangan adalah ibukota Kesultanan Mughal sekitar sekitar 10 tahun. Kompleks monumen dan kuil-kuil, semua dalam gaya arsitektur yang sama, termasuk salah satu masjid terbesar di India, Masjid Jama. 

Konon kabarnya didirikan untuk menghormati orang suci bernama Salim Christi. Sultan Akbar yang mempunyai 4 istri dengan agama yang berlainan, Muslim, Katholik, Hindu dan Budha tidak mempunyai keturunan. Setelah bertemu dengan Salim Christi, kemudian baru lahir anak-anaknya. Karena itu makam Salim Christi dapat ditemui di sana, berdiri megah bangunan marmer putih, berbeda dengan bangunan lainnya yang berwarna merah.

Fatehpur sekarang merupakan tempat ziarah dan wisata, terdapat area makam, tapi ramai pedagang di dalamnya sehingga berkurang kesan sakralnya. Salah satu pedagang memaksa kami untuk membeli bunga. Kami sudah menolak dengan halus tetapi masih memaksa, bahkan guide kami ikut juga.

Area pemakaman

Langit-langit dan lorong cantik

pasar di kompleks Fatehpur
Cuaca sangat panas, sehingga waktu kami ditawari untuk ke Sikri, kami tolak. Sudah waktunya makan siang dan masih 2 obyek lagi yang harus kami kunjungi taitu Agra Fort & Taj Mahal. Tarif guide INR 950 untuk (4-8 orang), guide menunjukkan kartun yg juga tertulis tarifnya.

Kami makan siang di restoran dekat pintu keluar kompleks, yang juga menawarkan ice cream. Selesai makan, kami menuju Agra Fort, kami ingin melihat Taj Mahal waktu senja.

AGRA FORT

Agra Fort, juga dikenal sebagai Lal-Qila adalah puncak dari kota Agra, ibukota Kesultanan Mughal. Sebuah simbol kekuasaan, kekuatan dan ketahanan, masih berdiri sampai hari ini.

Pintu masuk utama benteng Agra benteng adalah Gerbang Delhi. Benteng dikelilingi parit lebar untuk keamanan, dahulu dilengkapi dengan pintu yang bisa dinaik-turunkan.

Kami membeli tiket Agra Fort  (INR 250) dan Taj Mahal (INR 750) di sini supaya tidak perlu antri lagi nantinya. Harga untuk warga India, jauh lebih murah. Tenyata dibalik tiket tertulis "valid for single entry on same day visit at following monuments (Asi's adminission fee to be purchased separately except at Taj Mahal)". Dibawahnya ada kolom-kolom Taj Mahal, Agra Fort, Fatehpur Sikri, Akbar's Tomb, Etimad-Ud-Daula. Mungkin kalau kita membeli tiket di Taj Mahal, bisa masuk gratis ke tempat yang disebutkan. 

Masih dengan arsitektur Mughal dengan dominasi warna merah, terdapat juga bagunan dari marmer putih. Di beberapa spot kita bisa memandang Taj Mahal dari kejauhan. 

Terdapat sebuah ruang kecil di menara dengan balkon marmer dengan pemandangan Taj Mahal, tempat dimana Shah Jahan (cucu Akbar, yang membangun Taj Mahal untuk istrinya Mumtaz Mahal) dipenjarakan oleh anaknya, Aurangzeb.


Pintu gerbang Benteng Agra yang megah

Bisa melihat Taj Mahal dari kejauhan

Agra Fort Diwan I Am (Hall of Public Audience)
Selesai dari Agra Fort, kami minta untuk diantar melihat-lihat suvenir khas Agra tapi malah kami dibawa ke toko karpet dan keramik. Supir memaksa kami ke tempat itu. Akhirnya setelah berdebat, kami minta diantar ke restoran yang ada ACnya, supaya kami bisa istirahat menunggu sore baru ke Taj Mahal.

Di restoran ini kami juga mendapat perlakuan kurang ramah dari pelayan. Mungkin karena kami hanya pesan minuman dan snack untuk dimakan bersama, entahlah.



TAJ MAHAL

Pukul 4 sore, kami bergerak ke Taj Mahal. Dari tempat parkir sampai loket pembelian tiket saja cukup jauh. Antrian tiket dipisah antara laki-laki, wanita, warga lokal & orang asing. Lalu antrian masuk juga dipisah. Kita harus melalui pemeriksaan badan dan barang-barang bawaan dibongkar. Pengunjung cukup ramai. Untuk naik ke bagunan Taj harus menitipkan alas kaki atau memakai pelindung alas supaya tidak mengotori bagunan marmer putih. 

Sejarah Taj Mahal tentunya sudah banyak yang tahu, jadi tidak perlu saya tuliskan. Sebenarnya dilarang memotret di dalam bagunan Taj Mahal tapi teman saya beruntung diperbolehkan memotret oleh petugas.

Taj Mahal

Tombs inside Taj Mahal

Twilight at Taj

Kami keluar dari Taj sekitar 18.30 menuju Agra Cantt. Kereta kami seharusnya pukul 21.15 datang terlambat. Kami sampai di Delhi tengah malam. Sebelum tidur packing dahulu karena besok kami pulang ke Jakarta. Kami sempatkan belanja di sekitar Pahargaj dan Karol Bagh sebelum berangkat ke airport.

Selesailah trip India kali ini. Meski mengalami kejadian buruk tapi kami puas dengan trip selama di Ladakh. Satu destinasi lagi yang bisa kami coret dari wish list kami ;p.


2015/09/11

India Trip July'15 - Srinagar to Delhi

Pukul 7.30 kami sudah siap check out, kami membayar tarif kamar ke pemilik penginapan, sambil tanya arah ke taxi stand untuk ke bandara. Kami berjalan kaki menuju taxi stand. Taxi berupa mobil jeep tua tanpa AC. Setelah tawar menawar akhirnya sepakat ongsok 500. Sampai di pintu gerbang, kami harus turun untuk pemeriksaan barang, ini bahkan belum masuk di area Airport. Dalam gerimis, kami mengantri, beberapa orang ibu-ibu seenaknya menyerobot antrian. Pemeriksaan lebih sadis ketimbang biasanya, badan diraba-raba, bahkan ibu India yang memakai sari diminta membuka selendangnya untuk melihat apa yang ada dibaliknya. 

Selesai pemeriksaan disini, kami naik mobil lagi karena jarak ke area airport masih agak jauh. Lalu pemeriksaan lagi sebelum kami harus mengisi form untuk turis asing. Selanjutnya mengantri di counter check in. Selain tas tangan harus dimasukkan bagasi. Semua barang diberi tag dan distempel termasuk yang di bawa ke kabin. Sebelum masuk ke ruang tunggu, ada pemeriksaan sekali lagi, kali ini semua barang bawaan kami dibongkar sampai sekecil-kecilnya. Ditanya ini apa, untuk apa dan seterusnya. Pemeriksaan memakan waktu hampir 15 menit. Beruntung kami berangkat agak pagi, hingga tidak sampai ketinggalan pesawat. Tag diperiksa dan diberi stempel lagi. Barulah masuk ke ruang tunggu.



Tibalah saat berangkat setelah delay 1 jam, petugas memeriksa boarding pass & stempel setiap tag, jika lengkap baru boleh lewat. Dari situ diketahui kalau tag bagasi kami belum distempel, jadi teman saya harus turun ke bawah minta stempel sebelum berangkant. Ternyata tas kami masih berada di counter check ini, hampir tidak dibawa ke pesawat. Selesai urusan stempel barulah kami naik pesawat. Kami naik Indigo menuju Delhi. Pesawatnya lumayan.

Sampai Delhi sekitar jam 12.30. Kami menunggu shuttle bus antar terminal dan berencana naik Airport Metro Express dari terminal 3. Ternyata hanya yang punya tiket penerbangan di terminal 3 yang merupakan terminal internasional saja yang boleh naik free shuttle ini. Aneh sekali..... Di Jakarta, orang boleh naik shuttle antar terminal tanpa harus punya tiket dan bisa ke terminal manapun.

Jadilah kami naik bus ke stasiun Metro Delhi Aerocity dengan membayar INR30. Lalu melanjutkan dengan metro sampai ke stasiun metro New Delhi (INR.80).

Kami akhirnya menemukan jalan keluar melalui salah satu jembatan yang ada di NDLS, setelah beberapa jalan dilarang masuk. Cuaca sangat terik, keringat sudah bercucuran, cepat capek. Di pintu keluar stasiun, kami memutuskan naik auto menuju Hotel Khrisna Plaza yang sebenarnya tidak terlalu jauh jika kami tidak membawa barang-barang.

Manajer dan karyawan yang bertugas bukan orang yang melayani kami sebelumnya. Kali ini tidak ada keramahan, hanya sekedarnya saja. Pelayanan lama, cenderung acuh. Kami booking triple room, tapi kami diberi kamar untuk berdua. Extra bed, handuk harus kami minta dahulu baru diantarkan. Beda sekali dengan layanan sebelumnya. Bahkan kran shower di kamar mandipun rusak, jadi terkadang air panas tidak bisa keluar.

Setelah istirahat kami makan dan jalan-jalan sekitar Paharganj.Sebelum kembali ke hotel, membeli double egg chicken roll di warung depan hotel, enak....
Lalu menyiapkan perjalanan ke Agra besok pagi-pagi, kereta kami jam 6 pagi dari stasiun NDLS.



India Trip July'15 - Miserable Trip to Srinagar

Sejak jam 4 pagi mobil kami terhenti di kota Dras, tidak tahu kapan bisa melanjutkan perjalanan. Jalan ke arah Srinagar di tutup, hanya mobil terutama yang mengangkut logistik ke arah Leh yang diperbolehkan lewat. Di Dras susah mencari toilet.

Sekitar pukul 10 pagi masih belum ada kepastian kapan mobil diperbolehkan lewat. Kami cari sarapan, tapi kebanyakan hanya menyediakan kari. Akhirnya di salah satu warung, kami minta dibuatkan omelet dengan irisan cabai, makan dengan nasi. Hmmm nikmat.....

stuck at Drass for 10,5 hours
Lewat jam 1 siang masih juga belum diperbolehkan jalan. Kami mencari toilet, sudah tidak tahan memenuhi panggilan alam. Kami bertanya-tanya dimana toilet, tidak ada yang bisa membantu. Sampai akhirnya bertemu petugas pariwisata Dras, kami diperbolehkan menggunakan toilet di kantornya. Kantor baru dibuka waktu kami datang. 

Kami sempat mengobol, menurut petugas itu, Dras bisa sampai - 60 derajat saat musim dingin. Dras menawarkan beberapa rute trekking yang diminati.

capturing plants while waiting.....
Sekitar jam 2 siang, ada kabar kalau mobil diperbolehkan melanjutkan perjalanan, dengan syarat penumpang menyerahkan tiket pesawat dari Srinagar untuk keesokan harinya. Saya membawa tiket untuk kami bertiga hanya 1 lembar, jadi harus mencari tempat foto copy. Ali, supir kami tidak menemukan tempat foto copy karena listrik sedang mati. Akhirnya kami memutuskan untuk menyerahkan tiket itu. Beruntung saya juga menyimpan soft copy tiket di HP. Kami usahakan mobil bisa lewat meskipun hanya kami bertiga yang punya tiket. Situasi kacau, semua orang ingin segera berangkat. Beberapa petugas tidak memperbolehkan kami lewat. Akhirnya setelah memohon ke salah satu petugas yang ternyata kepalanya, kami diperbolehkan lewat, waktu sudah sekitar jam 14.30.

Sekitar pukul 5 sore, kami sampai di suatu tempat entah dimana , mobil diberhentikan lagi, jalan ke arah Srinagar ditutup. Antrian sampai beberapa kilo meter. Mungkin ada tradisi pulang mudik juga di sini, mayoritas masyarakat Srinagar memang muslim. Ini mengingatkan saya, kenapa kami tidak jalan-jalan di Indonesia selama libur lebaran, ya untuk menghindari macet dimana-mana dan harga transport dan akomodasi mahal, karena tradisi pulang kampung dan libur panjang.

Hari sudah gelap, mobil masih tidak boleh jalan. Hanya mobil dari arah Srinagar saja yang boleh jalan. Kami heran kenapa tidak dibuat bergantian. Problem toilet kembali datang. Tidak ada yang mau membantu megijinkan kami menggunakan toilet.....sangat membuat frustasi.....

Sampai akhirnya kami menemukan pemilik warung yang baik hati mengijinkan kami setelah teman saya memohon-mohon. Beberapa orang lain di warung itu sebelumnya bilang tidak ada toilet di situ. Selesai melepas hajat, setidaknya kami membeli sesuatu, kami memesan chai, tapi sewaktu membayar, pemilik warung tidak mau dibayar. 

stuck again for 5 hours

Akhirnya sekitar jam 10 malam, jalan dibuka. Ali langsung ngebut meskipun jalan sempit, berkelok-kelok, satu sisi tebing, sisi lain jurang. Kami hanya pasrah saja, yang penting selamat sampai ke Srinagar besok pagi-pagi. Kata Ali: believe Ali & Allah ;P

Sekitar jam 1.30 pagi sampailah kami di Srinagar. Problem berikutnya mencari penginapan. 5 orang dari penumpang memerlukan penginapan, 3 orang lainnya warga lokal. Ali memperkenalkan kami dengan seorang bapak yang katanya pemilik penginapan. Kami bertiga bilang kalau kami tidak mau menginap di house boat, sedang 2 orang lagi ingin di house boat. 

Kami dibawa jalan menyusuri sungai. 2 orang akhirnya memutuskan menginap di house boat yang ditawarkan. Si bapak memaksa kami bertiga juga tinggal di house boat, tapi kami berkeras tidak mau, seperti yang sudah kami katakan sejak awal. Akhirnya kami di bawa ke penginapan di gang sempit yang ternyata bukan milik dia.

Kami diantar ke salah satu kamar yang hanya berisi 1 tempat tidur, terlalu sempit untuk bertiga. Si bapak memaksa kami untuk membayar INR.1.000 saat itu juga. Lalu teman saya bilang, yang kami perlukan sekarang air panas untuk mandi, kami tidak keberatan dengan kondisi kamar. Dia berkeras kalau air panas akan keluar 15 menit lagi, bayar sekarang! Teman saya jadi marah, kami sudah sangat capek, lalu mendapat perlakuan seperti itu, dan ternyata air panas memang tidak keluar. Lalu kami dipindahkan ke kamar lain yang bisa langsung dapat air panasnya, tapi kondisi kamar sangat jorok. Kami sudah tidak punya tenaga untuk berdebat lebih lanjut, sudah lewat jam 2 pagi.

Si bapak dengan marah meninggalkan kami. Lalu datanglah pemilik penginapan, kami minta bantal yang jorok ditukar. Setidaknya masih ada yang bisa kami syukuri, sudah sampai di Srinagar dengan selamat sebelum waktu penerbangan kami ke Delhi. Yang penting sekarang mandi dulu lalu tidur..... 

#Good times become good memories and bad times become good lessons.

2015/09/10

India Trip July'15 - Pangong Lake back to Leh

Kami bagun pukul 5.30 pagi, membersihkan diri, berberes, lalu jalan-jalan sekitar danau sampi menunggu makan pagi siap. Kami bertiga sarapan pukul 6.30, yang lain belum bangun sepertinya. Roti bakar, omelet dan chai, lalu tiba-tiba si pemilik datang menawarkan nasi goreng ala India Selatan, nah ini baru cocok di lidah kami, pedasss.


Breakfast with toast, omelet & Indian fried rice @dining tent
Pemilik Nomadic menyarankan kalau pak supir menjemput 2 orang Jerman di penginapannya, sambil membawa barang kami. Jadi kami masih punya waktu foto-foto dan menikmati keindahan danau di pagi hari yang sedang cerah. Warna danaupun jadi biru, cantik sekali. Sekitar danau beberapa tumbuhan cantik di antara bebatuan.


Pangong lake in the morning

flowers among the rocks

Unique Pangong lake between sand/rocky and snowy mountains
Sepanjang tepi danau, banyak area camping lainnya, beberapa terlihat lebih mewah dibading tenda kami. Bertepatan kami sampai di jalan raya, mobil kami juga sampai dengan 2 penumpang lainnya. Kamipun melanjutkan perjalanan. 

Pak supir berbaik hari berhenti jika ada spot yang cantik atau kalau kami perlu ke toilet. Sepanjang perjalanan ke Nubra maupun Pangong, mudah ditemukan toilet. Beberapa cukup bersih.


a pack of wild dogs
Yaks, Himalayan Marmots & Wild Dogs


Kami sampai di Leh sekitar pukul 14.00. Kami turun di Ladakh Journey, dan mendapat kabar baik kalau jalan Leh - Srinagar sudah dibuka kembali, tapi mobilnya belum dapat. 


Ladakh Journey & Venture Ladakh Travel Agent @ Changspa Road

Sambil menunggu mobil, kami makan siang dahulu di Amigo. Bimbimbab & sup ayam pedas (tapi gak pedas) & mango lasy. 


Our last Korean food in Leh
Akhirnya kami dapat taxi share ke Srinagar per orang INR.2.200,- berangkat lewat jam 5 sore, ternyata kami harus putar-putar Leh dahulu, menjemput penumpang lain. 2 dari kami mendapat duduk di tengah, 1 orang di belakang. Di depan seorang ibu India, 2 orang lagi di belakang, pasangan cowok Rusia & cewek Italia yang baru bertemu di Manali.

Bangku tengah seharusnya untuk 3 orang, tapi ternyata 2 orang lagi masuk, seorang bapak & anak laki-laki yang sedang sakit parah, menggunakan infus & kateter. Wah....kami kaget sekali, bagaimana bisa sesakit itu naik mobil umum berdesakan, bukan dengan ambulance. Kami kuatir terjadi sesuatu pada anak itu. 

Hari gerimis, kami masih di terminal Leh. Supir-supir berdebat, sepertinya mengupayakan anak sakit itu ke mobil yang lebih lega. Akhirnya bapak & anak sakit itu pindah ke mobil lain, mendapat tempat duduk di tengah hanya berdua, bertukar tempat dengan 2 orang pemuda pindah ke mobil kami. Jadilah kami bersempitan berempat hiks....tapi masih mendingan dibanding harus berdesakan dengan anak yang sakit parah. Akhirnya jam 18.45 mobil meninggalkan Leh dalam hujan. 

Ali, sang supir ngebut, sampai sempat berhenti karena penumpang di belakang muntah. 
Keluar dari Leh, melewati highway yang rapi dan mulus, penuh lampu di kiri kanan. 

Lewat tengah malam, mobil sempat distop tidak bergerak selama kira-kira 30 menit, untung masih bisa lanjut. Pukul 4 pagi sampai di Drass, antrian mobil panjang sekali dan tidak diperbolehkan lewat, sampai entah kapan....jalanan di jaga oleh polisi dan tentara.

bersambung ke tulisan berikutnya.....Miserable Trip to Srinagar


India Trip July'15 - Leh to Pangong Lake

8.30 kami minum teh di Amigo sekalian pesan Kimbab & Gyeran Mari dibungkus untuk makan diperjalanan. 8.20 kami berangkat, saya berikan copy PAP ke supir. Pak supirnya agak tua, bawa mobilnya santai, gak bikin pusing. Kami menjemput 2 pesrta lainnya, orang Jerman. 

Dalam perjalanan keluar dari kota Leh, kami melewati Shey Monastery & Thiksey Monastery tapi tidak berhenti. Pemberhentian pertama di Karu check point, kami berikan passport ke supir, dia yang mengurusnya.

First check point

Pemandangan sepanjang jalan menuju Pangong lake hampir sama, pegunungan batu atau pasir, dari jauh ada terlihat puncaknya berselimut salju. Sesekali berpapasan dengan motor atau mobil lainnya.
view along the way to Pangong Lake

Sekitar pukul 11, sampailah di Chang La, pada ketinggian 5.360 m menjadikan Chang La sebagai the third highest motorable road in the world. Kami tidak mengalami gangguan lagi, badan sudah beradaptasi dengan ketinggian.Chang La diambil dari nama kuil yang didedikasikan kepada pertapa Changla Baba. Chang La terletak pada National Highway 21 atau juga dikenal sebagai Leh–Manali Highway.

Chang La, the the third highest motorable road in the world (5.360m)
Di Chang La kami beristirahat sambil makan yang kami bawa dari Leh. Di sini juga ada beberapa kedai untuk minum teh dan makan.

Pemberhentian selanjutnya sekitar 12.45 di Tangtse yang merupakan check point kedua.
Pukul 14.30 sampailah di Pangong Lake, cuaca mendung, air danau juga tidak terlalu biru. Tidak terlihat banyak pengunjung. Di pinggir danau ada beberapa warung makan dengan tulisan atau poster "3 idiot". 

lunch @ Pangong lake
Kami makan siang di warung tepi danau Pangong. Harga dan rasanya tidak sesuai tapi lumayanlah buat mengganjal perut. Selagi makan, kami ditegur oleh seseorang, masih ingat saya? ternyata dia supir di Srinagar yang pertama kali menawarkan taxi share ke kami. Dia cerita kalau dia pergi mengambil taxi dan menunggu kami selama 2 jam tapi tidak kelihatan lagi. Kami tidak tahu kenapa akhirnya bukan mobil dia yang kami pakai, karena transaksi dilakukan oleh pemilik Al Sammad. Supir ini, namanya Ramesh Tamang, cerita kalau orang Srinagar itu jahat, dia minta bagian dari ongkos yang kami bayar, hal ini mengkonfirmasikan kalau omongan supir yang membawa kami benar. Pengalaman kami selama di India memang hanya orang Ladakh yang jujur dan ramah tanpa pamrih. Bahkan di Leh, kami kena tipu, asumsi kami jika sudah lama tinggal di Ladakh setidaknya menjadi seperti orang Ladakh, tidak benar juga ;(

Pangong Tso dalam bahasa Tibet berarti danau panjang, sempit yang mempesona, ada pada ketinggian 4.350m. Panjangnya 134 km, titik terlebar 5 km, keseluruhan luasnya 604 km2. 60% luasnya berada di Tibet, sisanya di India. Air danau berubah sesuai cuaca. Air danau sedikit asin, payau. Tidak ada aktifitas apapun di danau, mungkin daerah ini belum dikembangkan, misalnya untuk berlayar, memancing atau kegiatan air lainnya. Tapi dengan demikian danau ini masih asri terjaga.

changes color according to the weather
  
Sekitar pukul 16, kami diantar sampai area camping. Kami menginap di Nomadic Life Camp, di desa Spangmik. Tenda kami berisi 1 tempat tidur besar & 1 single, 1 meja kecil lalu disekat untuk memisahkan area berisi toilet dan wastafel di belakang tempat tidur. Nyaman sekali. Supir mengantar kedua orang Jerman yang semobil, mereka menginap di guest house, areanya berbeda dengan area camping.

Kami disambut dan dilayani pemiliknya dengan baik sekali. Diantar lemon tea panas, lalu diberitahu kalau listrik baru akan menyala jam 19.30, jadi dia akan kembali mengambil HP & baterai yang perlu di-charge. 

Hari masih terang, kami sempat foto-foto sampai hampir gelap. Istirahat sebentar sambil menunggu makan malam.

Tak lama setelah listrik menyala, pemilik camp datang ke tenda, mengambil barang yang akan di charge. Dia juga mengisi botol-botol kami dengan air. Di tempat yang tinggi sebaiknya banyak minum air putih.

Makan malam di tenda makan akan tersedia jam 20.30. Kami dipersilahkan mengambil makanan & minuman sendiri, makanannya seperti biasa kari. 

Kembali ke tenda setelah makan, nyaman sekali tidur dengan selimut tebal. Kami diantar botol penghangat berisi air panas. Wah benar-benar prima layanannya......top banget deh
Saking nyamannya, rencana untuk melihat langit dengan banyak bintang terkalahkan dengan hangatnya tempat tidur hahaha.....

comfortable and excellent services