2014/08/08

Myanmar Trip 2014 - Day 4 - Bagan Cycling

Konon Bagan memiliki sekitar 2 ribuan pagoda dan kuil, sebagian masih bagus, lainnya tingal reruntuhan. Untuk menjelajahinya ada beberapa opsi: berjalan kaki, bersepeda, naik motor, naik delman atau naik mobil. Sebagian besar terdapat di area Old Bagan.

Kami memilih untuk naik sepeda, seorang teman saya memakai sepeda listrik. Sewa sepeda sehari 1.500K sedangkan sepeda listrik 6.000K. Jalan kaki sepertinya akan sangat melelahkan mengingat cuaca sangat panas terik. Naik delman terlalu mahal dan tidak terlalu nyaman, karena delman di Bagan agak berbeda cara duduknya. 1 orang duduk menghadap kedepan disamping pak kusir dan 2 orang lagi harus menghadap kebelakang, karena di tengah tidak ada tempat untuk menaruh kaki, seperti delman di Indo. Harga delman sekitar 30.000K.

Target kami hari ini, setidaknya dapat mengunjungi Ananda Temple, Thatbinnyu, Htilominlo Temple, Dhammayangyi dan sunset di Shwe San Daw.

Bagan Temple Map
Kami berangkat pukul 9 setelah sarapan di roof top penginapan. Pemberhentian pertama setelah sekitar 30 menit bersepeda di kuil yang saya tidak tahu namanya ;p kami melihat ada delman parkir di depannya, jadi kami mungkin cukup layak untuk dilihat. 


Kuil terbuat dari bata merah dan cukup bersih terawat. Kami masuk dan disambut oleh seorang pelukis yang menjual lukisannya di dalam kuil. Kami diantar untuk melihat-lihat keatas. Dari atas kami bisa melihat hamparan kuil dan pagoda sejauh mata memandang. Dalam kuil tergambar samar beberapa lukisan Budha.

Teman saja membeli lukisan akrilik yang kualitasnya cukup baik, bahkan lebih baik dibanding lukisan yang dijajakan sepanjang penjelajahan kami di Bagan. Min-Min nama pelukisnya mengatakan bahwa Bagan sangat tergantung pada turis, akan mati tanpa turis. Jadi dia bersyukur karena pembebasan visa untuk orang Indonesia, dengan demikian akan makin banyak yang datang ke Myanmar. Berbeda dengan Yangon dan Mandalay yang akan tetap hidup meskipun tidak ada turis.

Htilominlo Temple cukup ramai dikunjungi. Disini kami diminta untuk menunjukan tiket masuk Bagan Zone. Anda harus membayar kalau belum memilikinya. Candi ini dibangun oleh raja Nantaungmya pada tahun 1218. Terbuat dari bata merah dan semen.
Di lingkungan candi banyak penjual suvenir, kami juga menemukan adanya suku leher panjang Karen.

Htilominlo Temple

Hari sudah siang, perut lapar. Kami mampir di warung yang didirikan sekedarnya di bawah pohon. Kami harus menunggu nasi matang sekitar 15 menit. Cukup layak untuk ditunggu, makanan yang disajikan dibayar per paket per orang 1.500K. Cara penyajiannya seperti warung padang tapi harganya sudah paket. Rasanya sesuai dengan lidah kita, yang penting ada sambelnya hahaha..... 


Ananda temple menarik untuk dilihat dan agak berbeda dengan lainnya. Banyak orang datang untuk beribadah. Terdapat 4 patung Budha besar di 4 arah mata angin, dan cetakan bentuk kaki Budha di batu besar. Kassapa di Selatan, Kakusanda di Utara, Konagamana di Timur dan Gotama di Barat.

Ananda Temple

Buddha Images inside Ananda Temple
Pemberhentian selanjutnya Thatbyinnyu Phaya. Bagunannya cukup besar, namun di dalamnya sangat kotor dan tidak terawat. Kami hanya melihat-lihat sebentar saja.


Tidak jauh dari Thatbyinnyu ada bukit kecil, kita bisa naik untuk mengambil foto selfie dengan latar Thatbyinnyu secara utuh.

Setelah mampir ke beberapa candi/pagoda kecil lainnya, sampailah kami di Shwesandaw Pagoda. Hari masih jam 3 sore dan panas terik. Shwesandaw sebenarnya tidak terlalu menarik. Bagunannya tidak terawat. Untuk naik kita harus naik tangga yang cukup curam. tangga ada di keempat sisinya. Kita harus membuka alas kaki. 

Hanya saja Shwesandaw adalah spot terbaik untuk menikmati sunrise dan sunset di Bagan. Jadi pasti ramai dikunjungi. Semua berebut untuk mengambil spot yang bagus untuk mengabadikan sunrise maupun sunset. Dan memang pemandangan dari atas sangat spektakuler!!

Berikut beberapa jepretan kamera saya......




Sunset hanya berlangsung sekitar 15 menit saja, sekitar pukul 18.30 tapi kami harus menunggu selama 3 jam! Selain karena panas terik, juga kemungkinan tidak cukup waktu untuk kembali saat sunset jika kami eksplor ke pagoda lainnya. Kami tidak sempat mampir di Dhammayangyi Temple, namun wujudnya bisa tertangkap kamera dan terlihat megah dari atas Shwesandaw.

Sunset menghilang, semua bergegas turun untuk pulang. Tidak terlalu banyak penerangan jalan, hari menjelang gelap. Kami melewati Bagan Archaeological Museum yang bentuk bangunannya cukup unik. Namun tentunya sudah tutup. Perjalanan kembali ke penginapan tanpa berhenti, memakan waktu sekitar 1 jam. Kami mampir makan malam dahulu sebelum mengembalikan sepeda kami. 

Sebelum kembali ke kamar, kami mengatur sewa mobil untuk ke mount Popa besok pagi dengan saudara pemilik penginapan. Kami akan berangkat pukul 8 pagi dan kembali sekitar pukul 2 siang, masih cukup waktu sebelum melanjutkan perjalanan ke Mandalay dengan bus malam. Harga sewa untuk bertiga 12.000K/orang, jika berempat 10.000K/orang sedangkan berlima 8.000K/orang.

Next...Mount Popa!

2014/08/07

Myanmar Trip 2014 - Day 3 - Fist Day in Bagan

Bagan merupakan tujuan wisata utama di Myanmar. Ibukota pertama Kekaisaran Myanmar dan salah satu situs arkeologi terkaya di Asia Tenggara. Menurut salah satu situs yang saya baca, 4 tempat utama yang wajib dikunjungi adalah Shwezigon, Ananda, Dhammayangyi dan Thabbyinnyu Pagoda. Namun untuk melihat sunrise dan sunset, anda harus ke Shwe San Daw Pagoda.

Bagan sendiri terdiri dari 3 area: Nyaung-U, Old Bagan dan New Bagan. Dari informasi yang saya baca, Nyaung-U tempat penginapan murah untuk backpacker. Old Bagan merupakan area luas tempat kuil Budha, stupa, pagoda dan reruntuhan berasal dari abad 11-12, dimana tidak ada rumah penduduk disekitarnya. Sedangkan New Bagan, area hotel, resort dsb.

Pukul 4 pagi, hari masih gelap gulita sampailah bus di terminal bus Bagan yang baru, sekitar 7 kilometer dari Nyaung-U. Begitu turun dari bus, kami dikerumunin banyak orang yang menawarkan untuk membawa kami ke kota dan penginapan. Kami tidak memesan penginapan, selain untuk hari pertama kedatangan kami di Myanmar. 

Kami memutuskan untuk duduk dahulu menunggu, sampai akhirnya tinggal kami yang menjadi sasaran kerumunan orang. Semuanya berebut untuk menjajakan layanannya. Sampai akhirnya kami memilih seorang bapak, yang menawarkan untuk mengantar dan membantu mencari penginapan sesuai pilihan kami. Kami kira si bapak, supir yang akan mengantar kami ternyata juga calo. Si bapak menanyakan akan kemana kami setelah Bagan, tiketnya bisa dibeli sekarang karena sudah buka. 

Pengalaman kami di Yangon, jika beli tiket bus di penginapan akan lebih mahal harganya. Maka kami memutuskan untuk membelinya di terminal. Tiket bus Shwe Man Thu ke Mandalay dengan  keberangkatan jam 21.30 dan gratis dijemput dari hotel kami, seharga 8.000K.

Ternyata kami diantar oleh orang lain, supirnya tidak bisa bahasa Inggris tapi keneknya cukup mengerti. Kami membayar 1.000K per orang, belakangan baru tahu sepertinya kemahalan. 

Di tengah jalan kami diberhentikan, dan harus membayar tiket masuk Bagan Archaeological Zone seharga $15. 15.000 jika membayar dengan Kyat atau 15 EUR ;( 

Memasuki Nyaung-U kami diantar melihat penginapan yang mungkin rekanan si supir, tapi tidak cocok. Supir hanya mau mengantar ke 3 tempat saja. Akhirnya kembali ke penginapan yang pertama meskipun tidak terlalu bagus. Tidak sengaja kami melihat guest house di depannya sepertinya masih baru dan bagus, jadi kami coba masuk.

Setelah melihat kamarnya dan harga cocok, kami memutuskan untuk menginap di Saw Nyein San Guesthouse untuk 2 malam. 1 kamar bertiga $35/malam, menurut pemiliknya harga sudah didiskon karena low seson. Kamar cukup luas dengan AC, kamar mandi dalam, TV dan termasuk sarapan. Kami harus menunggu sampai jam 12 siang, karena kamar masih dihuni.


Kami diberitahu untuk jalan-jalan dahulu melihat pagoda di area Nyaung-U, tidak jauh untuk dicapai dengan jalan kaki. Hari masih belum pukul 8 pagi, jalanan masih sepi. Sepertinya orang Bagan bukan "morning person" seperti di Yangon. Seorang teman baru dari Korea yang juga menginap di situ, bergabung bersama kami.

Pemberhentian pertama kami di kuil yang namanya kami tidak tahu karena papannya bertuliskan huruf Myanmar, tanpa huruf latin. Cukup bagus dan terawat. Seorang anak kecil membukakan pintu kuil, dan mengajak kami masuk dan naik ke atas. Di atas kami bisa melihat pagoda sekitarnya.....cukup mengagumkan.... Ini fotonya.


Tak lama kemudian kami menemukan Shwezigon. Shwezigon menyimpan replika gigi Budha di Kandy, Srilanka. Masih aktif digunakan untuk ibadah, cukup terawat. 
Tidak terlalu ramai pengunjung, kami bertemu dengan pasutri Myanmar yang minta foto bersama kami ;p lalu ada bapak dari Singapore yang membantu mengambil foto.


Hari mulai panas terik, jam 11 kami kembali ke penginapan. Setelah sebelumnya makan siang dahulu. Sekembalinya di penginapan ternyata kamar sudah siap, kami diperbolehkan masuk. Beres-beres, mandi sekalian cuci baju lalu tidur siang.....zzzzzz......

Sekitar jam 4 sore, cuaca sudah tidak terlalu panas, kami keluar untuk jalan-jalan. Kami menemukan ada museum Thanakha. Semua orang Myanmar memakai Thanakha, bahkan di kota seperti Yangon, thanakha umum dipakai. Dari bayi, anak-anak sampai orang tua. Biasanya laki-laki tidak menggunakannya setelah lewat masa puber, namum wanita tetap menggunakannya sampai tua. Mereka menggunakannya sebagai all in one kosmetik, tabir surya, bedak pendingin wajah dan badan. 

Awalnya saya kira thanaka terbuat dari beras yg ditumbuk seperti bedak dingin yang biasa dipakai di Indonesia. Ternyata thanakha terbuat dari kulit kayu pohon thanakha yang tumbuh di daerah Myanmar tengah yang kering. 

Penggunaan tradisionalnya, dengan menggilingkan kulit kayu itu ke batu bulat yg diberi air. Cairan hasil gilingan tersebut dioleskan ke muka, bagian pipi dan hidung akan dioles lebih tebal. 

Kayu-kayu thanaka dijual dimana-mana, bahkan di pasar. Harganya bervariasi tergantung ketebalan kulit kayunya. Namun thanaka sudah diolah sebagai cream yang dikemas praktis, tinggal menambahkan air saja untuk pemakaiannya, bahkan sudah ada dalam bentuk bedak 3 way cake dan lotion. Kami membeli dan menggunakan thanaka, ternyata nyata khasiatnya. Kami kira produk thanaka ini hanya dijual di toko museum thanaka, ternyata kemudian kami menemukan produk itu dijual di banyak kota dan harganya jauh lebih murah dibandingkan di Bagan. Segala sesuatu lebih mahal di Bagan. Bagan sangat tergantung pada turisme. 


Sebelum kembali ke penginapan kami makan malam dahulu di pasar. Mi ayam lagi tapi beda cara memasaknya, bumbunya mirip dengan mi goreng instan kita.



Malam pertama di Bagan, tidur nyenyak.....

TIPS

  • Pakai sandal/sepatu yang mudah dibuka agar tidak repot karena kita harus melepas alas kaki sebelum masuk pagoda/temple.
  • Jangan membeli oleh2 di Bagan, harganya jauh lebih mahal dari Mandalay, Inle dan Yangon.
  • Pada low season, kita dapat menawar harga penginapan maupun transportasi.
  • Memakai thanakha cukup manjur untuk mendinginkan wajah dan mencegah kulit terbakar matahari.

2014/08/06

Myanmar Trip 2014 - Day 2 - Yangon

Sarapan pagi tersedia mulai pukul 7, terdiri dari roti yang bisa kita bakar sendiri dengan toaster yang tersedia di masing-masing meja. Selai enak buatan sendiri, mentega/butter, pisang, kopi dan teh. Tidak tersedia air putih, jadi kami harus membeli. Harga 1 liter air 300-400K.

Selesai sarapan kami memutuskan untuk jalan kaki. Target kami hari ini membeli tiket bus ke Bagan untuk nanti malam dan mengunjungi Shwedagon Pagoda, kalau sempat ke Sule Pagoda juga.

Bus malam menuju Bagan ada banyak pilihan, favoritnya adalah Joyous Journey (JJ) express yang merupakan bus VIP dengan tempat duduk 2+1. Bus standar tenpat duduknya 2+2. Penginapan kami menjual harga tiket bus dengan biaya tambahan 2.000K per tiket, jadi kami memutuskan untuk membelinya di agen tiket depan stasiun kereta api central.



Banyak hal menarik yang bisa dilihat jika kita berjalan kaki, seperti pengalaman kami.

  • Kami bertemu barisan biksu/monk yang menerima makanan yang telah disiapkan dari orang-orang di depan rumah.
  • Orang Myanmar banyak yang masih memakai sarung yang disebut longyi bahkan untuk pergi bekerja maupun sekolah, laki-laki, perempuan, dewasa, anak-anak.
  • Pekerja maupun anak sekolah kebanyakan membawa makanan dalam rantang dari rumah.
  • Banyak burung merpati di jalan-jalan, terlihat juga penjual makanan burung dimana-mana, 1 piring jagung dan kacang-kacangan bisa dibeli 100K. Orang lewat sering membeli dan melemparkannya di jalanan.
  • Becak di Myanmar berupa sepeda yang digandengkan dengan 2 bangku yang bertolak belakang di sebelah pengayuh dan ditambahkan 1 roda.
  • Rambut gadis Myanmar banyak yang di cat pirang...hehehe....sepertinya pengaruh K-Pop, musik dan drama Korea diputar dimana-mana.
  • Laki-laki Myanmar banyak pemakan sirih, dimana-mana ada penjual makan sirih. Di jalanan banyak bercak merah hasil ludahan makan sirih :P
  • Buah dan bunga yang di jual, bagus-bagus....kami sempat mencicipi semangka yang besarrr, merah dan manissss sekali.
  • Bir dan minuman keras di jual bebas, di supermarket sampai warung, bukan hanya di bar saja. Namun selama perjalanan kami belum pernah bertemu orang Myanmar mabok di jalan.
  • Seragam sekolah dari TK-SMA sama, baju putih dan sarung/celana hijau dan kebanyakan mereka memakai sandal jepit! 
  • Sekolah gratis sampai SMP tapi jika penuh maka harus menunggu tahun berikutnya untuk sekolah.
Dalam perjalanan menuju Stasiun KA, kami melewati gereja katedral dan ternyata diperbolehkan masuk, kebetulan hari mulai gerimis. Di depan Katedral ternyata kantor Myanmar Time.


Saint Mary Cathedral selesai dibangun 1899 oleh arsitek Belanda. Bangunan terbuat dari batu bata merah dan terbesar yang ada di Myanmar.

Agen penjual tiket seorang nenek berambut putih yang ramah dengan bahasa Inggris yang bagus sekali. Si nenek sangat membantu kami, menelpon beberapa bus malam. Tiket JJ ke Bagan ternyata sudah habis untuk malam ini, jadi akhirnya kami beralih ke bus Mandalar Minn Express 15.500K setelah melewati beberapa pilihan. 
Bus berangkat pukul 7 malam dari Aung Mingalar Bus Station dan akan sampai di Bagan pukul 4 pagi esoknya. 

Hari sudah siang, tujuan berikutnya ke Shwedagon Pagoda. Kami disarankan untuk naik taxi saja (sepertinya selalu begitu, hampir tidak ada mau/bisa yang menjelaskan rute bus). Taxi 1.500K dari depan stasiun menuju Shwedagon.

Kami makan siang dulu di warung pinggir jalan depan pagoda dengan meja dan bangku kecil seperti untuk anak TK. Bihun Kari seharga 300K, cukup enak. Disediakan minuman teh dengan wadah keramik kecil untuk minum, namun kami perhatikan ternyata wadah itu tidak dicuci setelah dipakai langsung di balik saja...oo.... 


Memasuki gerbang Shwedagon Pagoda, kita harus membuka alas kaki, bahkan kaos kasi juga dilarang. Turis harus menitipkan sepatu/sandalnya di tempat penitipan dan wajib memberikan donasi serelanya. Warga Myanmar boleh membawa alas kakinya.

Mendaki tangga yang cukup panjang dan bersih, di kanan kiri berderet toko-toko suvenir sebelum loket tiket masuk pagoda. Tiket seharga 8 USD/ 8 EUR/ 8.000K, kami membayar dengan Kyat. Diberikan brosur tentang Shwedagon Pagoda.

Tepat setelah tiket dibeli, hujan deras sekali turun! Tidak memungkinkan untuk keliling pagoda tanpa basah kuyup. Jadi kami turun ke bawah lagi dan duduk-duduk di tangga sambil memperhatikan penjual toko suvenir berbagi makan siang, sampai terkantuk-kantuk.....


Setelah 1 jam kemudian.....pukul 1 lewat, hujan mereda namun masih rintik-rintik. Kami memutuskan untuk masuk. Komplek pagoda sangat luas. Memotret harus menggunakan payung, agak merepotkan juga.

Konon Shwedagon telah berusia 2.500 tahun. Terletak di puncak bukit Singuttara, terlihat sampai jauh. Berdiri megah, berkilau emas dengan tinggi 99,4 meter (326 kaki) dengan perimeter 432,8 meter (1.420 kaki). Bagian teratas terdapat berlian 76 karat. Sekelilingnya banyak aula untuk berdoa.


Di sekeliling pagoda terdapat sudut-sudut hari. Ternyata Myanmar menganut 8 hari dalam seminggu. Hari Rabu dibagi menjadi 2 yaitu Rabu pagi (a.m) dan Rabu sore (p.m) yang disebut Rahu.

Shwedagon sangat terjaga kebersihannya dengan banyaknya peziarah yang datang untuk berdoa. 

Lewat pukul 3 sore, kami buru-buru kembali ke penginapan dengan taxi 2.500K.
Sesampai di penginapan kami diperbolehkan untuk mandi dahulu, malah dipinjamkan handuk. Lalu kami berangkat ke terminal bus dengan taxi 8.000K, sekitar 1 jam perjalanan.

Kami makan malam di warung terminal, mi kuah chinese style. Btw, selama perjalanan kami di Myanmar mi yang kami makan tidak ada yang sama, jenis maupun rasanya. sepertinya masing-masing daerah atau punya resep yang berbeda.

Bus terlambat berangkat hingga 25 menit hanya karena menunggu 1 orang saja. Bus cukup nyaman, cukup dingin tapi disediakan selimut, 1 botol minum dan roti. Bus berhenti 1 kali sekitar jam 11 malam untuk istirahat dan makan sekitar 30 menit.

Malam kedua, tidur di bus menuju Bagan......


Myanmar Trip 2014 - Day 1 - Yangon

Tiket ke Myanmar kami beli pada bulan November'13, dengan menggunakan Tiger Air yang lebih murah dibandingkan Air Asia sejak AA menghapusan penerbangan tanpa bagasi. Meskipun tiket kami mengalami beberapa kali perubahan jadwal terbang, dikarenakan tutupnya penerbangan Jakarta-Singapore dengan Tiger Mandala serta kesalahan pengetikan nama dan perubahan nomor paspor, akhirnya semuanya dapat diselesaikan melalui telpon call center Tiger Indonesia, sebelum keberangkatan.

Keberuntungan lain menyertai dengan diberlakukannya bebas visa untuk pemegang paspor Indonesia berkunjung ke Myanmar. MOU ditanda tangani bulan Mei 2014 oleh kedua negara, namun secara resmi berlaku tanggal 9 Juni 2014, menurut keterangan yang kami peroleh dari Kedutaan Myanmar di Jakarta.

Dari Jakarta kami transit di Singapura (4 jam) sebelum ganti pesawat menuju Yangon. Mendarat di Yangon menjelang pukul 7 malam. Waktu di Myanmar lebih lambat 30 menit dibandingkan Jakarta. 

Bandara di Yangon terlihat baru dan bersih. Ada papan pemberitahuan daftar negara yang bebas visa dan negara yang perlu membuat Visa on Arrival (VOA). 
Form imigrasi tidak dibagikan di dalam pesawat layaknya negara lain, jadi kami harus berebut tempat untuk mengisinya sebelum keluar dari imigrasi.


Paspor distempel imigrasi, berlaku untuk 15 hari, mungkin karena kami menuliskan lama tinggal di Myanmar 11 hari.

Sebelum keluar dari bandara, ada 4 Money Changer berjajar. Beberapa blog yang saya baca menyarankan untuk menukar uang di bandara, karena rate yang bagus. Jadi kami tukar uang dari US$ ke Myanmar Kyat (MMK) yang dibaca Chat seperti kata chatting.

Kurs $ sedang tinggi saat kami pergi, dengan adanya pilpres di Indonesia. 1$ = IDR 11.665,-
1$ = 970 Kyat, jadi 1 Kyat sekitar Rp.12,- ;-( sedih ya.....

Karena sampai di Yangon sudah malam, maka kami memesan penginapan seminggu sebelum berangkat di Mother Land Inn 2 melalui website www.myanmarmotherlandinn.com dan dibalas melalui email. Alasannya terutama karena mereka menyediakan penjemputan gratis dari airport ke penginapan, disamping juga banyak yang merekomendasikannya.

Terdapat counter information sebelum keluar dari bandara, saya meminta peta dan ternyata sangat berguna sekali selama perjalanan kami, karena ternyata di kota lainnya tidak tersedia peta, kalaupun ada harus membelinya. Juga terdapat daftar harga untuk taxi, yang saya ingat untuk perjalanan 1 jam biayanya 8.000 K. Taxi di Myanmar tidak menggunakan argometer, harus tawar menawar. tidak semua taxi menggunakan AC dan tidak semua mobilnya bagus.

Di pintu keluar bandara kami menemukan penjemput kami dari penginapan. Di luar perkiraan kami, mobilnya bagus sekali, masih baru dan nyaman. Di Myanmar, kita harus berjalan di sisi kanan jalan. Namun mobil dan bus di Myanmar ada yang setir kanan maupun kiri, katanya tergantung beli dari mana....hahahaha.....
Agak berbahaya bagi penumpang untuk bus dengan setir kanan dan pintu di sebelah kiri.

Perjalanan dari bandara menuju penginapan sekitar 1 jam lebih. Kota Yangon sepertinya mulai bertambah maju, kami sempat melewati Shangri-la hotel. 

Yangon Map
Kami mendapatkan kamar untuk bertiga di lantai bawah dekat reseptionis, $42 jadi $14 per orang. Kamar ber-AC, 1 tempat tidur dobel dan 1 single, kamar mandi di dalam, termasuk sarapan. Bagunan sepertinya sudah cukup tua hanya baru di cat ulang saja. 

Selesai berberes, hari sudah lewat dari pukul 9 malam, kami disarankan untuk makan malam di night market dengan taxi, 2.500 K, hanya sekitar 10-15 menit saja. 

Kami memutuskan untuk makan mie ayam (1.500K) dan bacang (1.500K). Makanan cukup enak dengan ayam 1/4 utuh, hanya saja mie-nya terlalu lembek untuk selera kami. Porsinya cukup besar,namun karena lapar, habis juga semangkuk hehehe....

Selesai makan kami memutuskan untuk melihat-lihat pasar sambil jalan pulang. Pasar masih ramai. Berbagai barang dan buah-buahan segar dijual. Jenis buah-buahan sama dengan yang ada di Indo, seperti mangga, jambu, jeruk bali, manggis, pisang, durian, dll. Harga hampir sama dengan Jakarta. 

Kami sempat kehilangan arah, mana hujan lagi. Sepanjang perjalanan bertanya ke orang-orang dengan menunjukkan kartu nama MLI2, tak ada satupun yang menunjuk ke arah yang sama, semua menyarankan kami naik taxi saja. Akhirnya kami menyerah berjalan kaki dan naik taxi balik ke penginapan. Hari menjelang pukul 12 malam, namun orang-orang Yangon masih berada di jalanan bahkan anak-anak masih bermain bola. Mungkin mereka masih ingin menikmati kebebasannya, setelah selama itu terkungkung.....

Goodnight Yangon..... see you in the morning....

TIPS:

  • Tukar uang Kyat secukupnya untuk transportasi, makan, selain penginapan.
  • Jika kurs Kyat kurang dari 1.000 untuk 1$, bayar penginapan dan Zone Admission Fee dengan $
  • Bawa uang $ yang bagus, tidak kusut, beberapa penginapan sangat memperhatikan hal ini.
  • Turis harus membayar Zone Admission Fee (entry fee) untuk Bagan ($15), Inle ($10) dan Mandalay ($10) dengan USD atau EUR. Jika membayar dengan Kyat maka dikalikan 1.000,-
  • Harga penginapan dan transportasi makin meningkat pada 2014, jadi harga buku/informasi terbitan sebelumnya tidak dapat dijadikan pegangan.
  • Jaringan data di Myanmar tidak terlalu bagus, jadi jangan berharap terlalu banyak dengan wifi yang tersedia.
  • Pada low season, kita bisa menawar harga penginapan, jika kita go show. High season kunjungan di Myanmar pada bulan Oktober - April.



2014/08/05

Myanmar Trip July-Augustus 2014

Libur lebaran kali ini kami (saya dengan 2 teman) berkunjung ke Myanmar. Kami beruntung karena saat kami pergi, pemegang paspor Indonesia sudah bebas visa Myanmar. MOU ditandatangani kedua negara pada bulan Mei 2014, namun resmi mulai berlaku bebas visa tanggal 9 Juni 2014. Tiket Tiger Air ke Myanmar kami beli November tahun lalu.

Berikut itinerary kami di Myanmar selama 11 hari.

Myanmar Trip Route

Day 1 : Jakarta - Singapore - Yangon

  • Tiger Air CGK - SIN  9.45 - 12.40
  • Tiger Air SIN - RGN  17.05 - 18.25
  • Sleep at Motherland Inn triple room (free pick up from airport, AC, bathroom inside & breakfast include) $42

Day 2 : Yangon

  • Explore Yangon
  • Night bus Yangon to Bagan 9 hours (Mandalar Minn Express) --> 15.500 Kyat

Day 3 : Bagan on foot

  • Explore Bagan on foot
  • Sleep at Saw Nyein San Guesthouse triple room (AC, bathroom inside & breakfast include) $35

Day 4 : Bagan cycling

  • Bagan cycling
  • Sleep at Saw Nyein San Guesthouse triple room (AC, bathroom inside & breakfast include) $35 

Hari 5 : Mount Popa

  • Mount Popa with rental car --> 36.000 Kyat for 3 people
  • Night Bus Bagan to Mandalay (4 hours) --> 8.000 Kyat

Day 6 : Mandalay, Sagaing, Inwa, Amarapura

  • Mandalay, Sagaing, Inwa, Amarapura with rental car --> 33.000 Kyat for 3 people
  • Sleep at Nylon Hotel, Mandalay, triple room (AC, bathroom inside & breakfast include) $30 

Day 7 : Mandalay

  • Explore Mandalay
  • Night bus Mandalay to Nyaung Shwe for Inle (Shwe Nan Taw) 8 hours --> 10.500 Kyat

Hari 8 : Inle Lake by boat

  • Inle lake by boat --> 12.000 Kyat for 3 people
  • Sleep at Teakwood hotel triple room (Fan, bathroom inside & breakfast include) $30

Day 9 : Inle trekking

  • Trekking to Cave monastery & Red winnery at red mountain
  • Sleep at night bus Nyaung Shwe to Yangon (JJ Express) 12 hours --> 24.000 Kyat (include dinner)

Day 10 : Yangon

  • Explore Yangon on foot
  • Sleep at Okinawa 2 Guesthouse triple room (AC,breakfast, share bathroom) $30

Day 11 : Yangon - Singapore

  • Explore Yangon on foot
  • Sleep at Changi

Day 12 : Singapore - Jakarta

Cerita selengkapnya di tulisan berikutnya............




2013/12/23

Perpanjangan Paspor One Day Service di Jakarta

Sebagai traveler dan warga dunia, paspor merupakan dokumen perjalanan dan identitas diri yang wajib dimiliki. Dengan persyaratan penggunaannya harus masih berlaku sekurang-kurangnya 6 bulan hingga tanggal keluar dari negara yang kita kunjungi, maka perpanjangan paspor dapat dilakukan 6 bulan sebelum jatu tempo paspor.

Kali ini saya memperpanjang paspor saya di Kantor Imigrasi (Kanim) Jakarta Barat yang menyediakan layanan one day service untuk perpanjangan paspor, bersama dengan Kanim Jakarta Pusat. Domisili saya di Jakarta Selatan, kenapa memilih Jakarta Barat? Karena transportasinya mudah, dapat dicapai dengan Trans Jakarta (TJ) turun di halte Jakarta Kota. Dari situ keluar menuju Stasiun Kota (Beos). Jalan menyusuri Beos, melewati Kantor BNI46 lalu Museum Seni dan Keramik, sampailah di Kantor imigrasi Jakarta Barat yang tersembunyi diantara Museum Keramik dan Kantor Pos Besar Kota. Langsung menuju belakang gedung Imigrasi, lewat samping.

  1. Persiapkan dokumen yang diminta dan fotocopy dalam ukuran kertas A4, termasuk KTP dan paspor lama juga pada kertas A4, jangan dipotong dan jangan fotocopy bolak-balik, per lembar saja. Hal ini untuk memudahkan proses scan yang dilakukan oleh pihak imigrasi. Persyaratan perpanjangan paspor klik disini, kalau dari website Imigrasi Jakarta Barat disini.
  2. Mendaftar secara online disini. Pilih pendaftaran personal, lalu isi seluruh data yang diminta. Selesai mengisi data, pilih Kantor Imigrasi. Saat tulisan ini dibuat baru tersedia Jakarta Barat dan Jakarta Pusat saja. Lalu pilih jadwal yang kita inginkan, tanggal dan jamnya, tersedia pilihan jam 8,9,10,11,13 masing-masing jam tersedia kuota untuk 10 orang saja. Setelah selesai, maka akan otomatis dikirimkan Tanda Terima Pra Permohonan ke email yang kita daftarkan, berisi username dan password, serta jadwal kehadiran kita. Data kita masih dapat diubah sampai H-1 dari jadwal yang kita pilih. Cetak Tanda Terima dan bawa saat perpanjangan.
  3. Pada hari H. Datang ke Kantor Imigrasi sebelum jamnya. Jadwal yang saya pilih jam 8 pagi. Saya datang jam 7 pagi, tetapi sudah ada belasan orang yang datang.
  4. Lakukan aktivasi permohonan di mesin antrian yang tersedia, dengan memasukkan nomor yang tercantum pada lembar Tanda Terima Pra Permohonan. Aktivasi jangan sampai melewati waktu yang tercantum pada Tanda Terima. Jika lewat, maka terpaksa kita harus mengambil antrian walk-in. Keuntungan kita mendaftar secara online adalah kita akan mendapatkan nomor antrian yang telah dicadangkan untuk kita, misalnya untuk jadwal jam 8 pagi, nomor antrian kita antara 1-10.
  5. Ambil dan isi formulir perpanjangan paspor di loket. Ini seharusnya bisa dihilangkan untuk pendaftar online dengan menyediakan fasilitas print formulir di website, sebab data yang diminta di Formulir sama dengan data yang kita input saat registrasi. Pada saat saya datang memperpanjang paspor, petugasnya belum datang dan tidak ada yang tahu Formulir disimpan dimana, sampai pukul 8.20 baru saya mendapatkan Formulir....;(
  6. Antri di loket 1 day service khusus online untuk verifikasi dokumen. Ada 1 loket untuk online dan 2 loket untuk walk-in. Masih sedikit orang yang mendaftar secara online, hingga antrian lebih pendek. Verifikasi dokumen memakan waktu antara 10-20 menit per orang tergantung kelengkapan dokumen kita. Si bapak petugas sepertinya membaca detail dokumen dan mencocokkan antara asli dan fotocopy.
  7. Nomor antrian kita akan dipanggil untuk pembayaran lebih dahulu baru wawancara. Saat ini pembayaran dapat dilakukan sebelumnya di BNI46, berlaku selama 7 hari kerja sejak tanggal pembayaran, jika lebih dari 7 hari maka harus membayar lagi. Saya mendapat nomor 90 (saya terlambat aktivasi, jadi ikut antrian walk-in). Saat saya menunggu, antrian baru sampai nomor 70, 20 menit kemudian saya dipanggil untuk membayar, rp.255 ribu untuk paspor biasa 48 halaman, rp.200 ribu untuk paspor dan 55 ribu untuk proses biometrik. untuk e-pasport 48 hal rp.600 ribu, cukup mahal ya.... selengkapnya lihat disini atau disini.
  8. Nomor antrian kita akan dipanggil untuk wawancara. Setiap loket terdiri dari 3 meja. Meja pertama, paspor lama dan sidik jari kita di-scan, dan diberi beberapa pertanyaan, misalnya rencana mau pergi kemana? Lahir dimana? seperti itulah. Meja kedua, dokumen kita akan di-scan dan disimpan di sistem mereka, ditambah beberapa pertanyaan lagi, tergantung petugasnya. Meja ketiga foto dan tanda-tangan, untuk dicetak di paspor baru. Terakhir kita diberi tanda-terima pengambilan paspor yang dapat diambil esok hari. Menurut info yang saya baca, jika proses selesai sebelum pukul 12 siang seharusnya dapat diambil pukul 15.30 hari yang sama, tapi untuk amannya besok pagi saja. Selesailah proses perpanjangan paspor one day service. Proses wawancara sampai foto seharusnya hanya sekitar 10-15 menit saja, namun komputer di loket saya mengalami masalah, dan tidak bisa dialihkan ke loket lainnya, saya harus menunggu komputer diperbaiki ;(............
Keseluruhan proses pada hari H ( no.3 - 8) yang saya lakukan memakan waktu kurang dari 2 jam, itupun sudah termasuk keterlambatan mendapatkan formulir permohonan, keterlambatan saya melakukan aktivasi antrian dan waktu menunggu perbaikan komputer di proses wawancara.

Kantor imigrasi perlu diacungi jempol untuk kemajuan layanannya, one day service, registrasi online, pembayaran melalui Bank, semoga hal ini mengurangi pungutan liar dan lebih tertib serta pelayanan yang lebih berpihak kepada masyarakat. Meski saya melihat masih banyak calo atau agen beredar mengurus dokumen.

Akan lebih baik lagi jika Formulir Permohonan Perpanjangan Paspor dapat dicetak sendiri oleh pendaftar online, sehingga tidak perlu antri mengambil formulir dan mengisi data lagi, akan lebih mempercepat proses. Menambah loket verifikasi dokumen, jika memungkinkan.

Esok harinya.......
Sebelum jam 8 pagi, saya sudah sampai di Kanim Jakbar, harapan saya, paspor baru sudah bisa diambil sesuai yang dijanjikan. Loket pengambilan paspor baru buka 8.15, dan ternyata.......paspor saya belum jadi.....waduh padahal saya ambil pagi-pagi agar saya tidak perlu ijin lagi dari kantor. Kata si mbak yang jaga, datang lagi jam 2 siang....

Seharusnya Kanim dapat memperhitungkan kapan paspor siap diambil, dan memberitahukan ke pemohon pukul berapa bisa diambil, supaya tidak bolak-balik datang dan service level 1 day service dapat terpenuhi.

Hari kerja berikutnya.....
Terpaksa balik lagi hari kerja berikutnya untuk mengambil paspor di loket pengambilan paspor one day service dengan menyerahkan tanda terima. Jika kita menginginkan paspor lama, maka harus membuat surat pernyataan dengan meterai rp.6.000,- Paspor baru harus difoto copy halaman depan dan belakang yang ada informasi pemegang paspor. Surat pernyataan harus diminta di bagian fotocopy yang jadi satu dengan kantin. Sebaiknya siapkan meterai, sebab dijual rp.8.000,-. Fotocopy rp.500,- per lembar.

Akhirnya saya mengantongi paspor baru dan lama, siap untuk traveling berikutnya hehehe....

2013/12/05

Thailand Trip Nov'13 - Day 6 - Bangkok

Hari ke-6 trip, kami jalan bareng teman kami Ati, dia menginap di dekat Democracy Monument (DM) dan sempat menyaksikan ratusan orang demo persis di depan hotelnya. Setelah kami berdua sempat keliling sana-sini mencari hotel Ati dan tidak ketemu juga, setiap orang memberi arah yang berbeda ;(.............akhirnya kami ketemu juga di MC Donald depan DM. Untuk sarapan saya coba spinach pie (29 thb), di Jakarta tidak ada... yam-yam....enakkkk.....

Ini foto situasi DM waktu demo berlangsung (before) dan pada hari kami di situ (after)

Democracy Monument

Target kami hari ini adalah mengunjungi Vimanmek Palace, istana yang terbuat dari kayu tanpa paku, MBK dan Asiatique. Kami bertiga sudah pernah ke Bangkok, jadi destinasi wajib seperti Grand Palace, Wat Arun, Wat Phra Kaew, Wat Pho sudah pernah kami kunjungi. Sebenarnya destinasi tersebut bisa dikunjungi dengan berjalan kaki dari Khaosan.

Kami mencari tahu bus ke Vimanmek, beberapa orang memberikan nomor bus yang berbeda-beda, lalu ada yang bilang bahwa area sekitarnya diblokir oleh polisi dan militer sehubungan dengan demonstrasi, jadi tidak memungkinkan untuk ke sana.

Hari sudah siang, jadi kami putuskan untuk makan siang dulu di foodcourt Siam Paragon, tempat makan favorit Ati. Kami naik tourist boat, kapal berbendera biru dari dermaga Phra Arthit, dermaga terdekat dengan area Khaosan. Tiket sekali naik 40 thb, sebenarnya ada kapal umum berbendera oranye tapi kata penjual tiket, masih 1,5 jam lagi lewat. Hari mendung dan mulai gerimis.

Perjalanan boat menuju Central Pier (Saphan Taksin) di sungai Chao Praya melewati  Grand Palace, Wat Phra Kaew (Emerald Budha) & Wat Pho di sebelah kiri,Wat Arun di sebelah kanan. Dari dermaga kami ganti naik BTS Saphan Taksin turun di Siam station.




Saya memesan Tom Yum Duck (70 thb), ternyata enak juga.....tidak harus seafood.
Selesai makan, kami belanja oleh-oleh makanan di Gourmet Market yang ada di lantai yang sama dengan foodcourt, berbagai macam manisan dan kacang-kacangan, sepertinya tidak ada di tempat lain.

Dari Siam Paragon, kami jalan kaki ke MBK, tidak jauh hanya 10-15 menit saja. Di MBK hanya melihat-lihat, sedikit belanja bumbu tom yam, kripik durian, mi instan rasa tom yum.

Tujuan selanjutnya ke Asiatique, tempat wisata belanja, makan, santai duduk-duduk di tepi sungai Chao Praya. Kami naik BTS dari National Stadium yang dapat diakses dari MBK, turun di Saphan Taksin. Lalu naik free boat menuju Asiatique.

Sampai di Asiatique, hari mulai hujan. Di Asiatique, tersedia bangku-bangku menghadap ke sungai, toko-toko kecil yang dikelompokkan dengan nama warehouse dan diberi nomor, di tengah-tengah ada area untuk makan dengan berbagai macam hidangan.



Sambil menunggu hujan reda, kami bertiga mampir untuk massage, tarifnya 1 jam 300 thb. Hari sudah gelap saat kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Naik free boat ke Saphan Taksin, lalu naik tourist boat ke Phra Arthit. Tourist boat satu-satunya yang masih beroperasi hingga pukul 11 malam.

Penerbangan kamli kembali ke Jakarta pukul 11.25, dengan adanya demonstrasi yang masih berlangsung di berbagai tempat, kami tidak berani ambil resiko naik bus, takut terlambat sampai bandara DMK. Semula kami akan naik shuttle bus yang ada di Khaosan/ Rambuttri dengan harga mulai 100-150 thb per orang, dijemput di penginapan dengan jam keberangkatan pukul 6, 8, 10 dan seterusnya setiap 2 jam. Namun ternyata sudah full book sampai pukul 3 sore. Mau tidak mau kami harus naik taxi, kabarnya supir taxi juga ikutan demo, jadi tidak banyak taxi yang beroperasi. Kami putuskan untuk booking saja, jadi ada dapat kepastian taxinya. Menurut info palig mahal harusnya 400 thb, namun kami harus menyerah dengan 550 thb, gara-gara demo.

Kami dijemput pukul 6.30 pagi, perjalanan menuju DMK sempat macet dan berhenti di satu jalan selama 30 menit. Jika tidak macet, sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh.
Kami sampai di bandara dengan aman, waktu keberangkatan masih cukup. Barang bawaan kami aman bisa lewat, karena kami khawatir kelebihan berat, kami tidak membeli bagasi. Masih sempat beli coklat M&M berbagai rasa yang tidak ada di Jakarta. Mendarat di Jakarta dan sampai di rumah dengan selamat. Selesailah trip Thailand kami kali ini............kembali ke rutinitas sehari-hari lagi......cari uang untuk trip berikutnya hahahaha............





Thailand Trip Nov'13 - Day 4 & 5 - Sukhothai - Phitsanulok - Bangkok

Kami check out dari Noble House pukul 6.45 pagi. Kami naik angkot dari Chiang Mai Gate ke terminal bus Arcade (40 thb), hari masih pagi, hanya perlu 20 menit saja sudah sampai.
Kami membeli tiket bus AC ke Sukhothai pukul 8 pagi, 239 thb. Diperlukan waktu 5 setengah jam untuk sampai di terminal Sukhotai, sekitar pukul 13.30.

Terminal bus Sukhothai sangat sepi, kami bertanya ke information bagaimana menuju penginapan kami, sekalian mencari info bus menuju Phitsanulok untuk esok hari. Kami hanya tinggal semalam di Sukhothai, ingin mengunjungi Sukhothai Historical Park.

Akhirnya semua penumpang naik songthaew dengan tarif jauh dekat 40 thb. Ternyata kami yang pertama turun, letak penginapan tidak jauh dari terminal bus, sekitar 10 menit saja.

Kami menginap di EZ House, kamar terletak di lantai 3 di atas cafe EZ. Kamar untuk berdua dengan AC dan kamar mandi di dalam, 400 thb. Namun diminta uang jaminan kunci 200 thb yang akan dikembalikan saat kami check out. Bagian luar kamar memang tidak bagus, namun kamar cukup nyaman dan bersih, ditambah wifi yang cukup kencang. Masuk melalui samping cafe dengan pintu di bagian belakang cafe.

Hari sudah sore jadi tidak cukup waktu untuk menjelajah Sukhothai Historical Park (SHP). Kami memutuskan untuk istirahat dan memanfaatkan wifi.

Kami berkenalan dengan Pegy dari Kuala Lumpur yang menginap di EZ House juga. Sekitar magrib kami bertiga keluar jalan-jalan sambil cari makan. Direkomendasikan untuk makan Sukhothai noodle, kami diberitahu kalau rumah makannya tidak jauh dari penginapan. Tenyata hanya tersedia pork noodle saja, kami akhirnya makan padthai di pinggir jalan, rasanya lumayan, hanya 20 thb saja. Hari ke-4 kami habiskan jalan-jalan sekitar penginapan saja.



Hari ke-5
Sukhothai terbagi menjadi 2 area, New Sukhothai dan Old Sukhothai, dimana Sukhothai Historical Park berada. Kami check out pagi-pagi pukul 6.30 karena batas waktu check out pukul 11. Ternyata cafe belum buka jadi kami titip kunci dan tas kami di kamar Pegy yang tinggal semalam lagi.

Dari seberang penginapan kami menunggu angkutan ke Old City, berupa truk kayu tua dengan bangku panjang berhadapan. Kami jalan perlahan-lahan, sambil menunggu truk lewat, akhirnya truk datang juga. Beberapa anak sekolah dan ibu-ibu juga naik truk.

Kami diturunkan persis di depan salah satu pintu masuk SHP bagian tengah, Kamphaeng Gate, kami membayar 30 thb. Kami membeli tiket masuk 100 thb. Kita boleh masuk dengan sepeda, motor, tuk-tuk atau mobil dengan harus membayar tambahan 20/30/50 thb lagi. Belakangan baru kami lihat ada beberapa tempat penyewaan sepeda di seberang pintu masuk.

Waktu kami terbatas, paling lambat pukul 11.30 kami sudah harus sampai di penginapan lagi untuk ke Phitsanulok, dimana kami akan naik pesawat Nok Air menuju Bangkok.
Dengan waktu terbatas, maka kami harus memilih yang akan kami lihat. Kami memutuskan paling tidak melihat King Ramkhamhaeng Monument, Wat Mahathat, Wat Saphan Hin dan Wat Si Chum.

SHP terbagi menjadi 5 area: tengah, barat, timur, utara dan selatan. Kami mulai dari bagian tengah. King Ramkhamhaeng Monument dan Wat Mahathat ada di bagian tengah. Hari masih pagi, jadi cukup nyaman untuk berjalan kaki. Ternyata kami bukan yang pertama datang, ada yang lebih pagi lagi, mungkin mereka menginap di area Old City.


Sukhothai Historical Park Map



Kami keluar dari area tengah melalui Or Gate. Ternyata masing-masing area harus membayar 100 thb. Kami memutuskan untuk menuju Wat Saphan Hin lebih dahulu, yang termasuk area Barat, menurut penjaga sekitar 3 km. Kami pikir masih cukup waktu.

Area Barat SHP tidak berpagar, beberapa rumah penduduk terlihat disepanjang perjalanan kami. Area ini bagus untuk trekking, karena sepanjang jalan, akan terlihat Wat, ladang, hutan dan rumah penduduk. Wat Saphan Hin berada di kaki bukit dan merupakan Wat terakhir di area Barat. Kami sampai setelah berjalan sekitar 1,5 jam dari Or Gate.

Sepertinya rencana ke Wat Si Chum harus dibatalkan, karena waktu sudah menunjukkan lewat pukul 10. Kami berjalan kembali area Tengah untuk kembali naik truk. Sebenarnya diperjalanan kami melewati Wat Si Chum namun jalan masuk dari jalan raya cukup jauh untuk jalan kaki.



Rupanya keputusan kami salah, harusnya kami ke Wat Si Chum lebih dahulu dari Or Gate. Menurut foto Wat Si Chum sangat spektakuler patung Budha-nya. Ini foto yang saya ambil dari internet.

Wat Si Chum Budha

Saran saya, jika anda hanya punya waktu setengah hari, sewa sepeda lalu jelajahi area Wat Si Chum baru ke area tengah. Jika punya waktu seharian bisa ditambah area barat.

Kami sampai di penginapan lagi sekitar pukul 11. Mengambil tas kami di kamar Pegy, minta jaminan kunci. Ternyata pemilik penginapan berbaik hati mengantar kami ke teminal bus bersama 2 orang lainnya, dan kami diberi kue sagu ;p.

Keberuntungan masih menyertai kami, sesampai di terminal, ada van ke Phitsanulok yang langsung berangkat. 1 jam kemudian sampailah kami di terminal bus Phitsanulok.

Kami keliling terminal untuk cari makan siang, namun rupanya tidak ada yang cocok. Akhirnya kami makan ayam bakar, ketan dan salad pepaya. Berdua 100 thb, sudah termasuk 3 potong ayam dan 1 sate hati ayam bakar.

Kami diskusi dahulu apakah akan jalan-jalan di kota Phitsanulok atau langsung ke airport. Di kota Phitsanulok ada Phitsanulok Tour Tramway (PTT), yang merupakan cara cepat melihat kota. Dengan durasi 45 menit, dimulai dari Wat Yai akan berhenti di 15 lokasi dan kembali ke tempat semula.

Pesawat Nok Air kami dari Phitsanulok ke Bangkok (DMK) pukul 18.10. Jam menunjukkan waktu jam 1 lewat. Kami memutuskan untuk langsung ke airport saja. Tidak ada angkutan umum dari terminal ke airport. Kami harus naik taxi atau sewa van/tuk-tuk.

Tidak banyak yang bisa berbahasa Inggris, namun akhirnya ada seorang ibu tua bertanya kami mau kemana. Airport, kami bilang. Lalu dia bilang 150 thb berdua. Dia menunjuk mobil pick-up yang parkir berjajar. Kami tawar tapi dia bilang tidak bisa. Akhirnya kami setuju, dan ternyata......dia sendiri menyetir mobilnya.....keren gak sih....hehehehe....

Sekitar 30 menit sampailah di airport Phitsanulok. Disambut oleh petugas Nok Air di pintu masuk, dia siap dengan troli, tapi kami hanya membaya ransel jadi tidak perlu troli.
Dengan komputer tabletnya, dia minta tiket kami untuk di-check in, wah.....baru kali ini nih dapat layanan seperti ini.

Booking kami tidak ditemukan, ternyata.....pesawat kami jam 18.10 batal terbang. Kami dibawa ke loket dan ditawari untuk penerbangan jam 14.40.....hahaha....kami memang berniat untuk minta seperti itu, untung malah ditawari. Dengan begitu sampai di Bangkok masih sore. Penerbangan hanya 1 jam saja. Kami dapat tiket promo Nok Air melalui internet, sebulan sebelumnya dengan harga 1.142 thb. Kurs saat kami pergi 1 thb = Idr 370. Layanan Nok Air memuaskan, wifi di bandara sangat kencang, cukup memasukkan kode booking saja. Di pesawat dibagikan roti Auntie Anne's, enak....

Di DMK, kami mendapat informasi bahwa akan sulit mengakses Khaosan karena demonstrasi di sekitar Democracy Monument. Kami sudah booking kamar di Green House yang berada di jalan Rambuttri, letaknya di sebelah jalan Khaosan. Jadi kami nekat naik bus menuju ke sana. Dengan bus AC nomor 59, kami tunjukkan print booking hotel kami ke kondektur bus, seorang ibu agak tua. Kami tidak tahu harus turun dimana, pasrah saja. Ibu kondektur juga bingung, bus tidak sampai ke Khaosan karena demo. Tarif bus 59 tergantung jarak, jadi si ibu harus tahu kami akan turun di mana. Akhirnya kami dikenakan 19 thb/orang. Kami diturunkan di Chatuchak, si ibu menulis di kertas booking hotel kami nomor bus 524 dan tempat turun kami dengan tulisan Thai.

Kondektur bus 524 seorang perempuan muda, dia mengangguk saat saya tunjukkan tulisan ibu tadi, kami berasumsi bahwa dia akan memberitahu kami jika sudah sampai tujuan sesuai tulisan. Tarif bus 15 thb. Dengan menembus kemacetan kota Bangkok, kami melihat banyak demontran di jalan-jalan, kabarnya demonstrasi sudah terpecah di beberapa titik, bukan hanya di Democracy Monument. Hari sudah gelap, kami bertanya-tanya kapan sampainya ya..... Ternyata oh ternyata di mbak kondektur lupa kepada kami sampai di pemberhentian bus terakhir, sepertinya tidak jauh dari Grand Palace. Tempat kami turun terlewatkan, jadi kami harus naik 524 lagi arah sebaliknya.

Kali ini kondekturnya ibu tua, dia memberitahu kami dimana kami harus turun. Ongkos bus 11 thb. Total perjalanan dari DMK sampai kami turun dari bus, sekitar 2 jam.

Kemana arah menuju hotel, kami tidak tahu. Beruntung kami menemukan Tourist Information. Kami harus jalan sampai perempatan lalu belok kanan, kami harus tanya orang lain lagi.

Setelah orang ke-4 barulah kami sampai di Green House, penginapan kami.
Lokasinya jadi satu dengan restoran. Kamar-kamar ada di atas restoran dan cafe. Kamar AC untuk berdua dengan kamar mandi dalam, untuk 2 malam 998 thb. Uang jaminan kunci 500 thb, yang akan dikembalikan saat check out. Kamar cukup lumayan, lebih kecil dari kamar kami sebelumnya, untung hingar-bingar dari luar tidak terdengar sampai kamar.
Pelayanan Green House sangat buruk, kami tidak diberitahu arah kamar sampai kami tersesat karena lokasi kamar terpencar-pencar di dalam restoran dan cafe, air minum di kamar hanya diberikan hari pertama saja, air AC di kamar bocor, wifi tidak bisa diakses dari kamar. Wah gak lagi-lagi deh menginap disitu.

Kami menghabiskan malam dengan jalan-jalan di seputaran Rambuttri dan Khaosan yang penuh dengan turis. Suasananya hingar bingar mirip Kuta, Bali. Kami makan chicken noodle yang enak sekali di ujung jalan Rambuttri, semangkuk 40 thb.

Bersambung.......Day 6

2013/12/03

Thailand Trip Nov'13 - Day 3 - Chiang Rai - Golden Triangle - Mae Sai - Karen Tribe

Pukul 7.15 kami sudah dijemput dengan Van. Di dalam van sudah ada 2 orang, kami masih berkeliling menjemput beberapa orang peserta tur lainnya hingga total 13 orang, ditambah pemandu dan supir jadi 15 orang. Pemberhentian pertama di Chiang Rai Hot Spring, sumber air panas yang memancar naik, berada di tengah-tengah pasar yang sengaja dibuat untuk turis, sehingga terasa tidak alami. Kami diberi waktu 30 menit untuk berkeliling dan mencoba merendam kaki di bak-bak yang diisi air dari hot spring, disarankan tidak lebih dari 10 menit saja.

a
Hot Spring Chiang Rai
Destinasi berikutnya Wat Rong Khun atau White Temple, kuil berwarna putih yang dibangun oleh Ajarn Chalermchai Kositpipat beserta pengikutnya, dengan dana pribadi. Beliau memilih warna putih, berbeda dengan kuil lain yang umumnya berwarna emas. Bangunan toiletnya berwarna emas. Wat Rong Khun, bebas biaya masuk, siapapun dipersilakan datang berkunjung.

Bentuk bangunan dengan ukiran yang sangat rumit, sangat cantik, apalagi dengan latar belakang langit biru. Untuk masuk ke kuil, kita melewati jembatan, dimana seolah-olah kita melewati ladang kengerian, dimana tangan-tangan muncul dari bawah menggapai.
Dinding di dalam kuil dipenuhi lukisan, anehnya terdapat karakter Doraemon, Superman, Spiderman, Ultramen, dll. Dalam salah satu tulisan, beliau mengatakan bahwa beliau ingin menyampaikan bahwa sebenarnya superhero itu tidak ada untuk menyelamatkan dunia namun kita memang membutuhkan pahlawan karena kemerosotan moralitas. Sayangnya kita tidak diperbolehkan memotret sisi dalam kuil.

Wat Rong Khun - White Temple

Wat Rong Khun - White Temple
30 menit telah berlalu, kami melanjutkan perjalanan menuju Golden Triangle yaitu Chiang Sen border. Kami menggunakan boat untuk mengelilingi lokasi Golden Triangle melalui Sungai Mekong. Boat trip tidak termasuk dalam paket yang kami ambil, jadi kami harus membayar lagi ongkos perahu 300 thb dan 30 thb untuk pajak masuk Donesao Island, pasar di perbatasan wilayah Laos.



Boat trip dimulai dengan melewati Chiang Saen border (Thailand) dimana terdapat patung Budha besar, lalu perbatasan Myanmar dimana terdapat kasino pertama yang didirikan di Golden Triangle. Di tengah-tengah terdapat pulau kecil yang tidak dimiliki oleh  negara manapun (no man's land), disinilah tempat perdagangan opium.  Perjalanan berlanjut  menuju perbatasan Laos melewati kasino Romans King yang baru diresmikan. Kami berlabuh di Donesao Island, pasar yang menjual suvernir, kami harus membayar pajak 30 thb. Transaksi disini menggunakan thb meskipun mata uang Laos adalah Kip, 1 thb = 250 kip. Saya membeli beberapa kaos dengan gambar peta Golden Triangle di sini, saya penggemar peta ;p. Ternyata kaosnya buatan Thailand. Penjual kaos, seorang bisu namun tidak menghalangi komunikasi kami yang menggunakan bahasa tangan dan kalkulator hahaha.....

Kami hanya diberi waktu 30 menit, jadi tidak lama harus kembali ke perahu. Perjalanan kembali ke dermaga selama 30 menit, jadi total 1,5 jam kami habiskan di sini.

Golden Triangle

Golden Triangle

Donesao Market, Laos
Kami makan siang hampir jam 2 siang, sudah termasuk dalam paket tur. Makan siang prasmanan, ada menu barat dan Thai, sayangnya buah-buahan cepat habis, sebab banyak rombongan tur yang datang makan siang.

Mae Sai, perbatasan Thailand dengan Myanmar (Tachilek) yang dipisahkan oleh sebuah jembatan merupakan tujuan kami selanjutnya. Separuh jembatan milik Thailand, separuh lagi milik Myanmar, hanya selompatan saja kita bisa mengunjungi 2 negara ;D.

Disini kami hanya diberi waktu 30 menit untuk melihat-lihat. Jika ingin menyeberang ke Myanmar, harus melewati imigrasi dan membayar visa 500 thb.Saya dan teman saya tidak menyebrang, karena waktu yang singkat, selain teman saya juga tidak membawa paspornya yang masih ditahan di tempat sewa motor. Namun kami dapat melihat jembatan dari sisi Thailand melalui jalan kecil di pasar. Toh nantinya kami akan mengunjungi Myanmar, jika ada kesempatan. Semoga....

Mae Sai  (Thailand-Myanmar Border)
Mae Sai, kota perbatasan yang sangat ramai, saya rasa begitulah seharusnya. Bahkan pembatas jalan yang hanya setengah meter saja jadi tempat berdagang, mobil tidak ada tempat parkir sehingga harus putar beberapa kali sambil menunggu peserta tur kembali.
Penduduk di perbatasan Mae Sai sepertinya menikmati kesejahteraan yang sama dengan kota lainnya. Saya berharap kota-kota perbatasan kita juga bisa demikian, bukan hanya berita menyedihkan saja yang terdengar. Thailand sangat pandai mengemas pariwisatanya, kita bisa belajar dari mereka.

Destinasi terakhir trip adalah mengunjungi suku Akha, Palong dan Karen yang terkenal dengan leher dan telinga panjang. Saya kira lokasi masing-masing suku di tempat yang berbeda, ternyata berada di satu tempat saja, jumlah mereka tidak terlalu banyak tapi untung saya masih melihat bayi dan anak-anak, artinya mereka belum akan punah. Mereka menjual kerajinan tangan. Suku Karen berasal dari Burma/Myanmar, mereka menjual kain hasil tenunan. Semua orang sepertinya sadar kamera, siap untuk difoto.


Karen Tribe (long neck, big ears)
Perjalanan kembali ke Chiang Mai, semuanya tertidur. Sampai di CM sekitar jam 20.30. Kami diantar kembali ke hotel. Ternyata lokasi Saturday Walking Market tidak jauh dari penginapan, hanya di ujung jalan saja, jadi kami menaruh barang-barang di hostel, ganti sandal dan keluar lagi ke pasar sabtu malam. Berbelanja sedikit dan mencoba beberapa makanan. CM punya 3 pasar malam di lokasi yang berbeda: Night Bazaar (setiap malam), Saturday Walking Market (sabtu malam, Wualai road, tidak jauh di depan CM Gate), Sunday Walking Street (minggu malam, Ratchadamnoen street, di dalam kota tua).
Di jual berbagai macam kerajinan tangan, suvenir, makanan dari seafood sampai serangga. Sempatkan mengunjunginya, meskipun hanya melihat-lihat, nikmati berjalan-jalan di malam hari sambil mencoba cicipi makanan lokal. Kami sempat mencoba sate cumi bakar dan salad mangga yang asam pedas.

Wualai road - Saturday Walking Market
Malam sebelum tidur, kami mendapat kabar dari teman kami yang berada di Bangkok melalui Skype bahwa Bangkok penuh dengan demonstran, tepatnya di sekitar Democracy Monument. Kebetulan teman saya menginap persis di depannya. Katanya mereka demo sampai pagi, ramai sekali sampai tidak bisa tidur. Kami berdoa supaya saat kami kembali ke Bangkok, demo sudah reda. Amin.....

Bersambung...... Day 4